Belajar dari Kasus Flu Spanyol

DUNIA telah menghadapi beberapa pandemi besar selama 100 tahun terakhir. Salah satu yang terburuk ialah pandemi influenza, yang disebut sebagai flu Spanyol, pada 1918 atau saat dunia dilanda Perang Dunia I. Tidak diketahui secara pasti asal jenis influenza tertentu yang menyebabkan pandemi. Namun, flu tersebut pertama kali terjadi di Eropa, Amerika Serikat, dan wilayah Asia sebelum menyebar ke hampir setiap wilayah di dunia dalam hitungan bulan. Tidak seperti kebanyakan negara yang menggunakan sensor zaman perang untuk meredam berita penyebaran virus, Spanyol tetap netral selama Perang Dunia I. Banyaknya laporan tentang penyakit di media Spanyol membuat publik mengasumsikan virus berasal dari Spanyol dan nama itu melekat hingga sekarang. Hasil penelitian lanjutan memercayai bahwa virus flu pada 1918 sebenarnya berasal dari tentara Amerika Serikat. Virus itu juga sudahmenewaskan banyak serdadu dan generasi muda. Flu Spanyol menginfeksi sekitar 500 juta orang di seluruh dunia yang pada saat itu sekitar sepertiga dari populasi Bumi. Lebih dari 50 juta orang meninggal dunia. Gelombang pertama pandemi 1918 terjadi saat musim semi dan umumnya ringan. Orang sakit yang mengalami gejala flu, seperti menggigil, demam, dan kelelahan, biasanya sembuh setelah beberapa hari. Jumlah kematian yang dilaporkan juga rendah. Kemudian, gelombang kedua influenza yang sangat menular muncul pada musim gugur di tahun yang sama. Kali ini, korban meninggal dalam beberapa jam atau beberapa hari karena gejala yang berkembang membuat kulit mereka membiru dan paru-paru dipenuhi cairan. Hanya dalam periode satu tahun, harapan hidup rata-rata di Amerika Serikat anjlok hingga belasan tahun. Masalah baru Baik flu Spanyol maupun virus korona baru (covid-19) memiliki persamaan, yaitu dianggap ‘baru’. Artinya, tidak ada seorang pun dan di eramana pun yang memiliki kekebalan terhadapnya. “Perbedaannya, angka kematian akibat flu 1918 sangat tinggi untuk kebanyakan orang di bawah usia 40 atau 50 tahun, sementara kelompok yang paling terkena dampak covid-19 ialah di atas usia 65,” kata Mark Schleiss, seorang spesialis penyakit menular di University of Minnesota, Amerika Serikat. Tidak ada vaksin flu Spanyol dan saat ini belum ada pula vaksin covid-19. Pandemi fl u Spanyol sendiri berakhir pada musim panas 1919. Itu disebabkan mereka yang terinfeksi meninggal atau mengembangkan kekebalan. Akibat belum ada antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri sekunder, upaya pengendalian flu Spanyol di seluruh dunia ketika itu terbatas pada tanggapan nonfarmasi, seperti isolasi, karantina, disinfektan, dan pembatasan pertemuan publik. Pada 2008, para peneliti mengumumkan penemuan faktor gen yang membuat flu 1918 begitu mematikan. Sekelompok gen memungkinkan virus melemahkan tabung bronkial dan paru-paru korban yang kemudian memudahkan masuknya bakteri pneumonia. (AFP/BioSpace/Hym/X-11) Let's block ads! (Why?)

 Belajar dari Kasus Flu Spanyol

DUNIA telah menghadapi beberapa pandemi besar selama 100 tahun terakhir. Salah satu yang terburuk ialah pandemi influenza, yang disebut sebagai flu Spanyol, pada 1918 atau saat dunia dilanda Perang Dunia I.

Tidak diketahui secara pasti asal jenis influenza tertentu yang menyebabkan pandemi. Namun, flu tersebut pertama kali terjadi di Eropa, Amerika Serikat, dan wilayah Asia sebelum menyebar ke hampir setiap wilayah di dunia dalam hitungan bulan.

Tidak seperti kebanyakan negara yang menggunakan sensor zaman perang untuk meredam berita penyebaran virus, Spanyol tetap netral selama Perang Dunia I. Banyaknya laporan tentang penyakit di media Spanyol membuat publik mengasumsikan virus berasal dari Spanyol dan nama itu melekat hingga sekarang.

Hasil penelitian lanjutan memercayai bahwa virus flu pada 1918 sebenarnya berasal dari tentara Amerika Serikat. Virus itu juga sudah
menewaskan banyak serdadu dan generasi muda.

Flu Spanyol menginfeksi sekitar 500 juta orang di seluruh dunia yang pada saat itu sekitar sepertiga dari populasi Bumi. Lebih dari 50 juta orang meninggal dunia.

Gelombang pertama pandemi 1918 terjadi saat musim semi dan umumnya ringan. Orang sakit yang mengalami gejala flu, seperti menggigil, demam, dan kelelahan, biasanya sembuh setelah beberapa hari. Jumlah kematian yang dilaporkan juga rendah.

Kemudian, gelombang kedua influenza yang sangat menular muncul pada musim gugur di tahun yang sama. Kali ini, korban meninggal dalam beberapa jam atau beberapa hari karena gejala yang berkembang membuat kulit mereka membiru dan paru-paru dipenuhi cairan. Hanya dalam periode satu tahun, harapan hidup rata-rata di Amerika Serikat anjlok hingga belasan tahun.

Masalah baru

Baik flu Spanyol maupun virus korona baru (covid-19) memiliki persamaan, yaitu dianggap ‘baru’. Artinya, tidak ada seorang pun dan di era
mana pun yang memiliki kekebalan terhadapnya.

“Perbedaannya, angka kematian akibat flu 1918 sangat tinggi untuk kebanyakan orang di bawah usia 40 atau 50 tahun, sementara kelompok yang paling terkena dampak covid-19 ialah di atas usia 65,” kata Mark Schleiss, seorang spesialis penyakit menular di University of Minnesota, Amerika Serikat.

Tidak ada vaksin flu Spanyol dan saat ini belum ada pula vaksin covid-19. Pandemi fl u Spanyol sendiri berakhir pada musim panas 1919. Itu disebabkan mereka yang terinfeksi meninggal atau mengembangkan kekebalan.

Akibat belum ada antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri sekunder, upaya pengendalian flu Spanyol di seluruh dunia ketika itu terbatas pada tanggapan nonfarmasi, seperti isolasi, karantina, disinfektan, dan pembatasan pertemuan publik.

Pada 2008, para peneliti mengumumkan penemuan faktor gen yang membuat flu 1918 begitu mematikan. Sekelompok gen memungkinkan virus melemahkan tabung bronkial dan paru-paru korban yang kemudian memudahkan masuknya bakteri pneumonia. (AFP/BioSpace/Hym/X-11)

Let's block ads! (Why?)