10+ Python Framework Paling Populer yang Layak Anda Coba!

Python adalah bahasa pemrograman yang ringkas sehingga cocok untuk membuat berbagai aplikasi dan website dengan mudah. Yang menarik, dengan dukungan Python framework, Anda jadi bisa mengerjakan project lebih cepat, berkat berbagai library yang dimilikinya.  Nah, dengan makin banyaknya framework Python saat ini, manakah yang perlu Anda pilih untuk pengembangan project Anda?  Artikel kami berikut ini […] The post 10+ Python Framework Paling Populer yang Layak Anda Coba! appeared first on Niagahoster Blog.

10+ Python Framework Paling Populer yang Layak Anda Coba!
Python adalah bahasa pemrograman yang ringkas sehingga cocok untuk membuat berbagai aplikasi dan website dengan mudah. Yang menarik, dengan dukungan Python framework, Anda jadi bisa mengerjakan project lebih cepat, berkat berbagai library yang dimilikinya.  Nah, dengan makin banyaknya framework Python saat ini, manakah yang perlu Anda pilih untuk pengembangan project Anda?  Artikel kami berikut ini akan membahas framework Python paling populer. Jadi, dapat memudahkan Anda menentukan pilihan. Penasaran, kan? Yuk simak hingga tuntas! Apa Itu Framework Python? Framework Python adalah kumpulan modul atau paket pemrograman bahasa Python. Framework ini menawarkan library kode Python, model perangkat lunak Python, Application Programming Interfaces (APIs), dan berbagai elemen Python lainnya.  Semua hal di atas dapat menunjang developer menyelesaikan sebuah project dengan pengkodean Python yang tepat. Tak hanya itu, para pengembang juga akan menghemat waktu berkat pengelolaan kode yang lebih konsisten dan mudah. Dengan demikian, hasil akhir proyek akan menjadi lebih berkualitas saat menggunakan Python framework.  Jenis Python Framework  Setelah belajar apa itu framework Python, mari ketahui tiga jenis Python framework yang banyak digunakan saat ini: 1. Full-Stack Framework Jenis Python framework ini mendukung pengembangan proyek back-end dan front-end sekaligus. Alasannya, full-stack framework menyediakan fungsionalitas yang lengkap, baik untuk desain antarmuka pengguna grafis (UI), dan layanan back-end seperti manajemen database, protokol keamanan, dan libraries. Tak heran, jenis framework ini sering digunakan untuk pengembangkan proyek perangkat lunak yang kompleks. Nah, salah satu contoh full-stack framework adalah Django. 2. Micro Framework Micro framework adalah jenis framework yang lebih ringan dan sederhana karena tidak menyediakan fungsionalitas dan fitur tambahan. Sebagai contoh, tidak ada database layer, form validasi, dan libraries layaknya full-stack framework.  Hal ini memang bertujuan untuk mendorong fleksibilitas bagi pengembang yang ingin memanfaatkan kontrol atas perangkat lunak mereka. Dengan kata lain, pengembang bebas menambahkan libraries pihak ketiga yang mereka diperlukan. Itulah kenapa microframework bisa menjadi pilihan yang bagus untuk proyek sederhana. Salah satu contoh Micro framework yang umum digunakan  adalah Flask. 3. Asynchronous Framework Asynchronous Framework merupakan jenis Python framework yang ditujukan untuk pemrograman Python dengan library jaringan asinkron. Framework ini memungkinkan developer untuk menangani concurrent connections (jumlah maksimum koneksi bersama yang dapat ditangani server) dalam jumlah yang besar.Nah, salah satu contoh Asynchronous framework yang banyak developer gunakan adalah Tornado. Baca Juga: Panduan Install Python di cPanel dengan Mudah dan Cepat! 13+ Framework Python Paling Populer Setelah Anda tahu jenis-jenis Python framework. Apa saja framework Python yang paling populer saat ini? Django;Flask;Tornado;Dash;Falcon;Bottle;Pyramid;Web2Py;CherryPy;Giotto;Sanic;TurboGears;Hug;IOHTTP; danPylons. Begini penjelasan masing-masing dari 15 Python Framework tersebut: 1. Django Jenis Framework: Full-stack Framework Django adalah salah satu Python framework open-source yang cukup umum digunakan oleh para developer. Apa alasannya?  Django memiliki banyak fitur unggulan, seperti localization, URL routing, autentikasi pengguna, kompatibilitas dengan web browser, menawarkan penyimpanan dan pemulihan data terbaik, serta adanya keamanan yang ditingkatkan. Selain itu, Django juga telah menyediakan berbagai libraries bawaan dan kompatibel dengan berbagai database. Contohnya, MySQL, SQLite, PostgreSQL, dan Oracle. Jadi, Anda bisa memilih menggunakan database yang sudah dikuasai.  Dengan begitu, tak perlu membuang waktu untuk mempelajari konfigurasi database yang belum Anda mengerti, bukan? Developer jadi bisa mengembangkan aplikasi secara kompleks dengan waktu relatif cepat.  Nah, beberapa situs populer yang diketahui menggunakan Django adalah Instagram, Mozilla, Pinterest, dan National Geographic.  2. Flask Jenis Framework: Microframework Flask merupakan Python framework  yang dapat memfasilitasi developer untuk pengembangan proyek perangkat lunak web dan aplikasi dengan mudah dan cepat. Karena, Flask punya template script siap pakai dan desain modular yang membuatnya dapat beradaptasi untuk berbagai macam proses pengembangan.  Selain itu, Flask juga memiliki berbagai fitur yang cukup lengkap. Beberapa di antaranya Built-in development server, Debugger cepat, Integrated support untuk pengetesan unit, RESTful request dispatching dan mengikuti WSGI 1.0. Semua fitur tersebut akan menunjang developer dalam meningkatkan kualitas web. Flask tidak menyertakan fungsi dan komponen umum seperti validasi form, database, dan semacamnya. Jadi, para pengembang perlu menggunakan fungsi yang disediakan pihak ketiga. Flask termasuk framework Python yang punya dukungan dokumentasi yang baik. Bahkan, banyak forum internet yang bisa menjadi tempat para pengembang saling bertanya tentang penggunaan Flask saat pengembangan aplikasi. Flask cenderung dimanfaatkan untuk proyek yang kecil dan sederhana. Pun demikian, banyak juga perusahaan besar yang memanfaatkan Flask, seperti Red Hat, Airbnb, Netflix, dan Reddit.  Baca Juga: Cara Install Flask Python di Hosting [Paling Gampang!] 3. Tornado  Jenis Framework: Asynchronous Framework Tornado adalah Python Framework dengan library jaringan asinkron. Dengan menggunakan I/O jaringan non-blocking, Tornado dapat menjalankan hingga puluhan ribu koneksi.  Hal itulah yang membuat Tornado ideal untuk WebSockets dan berbagai aplikasi yang memerlukan koneksi jangka panjang untuk setiap pengguna. Dengan kata lain, Tornado merupakan framework Python yang cocok untuk membangun aplikasi yang membutuhkan klien dalam jumlah besar.  Selain itu, Tornado juga merupakan sebuah Python framework yang hadir dengan dukungan bawaan untuk aspek pengembangan Web. Contohnya, user authentication, web templates, localization, signed cookies, dan lain sebagainya.  Menariknya, Tornado bisa digunakan bersama dengan framework lain. Jadi, ketika ada fungsionalitas dan fitur yang tidak dapat dilakukan oleh Tornado, developer bisa memanfaatkan fitur dari Python framework lainnya. 4. Dash Python Framework Jenis Framework: Microframework Dash adalah framework Python open-source yang dirancang untuk membantu data scientist dalam membangun aplikasi web analitis, tanpa memerlukan pengetahuan pengembangan web mendalam.  Pun demikian, Dash juga memungkinkan Anda mengembangkan jenis web apapun dengan salah satu Python Framework ini. Dash bekerja dengan dukungan tiga teknologi, yaitu: Flask, yang menyediakan fungsionalitas server web;React.js, yang bertugas untuk me-render antarmuka pengguna halaman web, dan Plotly.js – yang menghasilkan bagan yang dapat digunakan dalam aplikasi Anda. Keunggulan Dash adalah adanya kustomisasi tingkat tinggi, dukungan plugin, URL Routing, LDAP integration, dan UI yang sederhana untuk mengikat kontrol UI, termasuk dropdown, grafik, dan slider, dan sebagainya.  Dengan keunggulan itu, Dash akan membantu Anda membangun dashboard web dengan lebih cepat dan terstruktur. Terlebih, jika Anda terbiasa menganalisis data atau membangun visualisasi data menggunakan Python, Dash akan menjadi tambahan yang berguna untuk pengembangan proyek Anda. Baca Juga: 12 Framework JavaScript Terbaik 2022 5. Falcon Jenis Framework: Full-stack Framework Falcon adalah kerangka kerja web Python yang andal untuk membangun backend aplikasi dan layanan mikro berskala besar berkat dukungan CPython 3.5+ dan PyPy 3.5+.  Selain itu, Falcon juga didukung dengan ASGI, WSGI , dan WebSocket yang memungkinkan pengembang untuk membuat aplikasi web yang bersifat real-time, dengan kebutuhan data yang cepat.   Nah, framework Python ini juga dapat diandalkan untuk membangun desain yang lebih baik dengan dukungan arsitektur HTTP dan REST yang dimilikinya. Tak heran, perusahaan raksasa seperti LinkedIn, OpenStack, dan RackSpace memilih Falcon untuk pengembangan aplikasi mereka. 6. Bottle Jenis Framework: Microframework Bottle adalah Python Framework web mikro WSGI (Web Server Gateway Interface), yang sangat cepat, mudah dipelajari, dan kompatibel untuk membangun API. Bottle didukung dengan banyak template pihak ketiga dan server WSGI/HTTP, serta menyediakan rute pengiriman permintaan yang memiliki dukungan parameter URL. Python  framework ini juga punya plugin untuk berbagai database dan fitur optimalisasi kecepatan untuk pengujian. Jadi, mendukung para web developer yang ingin membangun aplikasi web berkinerja tinggi. Bottle adalah salah satu Python Framework dengan dokumentasi yang lengkap, termasuk di komunitas pengembang, seperti di GitHub. Ini tentu akan membantu pengembangan aplikasi web dengan cepat dan mudah dengan bantuan komunitas tersebut.  7. Pyramid Jenis Framework: Full-stack Framework Pyramid merupakan salah satu Python Framework yang sering digunakan untuk identifikasi dan routing. Alasannya, framework Python ini dapat melakukan pemetaan URL berdasarkan konfigurasi rute melalui pengiriman URL. Selain itu, ada juga fitur validasi dan pembuatan struktur HTML yang dimiliki Pyramid. Tak hanya itu, adanya template yang mencakup semua dan detail aset, dokumentasi data yang lengkap akan membuat proses pengembangan aplikasi web jadi lebih terstruktur. Perusahaan raksasa seperti Mozilla, Yelp, Dropbox, dan SurveyMonkey juga mengandalkan Python Framework ini. Mungkin Anda salah satu yang mulai tertarik menggunakannya? Baca Juga: 15+ Contoh Program Python Sederhana yang Bisa Anda Coba 8. Web2Py Jenis Framework: Full-stack Framework Web2py adalah full-stack framework yang mendukung pengembangan proyek web dengan cepat. Framework Python ini mampu menyederhanakan prosedur pengembangan melalui server web, database SQL, dan online UI. Dari dukungan itu, Anda juga dapat membangun, merevisi, menyebarkan, dan mengelola aplikasi web melalui browser web. Web2Py juga bersifat cross platform, yang berarti Anda dapat menggunakannya untuk berbagai sistem operasi. Selain itu, Web2py juga hadir dengan web-based IDE yang berisi code editor, debugger, serta one-click deployment. Untuk masalah keamanan, Web2Py ini punya keamanan data bawaan untuk mencegah beberapa kerentanan. Jadi, Anda tidak perlu khawatir tentang cross-site scripting, dan eksekusi file berbahaya. 9. CherryPy Jenis Framework: Microframework Python Framework paling populer lainnya yaitu ada CherryPy. Salah satu framework Python tertua ini bisa Anda andalkan untuk pembuatan web dan aplikasi dengan cepat, lho. Alasannya, CherryPy punya dokumentasi script web dan aplikasi yang berlimpah. Ditambah, CherryPy mendukung fitur untuk akses data, pembuatan template, dan sebagainya.Nah, Python Framework satu ini menggunakan web server Python multi-string WSGI yang sesuai dengan HTTP/1.1, yang membuatnya dapat menjalankan berbagai server HTTP sekaligus.Karena CherryPy kompatibel dengan semua sistem operasi dan web browser. Anda dapat menjalankan aplikasi yang dibuat dengan CherryPy di Windows, Mac OS, Linux, Unix, bahkan Android.Inilah mengapa CherryPy diandalkan oleh beberapa perusahaan besar. Seperti Netflix, Hulu, dan Indigo Domotics. 10. Giotto Jenis Framework: Full-stack Framework Giotto adalah framework yang dapat menunjang perancangan web, serta membuat kontrol sistem admin web bekerja secara independen berkat adanya fitur otomatisasi.  Framework Giotto memisahkan elemen model, tampilan, dan pengontrol secara berurutan. Yang berarti akan memudahkan pengembang dalam proses perancangan dan pengembangan. Di sisi lain, Giotto menyertakan modul pengontrol yang memungkinkan pengguna membuat aplikasi di atas web, IRC (Internet Relay Chat), dan baris perintah. Adapun fitur-fitur dari Giotto yang populer yaitu URL Routing yang berjalan otomatis, adanya cache bawaan dengan dukungan untuk Memcache dan Redis (API yang tersedia untuk memperluas dukungan untuk mesin lain), serta Jinja2 untuk template HTML, dan lain sebagainya. Baca Juga: Panduan Deploy Website Berbasis Python di cPanel 11. Sanic Jenis Framework: Asynchronous Framework  Sanic adalah framework Python sederhana dan open-source yang dikembangkan khusus untuk menawarkan respon HTTP cepat. Hal ini dilakukan melalui penanganan permintaan asinkron, yang membuatnya kompatibel dengan fungsi async/await Python 3.5.  Dengan kondisi tersebut, Sanic akan mampu menghasilkan peningkatan kecepatan serta menawarkan kemampuan non-blocking.  Nah, beberapa kelebihan lain dari Sanic adalah dapat mengizinkan beberapa logging seperti access log dan error log, adanya dukungan plugin, serta mampu menuliskan cookies. 12. TurboGears Jenis Framework: Full-Stack Framework TurboGears adalah framework Python open-source berbasis data dengan dukungan ORM (memetakan basisdata relasional ke model objek) yang fleksibel dan kuat. Full-stack framework Python ini menggunakan beberapa komponen di dalamnya, seperti Genshi, Repoze, SQLAlchemy, dan WebOb, yang berguna untuk mengembangkan aplikasi yang membutuhkan konektivitas database dengan mudah dan cepat. Kelebihan lain dari TurboGears adalah adanya integrasi libraries MochiKit JavaScript, dukungan multi-basis data. Selain itu, ada ToscaWidgets yang penting untuk menyederhanakan koordinasi desain frontend dan penerapan server. 13. Hug Jenis Framework: Microframework Hug adalah salah satu framework Python paling populer yang memungkinkan developer mengembangkan API karena menawarkan interface multi-threaded.  Framework Hug bisa menjadi pilihan Anda yang menginginkan kinerja program yang lebih cepat. Alasannya, Hug dapat menyelesaikan formasi pemrograman dalam one-click deployment melalui HTTP request dan melalui CLI (command line). Kelebihan lain dari framework Python ini adalah adanya validasi anotasi, manajemen versi built-in, serta kemampuannya untuk dijalankan sebagai library standar Python.  Sebagai sebuah microframework, Hug tidak menyediakan integrasi sistem database. Jadi, Anda harus menggunakan libraries pihak ketiga seperti SQLAlchemy untuk membangunnya. 14. IOHTTP Jenis Framework: Asynchronous Framework IOHTTP adalah Python framework yang memanfaatkan libraries asyncio Python.  IOHTTP menyediakan objek permintaan dan router untuk mengarahkan kueri ke fungsi yang menanganinya. Framework Python ini juga mendukung Server WebSockets dan Client WebSockets sehingga IOHTTP juga berfungsi sebagai client framework.  Nah, IOHTTP juga didukung dengan Middlewares, Signals and plugable routing yang membantu pemrosesan data jadi lebih maksimal. 15. Pylons Jenis Framework: Full-stack Framework Pylons full-stack adalah framework berbasis open-source yang berfokus pada pengembangan aplikasi yang kompleks. Framework Python ini memiliki libraries dan fitur yang cukup lengkap seperti validasi dan pembuatan form HTML, template berbasis teks, dan pemetaan URL berdasarkan konfigurasi rute, dan lainnya. Uniknya, walaupun termasuk full-stack framework, Pylons menawarkan struktur yang sangat fleksibel untuk pengembangan web. Alasannya, Pylons menggabungkan beberapa elemen dan properti dari beberapa bahasa pemrograman, seperti Perl, Python, dan Ruby.  Selain itu, Pylons menggunakan WSGI (Web Server Gateway Interface) secara ekstensif untuk menunjang pengembangan aplikasi web berkinerja tinggi.  Nah, itulah 15 Framework Python paling populer yang bisa Anda andalkan. Kira-kira, Python framework mana nih yang menggugah Anda? Baca Juga: 9+ Framework PHP Terbaik untuk Developer Siap Mengembangkan Proyek Anda Dengan Framework Python? Sekarang Anda sudah tahu apa itu Python framework, bukan? Secara umum, ada tiga jenis framework Python, yaitu:  1.  Full-stack Framework – memiliki fitur lebih lengkap;2. Micro Framework – modul lebih sedikit, tapi fleksibel; dan3. Asynchronous Framework – cocok untuk kebutuhan concurrent connections.  Di antara tiga jenis itu, Anda bisa menentukan manakah framework Python yang akan digunakan. Mulai dari Django, Flask, Tornado, Dash, Giotto, dan lainnya. Nah, dengan framework Python, pengerjaan proyek aplikasi atau website Anda akan lebih cepat dan mudah dengan hasil yang baik. Pun demikian, ketika ingin dionlinekan agar bisa diakses banyak orang, jangan lupa untuk memilih layanan hosting yang tepat.   Kabar baiknya, Niagahoster memiliki layanan Cloud Hosting yang sudah mendukung website Python dengan baik.  Cloud Hosting Niagahoster didukung server LiteSpeed yang dikenal dengan kecepatan yang optimal. Jadi, website Python Anda mudah diakses, baik untuk website berita, toko online, hingga website perusahaan.   Selain itu, dengan sumber daya server yang mumpuni seperti CPU hingga 8 Cores, RAM hingga 10GB, dan kapasitas storage SSD hingga 120GB, akan membuat website Python Anda memiliki performa yang baik.  Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, wujudkan website terbaik Anda sekarang! Saya Mau Beli Cloud Hosting Sekarang! The post 10+ Python Framework Paling Populer yang Layak Anda Coba! appeared first on Niagahoster Blog.