Begini Ramalan Ekonomi RI Versi Mandiri Sekuritas

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Mandiri dan Mandiri Sekuritas melihat pada akhir kuartal II hingga akhir tahun 2022, perekonomian Indonesia memiliki indikator yang positif. Hanya saja, gangguan eksternal yang terbesar adalah geopolitik dari Rusia-Ukraina dan juga inflasi Amerika Serikat (AS). Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri Panji Irawan mengatakan volatilitas pasar dengan inflasi AS memicu ekspektasi pasar akan The Fed. Panji juga menyebutkan pasar ikut memperhatikan bagaimana manuver negara-negara maju menghadapi hal ini. "Berdasarkan data, dapat kami katakan perekonomian Indonesia, masih pulih dan berlanjut dengan beragam faktor. Peningkatan belanja bukan cuma yang mengandalkan komoditas namun juga pariwisata," ungkap Panji dalam Media Gathering & Presentasi Macroeconomic Outlook dari Tim Office of Chief Economist Bank Mandiri dan Mandiri Sekuritas, Rabu (22/6/2022). Panji menyebutkan pada kuartal II pertumbuhan ekonomi diprediksi mencapai 5,2% seiring belanja masyarakat dan juga ditopang pada Ramadan dan Idulfitri yang lalu. Di sisi lain, Panji juga menyebutkan tantangan yang harus diantisipasi, yaitu kenaikan harga energi (minyak, gas, dan batu bara) yang meningkatkan biaya produksi, produsen yang akan meningkatkan harga jual di tingkat konsumen (pass-through), depresiasi rupiah yang akan meningkatkan beban biaya-biaya dari bahan baku impor, kenaikan suku bunga yang akan meningkatkan beban utang perusahaan yang memiliki leverage ratio yang tinggi, dan terakhir koreksi harga komoditas ke level normal. "Namun masih ada optimis untuk tetap tumbuh dengan ekonomi domestik yang lebih baik dibanding negara berkembang lainnya," jelas Panji. Panji menyebutkan belajar dari menghadapi pandemi Covid-19, tantangan yang ada harus diantisipasi bersama, terutama dengan respons yang baik dari pemerintah dan bank sentral yang bisa menjaga optimisme, serta kerja sama yang baik dari masyarakat, maupun pelaku pasar dan juga investor. Bukan cuma itu, menurut Panji, Indonesia juga bisa mencontoh Bank of China yang bisa menjaga suku bunga. Panji menuturkan Indonesia masih sangat mungkin bertahan dan mengambil posisi yang baik. [Gambas:Video CNBC] (vap/vap) Adblock test (Why?)

Begini Ramalan Ekonomi RI Versi Mandiri Sekuritas
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Mandiri dan Mandiri Sekuritas melihat pada akhir kuartal II hingga akhir tahun 2022, perekonomian Indonesia memiliki indikator yang positif. Hanya saja, gangguan eksternal yang terbesar adalah geopolitik dari Rusia-Ukraina dan juga inflasi Amerika Serikat (AS). Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri Panji Irawan mengatakan volatilitas pasar dengan inflasi AS memicu ekspektasi pasar akan The Fed. Panji juga menyebutkan pasar ikut memperhatikan bagaimana manuver negara-negara maju menghadapi hal ini. "Berdasarkan data, dapat kami katakan perekonomian Indonesia, masih pulih dan berlanjut dengan beragam faktor. Peningkatan belanja bukan cuma yang mengandalkan komoditas namun juga pariwisata," ungkap Panji dalam Media Gathering & Presentasi Macroeconomic Outlook dari Tim Office of Chief Economist Bank Mandiri dan Mandiri Sekuritas, Rabu (22/6/2022). Panji menyebutkan pada kuartal II pertumbuhan ekonomi diprediksi mencapai 5,2% seiring belanja masyarakat dan juga ditopang pada Ramadan dan Idulfitri yang lalu. Di sisi lain, Panji juga menyebutkan tantangan yang harus diantisipasi, yaitu kenaikan harga energi (minyak, gas, dan batu bara) yang meningkatkan biaya produksi, produsen yang akan meningkatkan harga jual di tingkat konsumen (pass-through), depresiasi rupiah yang akan meningkatkan beban biaya-biaya dari bahan baku impor, kenaikan suku bunga yang akan meningkatkan beban utang perusahaan yang memiliki leverage ratio yang tinggi, dan terakhir koreksi harga komoditas ke level normal. "Namun masih ada optimis untuk tetap tumbuh dengan ekonomi domestik yang lebih baik dibanding negara berkembang lainnya," jelas Panji. Panji menyebutkan belajar dari menghadapi pandemi Covid-19, tantangan yang ada harus diantisipasi bersama, terutama dengan respons yang baik dari pemerintah dan bank sentral yang bisa menjaga optimisme, serta kerja sama yang baik dari masyarakat, maupun pelaku pasar dan juga investor. Bukan cuma itu, menurut Panji, Indonesia juga bisa mencontoh Bank of China yang bisa menjaga suku bunga. Panji menuturkan Indonesia masih sangat mungkin bertahan dan mengambil posisi yang baik. [Gambas:Video CNBC] (vap/vap) Adblock test (Why?)