“Aruna” Platform Bisnis Nelayan Masa Kini

Jakarta – Aruna adalah startup yang fokus dalam pengembangan platform industri perikanan dan kelautan yang didirikan oleh Farid Naufal Aslam (CEO), Utari Octavianty, dan IndrakaFadhlillah. Ide lahirnya startup ini berawal dari kepedulian untuk menyelesaikan masalah nelayan di Indonesia. Hampir 90% dari populasi nelayan merupakan nelayan skala kecil dengan upah rata-rata per bulan hanya 84 USD. Jumlah mereka selama 10 tahun terakhir menurun sampai 50%. “Hal ini terjadi dikarenakan perdagangan yang tidak adil, supply chain yang tidak efisien, data dan informasi yang kurang baik, serta kontrol kualitas ikan yang buruk,” ucap CEO Aruna, Farid Naufal Aslam. Sementara itu, Indonesia sendiri memiliki potensi yang sangat besar dalam industri perikanan. Indonesia merupakan penghasil tuna terbesar di dunia. Sedangkan untuk semua produksi komoditas perikanan, Indonesia menempati urutan ke-2, setelah Tiongkok. “Namun disayangkan, dengan potensi besar di bidang kelautan dan perikanan tersebut nelayan kita yang notabene mestinya dapat memanfaatkan potensi tersebut, masih hidup di taraf yang memprihatinkan,” ungkapnya prihatin. Maka dari itu, Aruna hadir untuk membantu standarisasi prosedur operasional nelayan dan kelompok pembudidaya ikan sesuai spesifikasi pelanggan. Aruna juga mengumpulkan data lokasi produksi, penelusuran produk, dan juga data pasar perikanan, sehingga komunitas kami dapat lebih memahami industri tersebut. Aruna menggunakan internet, aplikasi seluler, dan pendekatan data yang lebih baik dalam membantu perdagangan perikananan lebih efisien dan lebih terbuka dengan memperpendek supply chain melalui transaksi langsung antara produsen (nelayan dan pembudidaya ikan) dengan pelanggan melalui platform Aruna. Terdapat 2 aplikasi utama, antara lain Apilkasi Pemasok untuk kelompok nelayan dalam menginput data saat melakukan transaksi dan Aplikasi Pembeli yang digunakan oleh perusahaan atau pelanggan B2B untuk mencari dan membeli ikan dari kelompok nelayan. Terdapat program kreatif CRM dimana menggunakan sistem poin dan penghargaan bagi nelayan dan pembudidaya ikan untuk meningkatkan produktivitasnya. Aruna juga menganalisis data perdagangan untuk memberikan wawasan yang lebih bermanfaat bagi masyarakat, seperti prediksi fluktuasi harga, musim ikan, daerah penangkapan, dan lain-lainnya.   Melalui program PPBT yang diterima tahun 2016, Aruna sangat terbantu dalam proses pengembangan perusahaan terutama dibidang Inovasi dan Penelitian Teknologi. Sehingga terwujud dengan baik serta memberikan perubahan yang cukup signifikan bagi nelayan dan masyarakat di daerah pesisir. Saat ini, terdapat lebih dari 20.000 nelayan yang sudah terdaftar dalam sistem Aruna ini. Hanya saja, karena terbatasnya sumber daya yang dimiliki dalam membantu mendampingi para nelayan, baru ada 5.300+ nelayan di 15 kota/kabupaten di Indonesia yang sudah melakukan transaksi di platform Aruna. Semenjak adanya di platform Aruna ini, nelayan yang sebelumnya memiliki pendapatan minimal Rp 1.500.000/bulan sekarang dapat memiliki pendapatan minimal Rp 3.500.000/bulan dan maksimum Rp 15.000.000/bulan. Aruna juga membuka lapangan pekerjaan bagi perempuan untuk membantu mengukur, menyortir, mengolah, dan mengemas ikan. Para wanita ini adalah sebagian besar istri dari para nelayan ataupun warga sekitar dengan pendapatan berkisar antara Rp 1.500.000-Rp 6.000.000 per bulan berdasarkan produktivitas kelompok. Dengan adanya pandemi covid-19 yang juga mempengaruhi sektor perikanan dan kelautan, Aruna telah menyiapkan beberapa strategi dan peluang baru, seperti membuka pasar baru terutama di sektor B2C (melalui peluang e-commerce), melakukan kampanye rutin makan ikan secara meluas (menumbuhkan minat makan ikan), melakukan pendampingan kepada nelayan terkait literasi keuangan, pemanfaatan teknologi, dan peningkatan edukasi dari segi quality control penanganan seafood. Hal ini bertujuan untuk mendukung persiapan peningkatan skill pasca pandemi. Di sisi lain, Aruna juga melakukan perluasan pasar baik di nasional hingga internasional dimana saat ini 95% produk Aruna adalah produk yang berorientasi ekspor dan dalam 12 bulan ke depan Aruna memiliki target untuk meningkatkan pendapatan 20 kali lipat dan memiliki lebih dari 750-1.000 kelompok nelayan aktif dengan jumlah total 20.000 nelayan. Direktorat Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi Deputi Bidang Penguatan Inovasi Kemenristek/BRIN sumber : Aruna

“Aruna” Platform Bisnis Nelayan Masa Kini

Jakarta – Aruna adalah startup yang fokus dalam pengembangan platform industri perikanan dan kelautan yang didirikan oleh Farid Naufal Aslam (CEO), Utari Octavianty, dan IndrakaFadhlillah. Ide lahirnya startup ini berawal dari kepedulian untuk menyelesaikan masalah nelayan di Indonesia. Hampir 90% dari populasi nelayan merupakan nelayan skala kecil dengan upah rata-rata per bulan hanya 84 USD. Jumlah mereka selama 10 tahun terakhir menurun sampai 50%.

“Hal ini terjadi dikarenakan perdagangan yang tidak adil, supply chain yang tidak efisien, data dan informasi yang kurang baik, serta kontrol kualitas ikan yang buruk,” ucap CEO Aruna, Farid Naufal Aslam.

Sementara itu, Indonesia sendiri memiliki potensi yang sangat besar dalam industri perikanan. Indonesia merupakan penghasil tuna terbesar di dunia. Sedangkan untuk semua produksi komoditas perikanan, Indonesia menempati urutan ke-2, setelah Tiongkok. “Namun disayangkan, dengan potensi besar di bidang kelautan dan perikanan tersebut nelayan kita yang notabene mestinya dapat memanfaatkan potensi tersebut, masih hidup di taraf yang memprihatinkan,” ungkapnya prihatin.

Maka dari itu, Aruna hadir untuk membantu standarisasi prosedur operasional nelayan dan kelompok pembudidaya ikan sesuai spesifikasi pelanggan. Aruna juga mengumpulkan data lokasi produksi, penelusuran produk, dan juga data pasar perikanan, sehingga komunitas kami dapat lebih memahami industri tersebut.

Aruna menggunakan internet, aplikasi seluler, dan pendekatan data yang lebih baik dalam membantu perdagangan perikananan lebih efisien dan lebih terbuka dengan memperpendek supply chain melalui transaksi langsung antara produsen (nelayan dan pembudidaya ikan) dengan pelanggan melalui platform Aruna.

Terdapat 2 aplikasi utama, antara lain Apilkasi Pemasok untuk kelompok nelayan dalam menginput data saat melakukan transaksi dan Aplikasi Pembeli yang digunakan oleh perusahaan atau pelanggan B2B untuk mencari dan membeli ikan dari kelompok nelayan.

Terdapat program kreatif CRM dimana menggunakan sistem poin dan penghargaan bagi nelayan dan pembudidaya ikan untuk meningkatkan produktivitasnya. Aruna juga menganalisis data perdagangan untuk memberikan wawasan yang lebih bermanfaat bagi masyarakat, seperti prediksi fluktuasi harga, musim ikan, daerah penangkapan, dan lain-lainnya.  

Melalui program PPBT yang diterima tahun 2016, Aruna sangat terbantu dalam proses pengembangan perusahaan terutama dibidang Inovasi dan Penelitian Teknologi. Sehingga terwujud dengan baik serta memberikan perubahan yang cukup signifikan bagi nelayan dan masyarakat di daerah pesisir.

Saat ini, terdapat lebih dari 20.000 nelayan yang sudah terdaftar dalam sistem Aruna ini. Hanya saja, karena terbatasnya sumber daya yang dimiliki dalam membantu mendampingi para nelayan, baru ada 5.300+ nelayan di 15 kota/kabupaten di Indonesia yang sudah melakukan transaksi di platform Aruna. Semenjak adanya di platform Aruna ini, nelayan yang sebelumnya memiliki pendapatan minimal Rp 1.500.000/bulan sekarang dapat memiliki pendapatan minimal Rp 3.500.000/bulan dan maksimum Rp 15.000.000/bulan.

Aruna juga membuka lapangan pekerjaan bagi perempuan untuk membantu mengukur, menyortir, mengolah, dan mengemas ikan. Para wanita ini adalah sebagian besar istri dari para nelayan ataupun warga sekitar dengan pendapatan berkisar antara Rp 1.500.000-Rp 6.000.000 per bulan berdasarkan produktivitas kelompok.

Dengan adanya pandemi covid-19 yang juga mempengaruhi sektor perikanan dan kelautan, Aruna telah menyiapkan beberapa strategi dan peluang baru, seperti membuka pasar baru terutama di sektor B2C (melalui peluang e-commerce), melakukan kampanye rutin makan ikan secara meluas (menumbuhkan minat makan ikan), melakukan pendampingan kepada nelayan terkait literasi keuangan, pemanfaatan teknologi, dan peningkatan edukasi dari segi quality control penanganan seafood.

Hal ini bertujuan untuk mendukung persiapan peningkatan skill pasca pandemi. Di sisi lain, Aruna juga melakukan perluasan pasar baik di nasional hingga internasional dimana saat ini 95% produk Aruna adalah produk yang berorientasi ekspor dan dalam 12 bulan ke depan Aruna memiliki target untuk meningkatkan pendapatan 20 kali lipat dan memiliki lebih dari 750-1.000 kelompok nelayan aktif dengan jumlah total 20.000 nelayan.

Direktorat Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi

Deputi Bidang Penguatan Inovasi Kemenristek/BRIN

sumber : Aruna