6 Bahaya Insomnia bagi Kesehatan Tubuh

Insomnia adalah gangguan tidur yang ditandai dengan ketidakmampuan seseorang untuk memulai atau mempertahankan tidur.

6 Bahaya Insomnia bagi Kesehatan Tubuh

Insomnia adalah gangguan tidur yang ditandai dengan ketidakmampuan seseorang untuk memulai atau mempertahankan tidur. Ini juga terjadi ketika seseorang secara konsisten bangun terlalu pagi dan tidak dapat melanjutkan tidur kembali. Seseorang yang mengalami insomnia umumnya dilatarbelakangi karena adanya masalah stres, penyakit kronis, atau efek samping pengobatan.

Terdapat konsekuensi atau bahaya insomnia yang mengintai apabila penderita belum dapat menemukan cara yang tepat untuk menyembuhkan kebiasaan buruk ini. 

Bahaya Penyakit Insomnia Bagi Tubuh

Insomnia dapat berdampak pada kinerja tubuh dan otak saat beraktivitas. Manusia membutuhkan waktu 7-9 jam untuk tidur di malam hari. Apabila kekurangan tidur, tubuh akan merespon berbeda yang menghasilkan menurunnya kinerja seseorang saat beraktivitas.

Berikut ini beberapa konsekuensi atau bahaya insomnia bagi tubuh:

1. Kesulitan untuk Berkonsentrasi

Salah satu konsekuensi atau bahaya insomnia yang paling umum dirasakan adalah kesulitan untuk melakukan konsentrasi. Hal ini menciptakan penurunan kinerja atau performa seseorang. Kurang tidur karena insomnia merusak proses kognitif dalam banyak hal, antara lain mengganggu kemampuan memperhatikan, kewaspadaan, konsentrasi, penalaran, hingga pemecahan masalah (problem solving). Hal ini membuat seseorang lebih sulit untuk berpikir dan belajar secara efisien.

2. Kemampuan Mengingat Menurun

Mencoba menjaga ingatanmu tetap tajam? Cobalah untuk tidur yang cukup. Bahaya insomnia yang selanjutnya terkait dengan kemampuan mengingat atau memori otak.

Pada malam hari, berbagai siklus tidur berperan dalam “mengonsolidasikan” ingatan dalam pikiran. Jika kamu mengalami insomnia dan tidak cukup tidur, kamu akan merasa kesulitan untuk mengingat apa yang kamu pelajari dan alami sepanjang hari, dengan kata lain kemampuan mengingatmu dapat menurun pada aktivitas hari itu.

3. Merasa Lelah dan Mengantuk pada Sang Hari

Merasa lelah dan mengantuk pada siang hari adalah hal yang sangat mungkin terjadi apabila seseorang kekurangan tidur atau mengalami insomnia. Hal ini tentunya dapat mengganggu aktivitas harian seseorang dan memengaruhi kesehatannya.

Kelelahan (fatigue) itu lebih dari sekadar lelah atau mengantuk. Seseorang yang mengalami kelelahan merasa sangat terkuras, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Kurang tidur akibat insomnia juga menjadi salah satu penyebab kelelahan.

4. Kondisi Kesehatan Menurun

Bahaya insomnia yang perlu diwaspadai selanjutnya adalah kesehatan yang menurun. Beberapa kondisi kesehatan dapat menurun karena insomnia berkepanjangan (insomnia kronis). Beberapa penyakit yang dapat terjadi akibat insomnia kronis, antara lain:

  • Penyakit jantung
  • Serangan jantung
  • Gagal jantung
  • Detak jantung tak teratur
  • Tekanan darah tinggi
  • Stroke
  • Diabetes

5. Hubungan Keluarga dan Sosial Menurun

Bahaya insomnia yang satu ini masih ada kaitannya dengan perubahan mood akibat insomnia. Perubahan mood yang terjadi karena insomnia dapat menjadikan seseorang mudah tersinggung, lebih cepat marah, atau merasa lebih sensitif. Perasaan tubuh yang tidak fit atau pikiran yang sulit berkonsentrasi juga dapat membuat seseorang merasa tidak ingin berbaur atau diganggu. Hal ini dapat memengaruhi kemampuan seseorang menikmati hubungan keluarga dan sosial.

6. Obesitas

Ketika belum dapat tidur pada malam hari, seseorang dapat merasakan lapar yang mendorongnya untuk mengonsumsi sesuatu. Jika insomnia terjadi terus-menerus, kebiasaan ini dapat terjadi secara berulang, yang dapat menyebabkan bertambahnya berat badan hingga kemungkinan obesitas.

Penelitian terbaru membicarakan tentang hubungan antara tidur dan peptida yang mengatur nafsu makan. Terdapat hormon ghrelin yang merangsang rasa lapar dan hormon leptin yang memberi sinyal rasa kenyang ke otak dan menekan nafsu makan. Ketika seseorang mengalami waktu tidur yang lebih pendek, seseorang cenderung mengalami penurunan hormon leptin dan peningkatan hormon ghrelin.

Penelitian tersebut memahami bahwa kurang tidur dapat merangsang nafsu makan. Lebih lanjut, penelitian tersebut memahami bahwa nafsu makan yang terangsang saat waktu tidur lebih pendek adalah makanan yang tinggi lemak dan tinggi karbohidrat. Hal inilah yang dapat menjelaskan tentang hubungan waktu tidur yang lebih pendek (atau dapat juga insomnia) terhadap bertambahnya berat badan, hingga kemungkinan obesitas.