Awalnya Halimah Tak Berminat Membawa Bayi Muhammad karena Yatim dan Miskin

SUDAH menjadi tradisi bangsawan Arab pada waktu itu adalah menyerahkan bayi-bayi mereka kepada perempuan dari pedalaman untuk disusui. Tujuannya agar bayi-bayi itu terhindar dari penyakit yang biasa menyebar di perkotaan dan agar fisiknya bisa tumbuh sehat di tengah-tengah hawa pedalaman yang segar. (Baca juga: Kecam Penghinaan Nabi Muhammad, Iran Panggil Diplomat Prancis)Juga agar bayi-bayi mereka terlatih berbahasa Arab yang fasih sejak kecil. Abdul Muththalib pun mencari perempuan pedalaman yang mau menyusui cucunya.Martin Lings menyebutkan keistimewaan hidup di pedesaan di antaranya: memiliki udara segar untuk pernafasan, bahasa Arab yang fasih untuk lidah, dan kebebasan bagi jiwa. (Baca juga: Arab Saudi Kecam Kartun yang Menghina Nabi Muhammad SAW)Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad menulis pada hari kedelapan sesudah dilahirkan bayi anak bangsawan Makkah biasanya dikirim ke pedalaman dan baru kembali pulang ke kota sesudah ia berumur delapan atau sepuluh tahun. Di kalangan kabilah-kabilah pedalaman yang terkenal dalam menyusukan ini di antaranya ialah kabilah Banu Sa'ad. (Baca juga: Muhammadiyah Sesalkan Pernyataan Presiden Prancis soal Kartun Nabi Muhammad)Perempuan-perempuan dari pedalaman itu tentu mengharapkan upah yang memadai untuk jasa menyusui selama dua tahun. Oleh sebab itu biasanya mereka menghindari bayi dengan status yatim seperti Muhammad. Salah satu dari perempuan-perempuan yang menawarkan jasanya itu adalah Halimah binti Abu Du’aib dari Bani Saad ibn Bakar atau Halimah Sa'diyah..Sementara masih menunggu orang yang akan menyusukan itu Siti Aminah menyerahkan anaknya kepada Thuwaiba, budak perempuan pamannya, Abu Lahab. Selama beberapa waktu ia disusukan, seperti Hamzah yang juga kemudian disusukannya. Jadi mereka adalah saudara susuan. Baca Juga:Halimah tidak berminat membawa bayi Muhammad, tetapi karena dia tidak mendapat bayi yang lain, maka dia akhirnya membawa bayi tersebut. Halimah berkata kepada suaminya Harits ibn Abdul Uzza yang biasa dipanggil Abu Kabsyah: “Tidak senang aku pulang bersama dengan teman-temanku tanpa membawa seorang bayi. Biarlah aku pergi kepada anak yatim itu dan akan kubawa juga” (Baca juga: Imbas Kartun Nabi Muhammad, Erdogan Minta Rakyat Turki Boikot Produk Prancis)“Baiklah” kata suaminya:”Mudah-mudahan karena itu Tuhan akan memberi berkah kepada kita.” Dalam buku Harta Nabi karya Abdul Fattah as-Saman dijelaskan, sejak Halimah mengambil Muhammad yang masih bayi untuk disusui, dia membawa beliau pulang dengan menggunakan kendaraannya. Rasulullah SAW diletakkan Halimah di pangkuannya untuk kemudian disusui. Seketika, susu yang deras keluar dan beliau dapat minum hingga kenyang. Saudara sepersusuannya juga minum bersama beliau hingga kenyang. Lalu, keberkahan demi keberkahan pun meliputi Halimah dan suaminya.Let's block ads! (Why?)

Awalnya Halimah Tak Berminat Membawa Bayi Muhammad karena Yatim dan Miskin
SUDAH menjadi tradisi bangsawan Arab pada waktu itu adalah menyerahkan bayi-bayi mereka kepada perempuan dari pedalaman untuk disusui. Tujuannya agar bayi-bayi itu terhindar dari penyakit yang biasa menyebar di perkotaan dan agar fisiknya bisa tumbuh sehat di tengah-tengah hawa pedalaman yang segar. (Baca juga: Kecam Penghinaan Nabi Muhammad, Iran Panggil Diplomat Prancis)

Juga agar bayi-bayi mereka terlatih berbahasa Arab yang fasih sejak kecil. Abdul Muththalib pun mencari perempuan pedalaman yang mau menyusui cucunya.

Martin Lings menyebutkan keistimewaan hidup di pedesaan di antaranya: memiliki udara segar untuk pernafasan, bahasa Arab yang fasih untuk lidah, dan kebebasan bagi jiwa. (Baca juga: Arab Saudi Kecam Kartun yang Menghina Nabi Muhammad SAW)

Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad menulis pada hari kedelapan sesudah dilahirkan bayi anak bangsawan Makkah biasanya dikirim ke pedalaman dan baru kembali pulang ke kota sesudah ia berumur delapan atau sepuluh tahun. Di kalangan kabilah-kabilah pedalaman yang terkenal dalam menyusukan ini di antaranya ialah kabilah Banu Sa'ad. (Baca juga: Muhammadiyah Sesalkan Pernyataan Presiden Prancis soal Kartun Nabi Muhammad)

Perempuan-perempuan dari pedalaman itu tentu mengharapkan upah yang memadai untuk jasa menyusui selama dua tahun. Oleh sebab itu biasanya mereka menghindari bayi dengan status yatim seperti Muhammad. Salah satu dari perempuan-perempuan yang menawarkan jasanya itu adalah Halimah binti Abu Du’aib dari Bani Saad ibn Bakar atau Halimah Sa'diyah..

Sementara masih menunggu orang yang akan menyusukan itu Siti Aminah menyerahkan anaknya kepada Thuwaiba, budak perempuan pamannya, Abu Lahab. Selama beberapa waktu ia disusukan, seperti Hamzah yang juga kemudian disusukannya. Jadi mereka adalah saudara susuan.

Baca Juga:

Halimah tidak berminat membawa bayi Muhammad, tetapi karena dia tidak mendapat bayi yang lain, maka dia akhirnya membawa bayi tersebut.

Halimah berkata kepada suaminya Harits ibn Abdul Uzza yang biasa dipanggil Abu Kabsyah: “Tidak senang aku pulang bersama dengan teman-temanku tanpa membawa seorang bayi. Biarlah aku pergi kepada anak yatim itu dan akan kubawa juga” (Baca juga: Imbas Kartun Nabi Muhammad, Erdogan Minta Rakyat Turki Boikot Produk Prancis)

“Baiklah” kata suaminya:”Mudah-mudahan karena itu Tuhan akan memberi berkah kepada kita.”

Dalam buku Harta Nabi karya Abdul Fattah as-Saman dijelaskan, sejak Halimah mengambil Muhammad yang masih bayi untuk disusui, dia membawa beliau pulang dengan menggunakan kendaraannya. Rasulullah SAW diletakkan Halimah di pangkuannya untuk kemudian disusui.

Seketika, susu yang deras keluar dan beliau dapat minum hingga kenyang. Saudara sepersusuannya juga minum bersama beliau hingga kenyang. Lalu, keberkahan demi keberkahan pun meliputi Halimah dan suaminya.

Let's block ads! (Why?)