Awali Pekan, Wall Street Dibuka "Berdarah-darah"

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat (AS) melemah pada pembukaan perdagangan Senin (24/1/2022) di tengah antisipasi investor atas rilis laporan keuangan emiten dan kebijakan moneter dari bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed). Indeks Dow Jones Industrial Average bablas 600 poin (-1,8%) pukul 08:30 waktu setempat (21:30 WIB) dan selang 30 menit menjadi minus 680,96 poin (-1,99%) ke 33.584,41. S&P 500 drop 103,83 poin (-2,36%) ke 4.294,11 dan Nasdaq ambruk 360,34 poin (-2,62%) ke 13.408,58. Indeks S&P 500 anjlok 9% lebih sepanjang bulan ini, kian mendekati koreksi bulan Januari terburuk sepanjang sejarah. Indeks emiten blue chip, Dow Jones mendekati level terburuknya sejak Maret 2020 tatkala terkoreksi 7%, sementara Nasdaq anjlok lebih dari 14% menjadi yang terburuk sejak Oktober 2008 (ketika ambruk hingga 17,7%). Indeks CBOE Volatility, atau seringkali disebut indeks kecemasan pasar, menyentuh level tertingginya dalam setahun terakhir, dengan mencapai level 35,84, di tengah rilis laporan keuangan kuartal IV-2021 yang mixed. Sejauh ini, lebih dari 74% konstituen indeks S&P 500 telah merilis kinerja keuangan yang melebihi estimasi pasar. Namun, dua perusahaan telah membuat para pelaku pasar kecewa pekan lalu, di antaranya Goldman Sachs dan Netflix. Investor memantau laporan keuangan dari perusahaan 'Big Tech' di antaranya Microsoft, Tesla, dan Apple. Saham ketiganya dibuka ambruk, masing-masing sebesar 1,5%, 6,8%, dan 1,7%. Sentimen lain datang dari rapat The Fed mengenai kebijakan moneter yang bakal diumumkan pada Rabu (26/1/2022) waktu setempat. Investor mencemaskan tentang berapa kali suku bunga akan dinaikkan oleh The Fed tahun ini dan kapan kenaikan akan dimulai. Goldman Sachs memproyeksikan kenaikan sebanyak 4 kali tahun ini. Namun, bank investasi ini melihat ada risiko bahwa kenaikan suku bunga akan lebih banyak dari itu karena lonjakan inflasi. Investor melepas saham yang berisiko tahun ini di tengah prediksi bahwa The Fed akan mengetatkan kebijakan moneter. Bitcoin anjlok lebih dari 8% sepekan kemarin ke level US$ 35.511/BTC, menghapus hampir setengah dari nilai yang pernah dicapai pada November. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS pekan lalu turun menjadi 1,76%. Imbal hasil yang menjadi acuan pasar ini sempat menguat awal tahun ini jelang kenaikan suku bunga acuan The Fed dan sedikit banyak memicu aksi jual besar-besaran saham teknologi. "Narasi besar tahun ini adalah kenaikan drastis suka bunga acuan, yang membuat investor harus melakukan valuasi ulang beberapa sektor yang mahal dan berpindah ke saham yang berbasis nilai [value stock]," tutur Kepala Ekuitas UBS Global Wealth Management di America David Lefkowitz dikutip dari CNBC International. TIM RISET CNBC INDONESIA [Gambas:Video CNBC] (ags/ags) Adblock test (Why?)

Awali Pekan, Wall Street Dibuka "Berdarah-darah"
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat (AS) melemah pada pembukaan perdagangan Senin (24/1/2022) di tengah antisipasi investor atas rilis laporan keuangan emiten dan kebijakan moneter dari bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed). Indeks Dow Jones Industrial Average bablas 600 poin (-1,8%) pukul 08:30 waktu setempat (21:30 WIB) dan selang 30 menit menjadi minus 680,96 poin (-1,99%) ke 33.584,41. S&P 500 drop 103,83 poin (-2,36%) ke 4.294,11 dan Nasdaq ambruk 360,34 poin (-2,62%) ke 13.408,58. Indeks S&P 500 anjlok 9% lebih sepanjang bulan ini, kian mendekati koreksi bulan Januari terburuk sepanjang sejarah. Indeks emiten blue chip, Dow Jones mendekati level terburuknya sejak Maret 2020 tatkala terkoreksi 7%, sementara Nasdaq anjlok lebih dari 14% menjadi yang terburuk sejak Oktober 2008 (ketika ambruk hingga 17,7%). Indeks CBOE Volatility, atau seringkali disebut indeks kecemasan pasar, menyentuh level tertingginya dalam setahun terakhir, dengan mencapai level 35,84, di tengah rilis laporan keuangan kuartal IV-2021 yang mixed. Sejauh ini, lebih dari 74% konstituen indeks S&P 500 telah merilis kinerja keuangan yang melebihi estimasi pasar. Namun, dua perusahaan telah membuat para pelaku pasar kecewa pekan lalu, di antaranya Goldman Sachs dan Netflix. Investor memantau laporan keuangan dari perusahaan 'Big Tech' di antaranya Microsoft, Tesla, dan Apple. Saham ketiganya dibuka ambruk, masing-masing sebesar 1,5%, 6,8%, dan 1,7%. Sentimen lain datang dari rapat The Fed mengenai kebijakan moneter yang bakal diumumkan pada Rabu (26/1/2022) waktu setempat. Investor mencemaskan tentang berapa kali suku bunga akan dinaikkan oleh The Fed tahun ini dan kapan kenaikan akan dimulai. Goldman Sachs memproyeksikan kenaikan sebanyak 4 kali tahun ini. Namun, bank investasi ini melihat ada risiko bahwa kenaikan suku bunga akan lebih banyak dari itu karena lonjakan inflasi. Investor melepas saham yang berisiko tahun ini di tengah prediksi bahwa The Fed akan mengetatkan kebijakan moneter. Bitcoin anjlok lebih dari 8% sepekan kemarin ke level US$ 35.511/BTC, menghapus hampir setengah dari nilai yang pernah dicapai pada November. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS pekan lalu turun menjadi 1,76%. Imbal hasil yang menjadi acuan pasar ini sempat menguat awal tahun ini jelang kenaikan suku bunga acuan The Fed dan sedikit banyak memicu aksi jual besar-besaran saham teknologi. "Narasi besar tahun ini adalah kenaikan drastis suka bunga acuan, yang membuat investor harus melakukan valuasi ulang beberapa sektor yang mahal dan berpindah ke saham yang berbasis nilai [value stock]," tutur Kepala Ekuitas UBS Global Wealth Management di America David Lefkowitz dikutip dari CNBC International. TIM RISET CNBC INDONESIA [Gambas:Video CNBC] (ags/ags) Adblock test (Why?)