Laris Manis-nya Berita Hoax tentang COVID-19 di Indonesia

Laris Manis-nya Berita Hoax tentang COVID-19 di Indonesia
Sumber: theconversation.com

Laris Manis-nya Berita Hoax tentang COVID-19 di Indonesia

Oleh

Tiara Tiani Putri

Fakultas Psikologi, Universitas Pembangunan Jaya

 

Fenomen virus COVID-19 yang menyerang di berbagai belahan dunia saat ini membuat kita menjadi begitu panik dan was-was. Sayangnya, kepanikan itu dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab dengan menyebarkan berita hoax. Derasnya arus informasi di media sosial membuat fenomena berita hoax sulit dihindari, jika tidak teliti dan mencari tahu kebenarannya kita pun dapat menjadi korban berita hoax yang ada di media sosial.

Salah satu berita hoax tentang virus COVID-19 yang mencuri perhatian masyarakat, yaitu dilansir dari Kompas.com (29/01/2020) Terdapat sebuah cuitan di twitter yang viral tentang virus COVID-19, unggahan tersebut dibagikan oleh akun @coromodol pada rabu (29/01/2020) sudah disukai sebanyak 21.800 kali dan dibagikan sebanyak 9.600 kali. Dalam unggahannya, @coromodol menuliskan, “virus corona nyebar lewat hp xiaomi” dilanjut oleh anjuran, “kalo abis salaman sm temen yang pake xiaomi, buru-buru cuci tangan pake sabun.” Ia menyebarkan cuitan tersebut setelah membaca cuitan @blogdokter yang mengatakan bahwa virus COVID-19 bisa menular melalui benda mati. Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia dr. Daeng M. Faqih menjelaskan cuitan tersebut tidaklah benar. Apabila benda tersebut terpapar oleh cairan tubuh penderita virus COVID-19, kemudian benda tersebut dipegang tanpa mencuci tangan, baru bisa tertular.

Terjadi perdebatan pro dan kontra antar masyarakat dalam memberikan berbagai respon dari cuitan @coromodol tersebut. Sebagian masyarakat ada yang bilang itu konspirasi dari Cina untuk memusnahkan sebagian besar populasi manusia, ada yang bilang virus itu bocor dari laboratorium rahasia di Cina, dan masih banyak lagi. Respon mereka menunjukkan bahwa mereka mempercayai cuitan hoax itu. Hanya karena handphone xiaomi dari Cina, mereka semua langsung mengambil kesimpulan bahwa Cinalah sengaja menyebarkan virus COVID-19 melalui media benda mati yang disebarkan ke belahan penjuru dunia. Nyatanya, tidak seperti itu. Seperti yang dilansir dari Kompas.com (09/04/2020), Banyak peneliti yang berpendapat bahwa virus itu berasal dari kelelawar. Penularan tersebut bermula dari interaksi antar manusia dan hewan di pasar Wuhan. Walau bukan suatu kebetulan, tetapi terdapat bukti materi genetik virus telah ditemukan di lingkungan pasar Wuhan. Virus tersebut berpindah dari hewan ke manusia dan kemudian beradaptasi sehingga dapat menular dari manusia ke manusia lainnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia mudah untuk mempercayai informasi yang tersebar di media sosial. Dari hal tersebut masyarakat mengalami bias kognitif, Bias kognitif adalah jenis kesalahan dalam berpikir yang terjadi ketika orang (Buana, 2020). Menurut Barnes (1984) Bias kognitif dapat menyebabkan seseorang menghasilkan keputusan yang kurang rasional dan kurang komprehensif (dalam Nasrul, 2017). Karena sudah gelisah dengan COVID-19 yang begitu banyak memakan korban dari berbagai belahan dunia, masyarakat jadi tidak mencari tahu kebenaran dari berita tersebut dan langsung menyebarluaskan ke media sosial mereka yang menyebabkan terjadinya kesalahan informasi di media sosial yang viral akan dianggap sebagai informasi yang dipercaya. Selain itu, terdapat sejumlah besar bias kognitif yang menyebabkan seseorang rentan terhadap berita hoax, yaitu :

 

Confirmation Bias

Ketika sedang membaca suatu berita di media sosial, apakah kamu langsung mempercayai berita tersebut tanpa mencari tahu kebenarannya? Apakah kamu akan langsung percaya karena informasi itu sudah sesuai dengan keyakinanmu? Jika benar, maka kamu melakukan bias konfirmasi. Dalam Goldstein (2011) Bias konfirmasi adalah kecenderungan untuk secara selektif mencari informasi yang sesuai dengan hipotesis dan mengabaikan informasi yang membantahnya. Jadi, bias konfirmasi ini dapat sebagai menolak pernyataan yang tidak sesuai dengan keyakinan diri sendiri dan menerima pernyataan yang sesuai dengan informasi yang kita yakini. Sesuai dengan pernyataan yang diberikan oleh Kalat (2013) bahwa kita sering melakukan kesalahan dengan menerima suatu hipotesis, kemudian mencari bukti yang mendukung hipotesis tersebut daripada mempertimbangkan kemungkinan lain. Tak satu pun dari kita yang kebal dari bias kognitif ini, hal ini cenderung membuat kita jatuh cinta terhadap berita hoax yang mengkonfirmasi sesuai pandangan kita (Badke, 2018).

 

Negatives Bias

Kenapa kita sebagai manusia lebih tertarik dengan berita negatif daripada berita positif? Karena adanya bias negatif. Bias negatif sendiri mengacu pada kecenderungan kita untuk "memperhatikan, belajar dari, dan menggunakan informasi negatif jauh lebih dari informasi positif " (Vaish et al., 2008). Menurut Shao dan rekan-rekannya (2017), berita dari media sosial dipenuhi oleh konten yang salah atau menyesatkan, seperti hoax, rumor, teori konspirasi, laporan yang salah, clik-bait headlines, dan bahkan sindiran. Jadi itulah mengapa perhatian manusia lebih fokus dengan cepat pada informasi negatif daripada positif yang ada di media sosial.

Selain itu, dalam penelitian Hilbig (2011) telah menunjukkan bahwa berita negatif lebih cenderung dianggap benar. Karena informasi negatif menarik perhatian yang lebih besar, itu juga dapat dilihat memiliki validitas yang lebih besar. Ini mungkin mengapa berita negatif tampaknya mendapat lebih banyak perhatian. Masyarakat yang melakukan bias negatif, menjadikan masyarakat lebih mudah percaya dengan berita-berita hoax tentang COVID-19.

 

Availability heuristic

Ketersediaan heuristik adalah kecenderungan seseorang yang dihadapkan dengan suatu informasi dan memungkinkan orang untuk dengan cepat mencapai kesimpulan (Tversky & Kahneman, 1973). Ketersediaan heuristik memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan dan bertindak berdasarkan informasi di dunia sekitar kita. Ketersediaan heuristik ini dapat membantu kita melakukan penilaian cepat, tetapi terkadang salah. Jadi, ketersediaan heuristik mendorong kita percaya dengan informasi yang bisa jadi belum tentu sesuai fakta. Kecenderungan kita mengalami bias ini diperburuk dengan mudahnya kita terpengaruh oleh berita palsu (Pratama, 2019). Apalagi banyaknya berita hoax tentang COVID-19 yang beredar membuat kita harus pintar dalam mencari tahu kebenaran yang ada dari berita tersebut, jangan sampai mengambil keputusan atau tindakan yang salah dan berakibat fatal nantinya.

 

Cara Mengatasi Bias Kognitif

Banyak berita hoax tentang COVID-19 yang beredar media sosial, yang membuat kita rentan sekali melakukan bias kognitif. Untuk terhindari atau meminimalisir bias kognitif dengan lebih bijak dalam menanggapi informasi yang ada diberita tersebut. Salah satunya, berpikir kritis. Dalam Pratama (2019) Berpikir kritis adalah suatu proses bertujuan, memberi pertimbangan pada kita dalam mengambil keputusan, dan mengevaluasi keputusan yang kita buat. Terdapat beberapa hal yang dapat kita lakukan agar terhindari bias kognitif :

  1. Pemecahan masalah. Berpikir kritis bertujuan untuk memecahkan masalah. Kita harus pintar-pintar mencari informasi yang didapat bukan hanya terbuai dengan opini-opini yang diantaranya tidak berdasar.
  2. Menganalisis informasi dan argumentasi. Sebagai manusia yang sudah mengerti teknologi, seharusnya kita tidak terlalu pasif dalam menerima informasi. Sebelum menerima informasi, kita harus menganalisisnya, melakukan pemeriksaan apakah informasi yang didapat berdasarkan fakta atau tidak, apakah terdapat argumen yang mendukung informasi tersebut, serta adakah bukti yang tersedia, dan barulah apakah informasi tersebut dapat dipercaya atau tidak.
  3. Menafsirkan informasi. Berpikir kritis mampu membuat kita memaknai informasi dengan aktif. Serta mampu membandingkan informasi satu dengan informasi lainnya, kemudian menarik kesimpulan dari informasi-informasi lain yang terpercaya.
  4. Mengenali bias. Saat melihat informasi yang diragukan faktanya, seharusnya kita mampu mengenali bias yang kita lakukan. Dengan begitu, kita jadi tidak mudah dalam termakan oleh informasi-informasi yang palsu.
  5. Memahami perspektif berbeda. Jangan melihat hanya dari satu sisi sudut pandang saja, tetapi dari semua sudut pandang. Hal tersebut akan membuat kita lebih berpikir luas lagi dan tidak hanya melihat dari satu sisi sudut pandang saja.

 

Masih banyak masyarakat Indonesia yang melakukan bias kognitif, yang membuat masyarakat Indonesia mudah percaya berita hoax tentang COVID-19 tanpa mencari tahu kebenaran berita tersebut. Banyak oknum-oknum jahat yang suka membuat berita begitu dilebih-lebihkan, supaya keadaan menjadi ricuh dan tidak kondusif. Maka dari itu, diharapkan masyarakat lebih teliti dan bijak dalam membaca berita-berita yang beredar di media sosial dan terapkanlah “Saring sebelum Sharing”.

 

 

 

 

Daftar Referensi

Bakde, W. (2018). Fake news, confirmation bias, the search for truth, and the theology student. Theological Librarianship, 11(2): 4-7. Diambil dari https://www.researchgate.net/publication/328615158_Fake_News_Confirmation_Bias_the_Search_for_Truth_and_the_Theology_Student

Buana, D. R. (2020) Analisis perilaku masyarakat indonesia dalam menghadapi pandemi virus corona (covid-19) dan kiat menjaga kesejahteraan jiwa. Jurnal Sosial dan Budaya Syari-i, 7(3): 217-226. Diambil dari http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/salam/article/view/15082/pdf

Goldenstein, E. B. (2011). Cognitive Psychology: Connecting Mind, Research, and Everyday Experience. 3rd ed. USA: Wadworth.

Hilbig B. E. (2011) Good things don’t come easy (to mind): Explaining framing effects in judgments of truth. Experimental Psychology, 59(1): 38-46. Diambil dari https://www.researchgate.net/publication/51501172_Good_Things_Don't_Come_Easy_to_Mind_Explaining_Framing_Effects_in_Judgments_of_Truth

Kalat, J. W. (2013). Introduction to Psychology. 10th ed. Cengage Learning. Canada

Kompas.com (2020, 29 Januari). Viral Virus Corona Menyebar Lewat Ponsel Xiaomi. Kompas.com. Diambil dari https://www.kompas.com/tren/read/2020/01/29/092500065/viral-virus-corona-menyebar-lewat-ponsel-xiaomi-idi-tidak-benar

Kompas.com (2020, 09 April). Benarkah Virus Corona Penyebab Covid-19 Berasal dari Pasar Wuhan?. Kompas.com. Diambil dari https://www.kompas.com/tren/read/2020/04/09/061000865/benarkah-virus-corona-penyebab-covid-19-berasal-dari-pasar-wuhan.

Nasrul, A. A. (2017). Pengaruh bias kognitif dan faktor psikologis terhadap intensi berwirausaha melalui mediasi sikap terhadap resiko. Jurnal Manajemen. Diambil dari https://dspace.uii.ac.id/bitstream/handle/123456789/7544/JURNAL%20Aditya%20Anwar%20Nasrul.pdf?sequence=2&isAllowed=y

Pratama, H. S. (2019) Buku Panduan Berpikir Kritis Menghadapi Berita Palsu (Hoaks) di Media Sosial. Jakarta Selatan: International NGO Forum on Indonesian Development (INFID). Diambil dari http://bolselkab.go.id/_assets/_pengumuman/pgm040_buku-panduan-menghadapi-berita-palsu-hoax-di-media-sosial.pdf

Shao, C., Giovanni, L. C., Onur, V., Allesandro, F., & Fillipo, M. (2017) The spread of fake news by social bots. arXiv preprint. Diambil dari https://www.researchgate.net/publication/318671211_The_spread_of_fake_news_by_social_bots

Tversky, A & Kahneman, D. (1973) Availability: A heuristic for judging frequency and probability. Cognitive Psychology, 5(1): 207-233. Diambil dari https://msu.edu/~ema/803/Ch11-JDM/2/TverskyKahneman73.pdf

Vaish, A., Grossmann, T., & Woodward, A. (2008). Not All Emotions Are Created Equal: The Negativity Bias in Social-Emotional Development. Psychological Bulletin, 134(3): 383-403. Diambil dari https://www.researchgate.net/publication/5407136_Not_All_Emotions_Are_Created_Equal_The_Negativity_Bias_in_Social-Emotional_Development