Abaikan Data Klaim Pengangguran, Wall Street DIbuka Anjlok

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat (AS) tertekan pada pembukaan perdagangan Rabu (24/11/2021), di tengah kenaikan inflasi yang memicu aksi jual saham teknologi dan buruknya data ritel. Indeks Dow Jones Industrial Average drop 100 poin (-0,3%) pukul 08:30 waktu setempat (20:30 WIB) dan selang 20 menit menjadi 146,1 poin (-0,41%) ke 35.667,73. S&P 500 susut 24,4 poin (-0,52%) ke 4.666,32. Nasdaq anjlok 130,6 poin (-0,83%) ke 15.644,55. Saham Tesla di sesi pra-pembukaan melemah lagi setelah Elon Musk menjual kepemilikannya senilai US$ 1 miliar. Saham peritel tertekan menyusul rilis kinerja keuangan mereka per kuartal III-2021 yang buruk. Saham Gap anjlok 22% di sesi pembukaan setelah nilai laba bersihnya ternyata nyaris separuh dari ekspektasi pasar. Kenaikan kasus Covid-19 di Eropa juga memicu kecemasan investor, terutama karena pemerintah Jerman menjajaki kemungkinan memberlakukan kembali pembatasan aktivitas masyarakat (lockdown). Data ekonomi yang diperhatikan adalah klaim tunjangan pengangguran mingguan, rilis Produk Domestik Bruto (PDB), dan inflasi acuan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yakni personal consumer index (PCE). The Fed juga akan merilis risalah rapat bulan lalu mereka. Aslinya, pasar mendapatkan kabar positif dari data klaim tunjangan pengangguran pekan lalu yang di angka 199.000, atau terendah lebih dari 50 tahun. Pertumbuhan ekonomi kuartal III-2021 juga direvisi naik menjadi 2,1%. Namun demikian, kabar buruk datang data pesanan barang tahan lama anjlok pada Oktober. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik menjadi 1,68% hari ini, dari posisi pekan lalu 1,55%. Kenaikan imbal hasil mengindikasikan penurunan harga di pasar karena aksi jual. Inflasi tinggi membuat return obligasi sekarang menjadi tergerus. Secara bersamaan, biaya pendanaan (cost of fund) emiten obligasi-terutama di sektor teknologi yang rutin menerbitkan obligasi-membengkak karena pasar meminta kupon yang lebih tinggi untuk seri surat utang baru sehingga menggerus profitabilitas mereka. Akibatnya, kemarin indeks Nasdaq yang berisi saham unggulan teknologi anjlok 1,8%. Padahal, indeks Dow Jones masih menguat sementara indeks S&P 500 melemah tipis. Bursa AS akan ditutup pada Kamis untuk libur Thanksgiving dan sesi perdagangannya dipangkas pada Jumat. "Ini jelas kisah mengenai rotasi... dengan renominasi [Jerome] Powell pasar sekarang menilai ini sebagai kisah yang dibaca ulang, di mana risiko dan kekhawatiran terkait kenaikan infeksi Covid diabaikan ," tutur Rob Haworth, perencana investasi senior Bank Wealth Management, seperti dikutip CNBC International. TIM RISET CNBC INDONESIA [Gambas:Video CNBC] (ags/ags) Adblock test (Why?)

Abaikan Data Klaim Pengangguran, Wall Street DIbuka Anjlok
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat (AS) tertekan pada pembukaan perdagangan Rabu (24/11/2021), di tengah kenaikan inflasi yang memicu aksi jual saham teknologi dan buruknya data ritel. Indeks Dow Jones Industrial Average drop 100 poin (-0,3%) pukul 08:30 waktu setempat (20:30 WIB) dan selang 20 menit menjadi 146,1 poin (-0,41%) ke 35.667,73. S&P 500 susut 24,4 poin (-0,52%) ke 4.666,32. Nasdaq anjlok 130,6 poin (-0,83%) ke 15.644,55. Saham Tesla di sesi pra-pembukaan melemah lagi setelah Elon Musk menjual kepemilikannya senilai US$ 1 miliar. Saham peritel tertekan menyusul rilis kinerja keuangan mereka per kuartal III-2021 yang buruk. Saham Gap anjlok 22% di sesi pembukaan setelah nilai laba bersihnya ternyata nyaris separuh dari ekspektasi pasar. Kenaikan kasus Covid-19 di Eropa juga memicu kecemasan investor, terutama karena pemerintah Jerman menjajaki kemungkinan memberlakukan kembali pembatasan aktivitas masyarakat (lockdown). Data ekonomi yang diperhatikan adalah klaim tunjangan pengangguran mingguan, rilis Produk Domestik Bruto (PDB), dan inflasi acuan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yakni personal consumer index (PCE). The Fed juga akan merilis risalah rapat bulan lalu mereka. Aslinya, pasar mendapatkan kabar positif dari data klaim tunjangan pengangguran pekan lalu yang di angka 199.000, atau terendah lebih dari 50 tahun. Pertumbuhan ekonomi kuartal III-2021 juga direvisi naik menjadi 2,1%. Namun demikian, kabar buruk datang data pesanan barang tahan lama anjlok pada Oktober. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik menjadi 1,68% hari ini, dari posisi pekan lalu 1,55%. Kenaikan imbal hasil mengindikasikan penurunan harga di pasar karena aksi jual. Inflasi tinggi membuat return obligasi sekarang menjadi tergerus. Secara bersamaan, biaya pendanaan (cost of fund) emiten obligasi-terutama di sektor teknologi yang rutin menerbitkan obligasi-membengkak karena pasar meminta kupon yang lebih tinggi untuk seri surat utang baru sehingga menggerus profitabilitas mereka. Akibatnya, kemarin indeks Nasdaq yang berisi saham unggulan teknologi anjlok 1,8%. Padahal, indeks Dow Jones masih menguat sementara indeks S&P 500 melemah tipis. Bursa AS akan ditutup pada Kamis untuk libur Thanksgiving dan sesi perdagangannya dipangkas pada Jumat. "Ini jelas kisah mengenai rotasi... dengan renominasi [Jerome] Powell pasar sekarang menilai ini sebagai kisah yang dibaca ulang, di mana risiko dan kekhawatiran terkait kenaikan infeksi Covid diabaikan ," tutur Rob Haworth, perencana investasi senior Bank Wealth Management, seperti dikutip CNBC International. TIM RISET CNBC INDONESIA [Gambas:Video CNBC] (ags/ags) Adblock test (Why?)