Berusaha Positif Dikala Hiruk Pikuk Pandemi Covid-19

Berusaha Positif Dikala Hiruk Pikuk Pandemi Covid-19
photo by : Prixa

Pada abad ke-21 ini masyarakat seluruh belahan dunia dilanda kekhawatiran akibat pandemi Covid-19. Seiring virus tersebut semakin menyebar dan menjadi topik hangat di seluruh dunia, banyak dari kami yang melihat dan mendengar bagaimana keadaan kota Wuhan dan negara Cina ketika sebagian masyarakatnya terserang Covid-19 di sosial media. Mulai dari yang tua sampai yang muda terkena dampak yang sangat serius, seperti pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang mengakibatkan perubahan semua metode dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Di tengah suasana seperti ini, pemerintah telah memberikan anjuran untuk mencegah Covid-19 dengan menjaga kebersihan dan physical distancing (jaga jarak fisik). Beberapa masyarakat mungkin telah mengikuti anjuran pemerintah tersebut. Namun, kedua hal tersebut tidak memiliki pengaruh untuk mencegah Covid-19. Meskipun telah menjaga kebersihan dan melakukan physical distancing, kemungkinan tertular masih tetap lebih besar dan sama sekali tidak membawa pengaruh apapun. Hal tersebut dapat dibenarkan dari adanya sebuah berita yang dilansir dari Hits.Grid.Id (16/4/20) mengatakan bahwa terdapat 2 keluarga yang sedang makan disebuah restoran tertular Covid-19 dari seseorang yang positif Corona dan berada di restoran yang sama. Padahal keluarga tersebut sudah menerapkan cuci tangan dan physical distancing.

 

Terdapat hal lainnya yang jauh lebih penting untuk mencegah Covid-19 yaitu, mengkarantina diri di rumah atau yang sering disebut dengan stay at home dan mengurangi interaksi sosial dengan orang lain. Fase karantina sangatlah tidak mudah bagi sebagian masyarakat, dimana ada yang terpaksa bepergian keluar rumah dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan pokok di rumah. Disaat-saat keluar dari rumahlah yang membuat perasaan was-was dan tidak aman karena berdekatan dengan orang-orang. Belum lagi kondisi panic buying yang terjadi di sejumlah negara seperti yang dikutip dari BBC.com (16/3/20) mengatakan bahwa di tengah merebaknya kasus virus corona, masyarakat membanjiri pasar-pasar swalayan di seluruh dunia. Kemudian, kasus panic buying yang terjadi di Indonesia juga membanjiri media massa seperti yang dilansir dari CNBC Indonesia (20/3/20) pengusaha ritel di dalam negeri mengakui setidaknya sudah ada 3 kali aksi panic buying konsumen di toko-toko ritel karena kepanikan corona. Dalam aksi ini konsumen melakukan pemborongan berupa bahan makanan, hand-sanitizer, dan masker. Keadaan tersebut tatkala menggoyahkan pikiran dan perasaan kita.

 

Tidak hanya itu, mendengar atau membaca berita-berita terkait COVID 19 baik dari media cetak, elektronik, maupun internet jika tidak disikapi dengan bijak justru seringkali memunculkan berbagai pikiran-pikiran buruk yang membuat kita merasa putus asa dalam kondisi ini (Syafitri, 2020). Pikiran-pikiran negatif yang seringkali muncul dapat menyebabkan stres, cemas maupun depresi obsesif (Kholidah & Alsa, 2012). Disamping itu, maraknya misleading information yang terjadi pada beberapa masyarakat dalam mencerna sebuah berita. Sehingga, sekali lagi hal ini dapat mempengaruhi pikiran menjadi negatif. Dalam sebuah berita yang dilansir dari Republika.co.id (8/4/20) menyatakan bahwa terdapat perdebatan di salah satu Whatsapp Group mengenai penyebab kematian seorang pilot TNI AU adalah terpapar virus Covid-19. Kemudian sebuah media yang misleading dalam memberitakannya bahkan telah mengore­ksi­nya de­ngan berita yang benar, bahwa pilot ter­sebut me­mang bukan yang membawa pesawat berisi alat pelindung diri (APD) dari Cina. Namun, seisi grup masih mempercayai dan memperdebatkan masalah tersebut dan seolah apa yang telah diklarifikasi oleh pemerintah maupun media adalah kebohongan semata. 

 

Sejalan dengan berita di atas menurut Novia (2018), pola pikir negatif juga tampak dari cara seseorang memandang atau merespon persoalan yang seringkali mengabaikan rasionalitas, logika, fakta atau informasi yang relevan. Mendukung pendapat sebelumnya, Naseem & Khalid (2010), berpendapat bahwa orang yang berpikir negatif tidak mengharapkan hal-hal berjalan sesuai rencana karenanya mengantisipasi hasil yang buruk. Kemudian adapun definisi negative thinking menurut Novia (2018), adalah seseorang memberikan penilaian atau kesimpulan secara bertolak belakang dari kenyataannya. Kemudian dapat disimpulkan bahwa, berpikir negatif adalah cara menyikapi suatu hal yang bersifat irasionalitas. Adapun individu yang tidak berpikir positif akan sulit menjalani hidup dan tentunya akan berdampak pada permasalahan mental bahkan fisik (Nurmayasari, dalam Cahyati, 2017). Jadi tidak heran jika banyak orang yang saat ini mengeluhkan tiba-tiba pusing, badan terasa tidak enak, seperti yang juga saya rasakan, sebagai akibat berbagai pikiran buruk kita sendiri (Syafitri, 2020). 

 

Disamping itu, banyak sekali masyarakat yang melihat, merasakan dan memikirkan betapa buruknya pandemi Covid-19 terhadap aktivitas di kehidupan sehari-hari. Pikiran negatif akan datang membombardir pikiran dan akan membanjiri kehidupan anda sehari-hari, jika tidak dikendalikan (Meadows, 2016). Lalu, bagaimana cara menyikapi pandemi tersebut? Salah satu penyelesaiannya adalah dengan berpikir (Gazali, dalam Pangastuti, 2014). Selanjutnya Peale (dalam Kholidah & Alsa, 2012) menambahkan bahwa perjuangan utama dalam mencapai kedamaian mental adalah usaha untuk mengubah sikap pikiran. Karena menurut Novia (2018), bahwa pikiranlah yang menjadi pendorong setiap perbuatan dan dampaknya. Hal ini sebagaimana penelitian Lestari (dalam Machmudiati & Diana, 2017) yang menemukan bahwa pelatihan berpikir positif efektif untuk mengubah sikap yang pesimis menjadi optimis serta efektif untuk menurunkan simtom depresi. Pemikiran positif didefinisikan sebagai istilah umum untuk suatu sikap keseluruhan yang tercermin dalam pemikiran, perilaku, perasaan, dan berbicara yang dapat menunjang keberhasilan (Nurtiffany et al, 2018). Definisi lainnya menurut Cahyati (2017) mengatakan bahwa berpikir positif merupakan satu kesatuan yang terdiri tiga komponen, yaitu muatan pikiran, penggunaan pikiran dan pengawasan pikiran. Maka dari itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa berpikir positif adalah sebuah cara untuk terhindar dari perasaan yang tidak rasional. Berpikir positif dan berpikir negatif keduanya disaring melalui sistem kepercayaan kita (Anthony, 2004). Maka dari itu, orang-orang yang berpikir positif tidak akan pernah menyerah dalam menghadapi segala rintangan yang dihadapi (Cahyati, 2017). 

 

Adapun cara-cara mengatasi pikiran negatif  yang telah dikutip dari Meadows (2016), antara lain :

  1. Memilih kebahagiaan

Memilih kebahagiaan adalah ketika anda memutuskan untuk melakukannya setiap saat di setiap hari. Anda akan menemukan bahwa dalam proses itu, masih akan ada pikiran negatif yang terus-menerus muncul kembali tetapi memilih untuk bahagia lagi dan lagi adalah cara untuk memerangi hal itu.

  1. Menantang pikiran negatif anda

Satu hal yang perlu diperhatikan ketika anda condong ke arah negatif adalah memikirkan suatu situasi secara objektif, contohnya seperti ketika otak anda akan memberitahu “Anda selalu gagal dalam ujian.” (Cobalah untuk mengevaluasinya atau menulisnya di selembar kertas dan menantangnya) “Selalu? Bagaimana saya bisa lulus jika saya selalu gagal ujian?” “Bagaimana saya bisa gagal sesuatu yang saya telah menghabiskan waktu untuk mempersiapkan?”. 

  1. Mengganti pikiran negatif dengan pikiran positif

Setelah anda belajar mengidentifikasi dan menantang pikiran negatif ini, akan lebih mudah bagi anda untuk mengubahnya menjadi positif. Bersikap positif terhadap hasil yang diinginkan, jika anda 100% yakin bahwa Anda telah melakukan yang terbaik untuk mendapatkan hasil terbaik.

  1. Berhenti menyalahkan diri sendiri

Berpikirlah secara rasional dan mulailah lebih fokus pada kemampuan dan tujuan anda. Dengan cara ini, anda akan dapat mengalihkan perhatian anda dari hal-hal yang tidak menguntungkan atau memengaruhi anda  melainkan hanya pada hal-hal yang anda dapat kontrol.

  1. No to filter thinking

Ada beberapa kebenaran dalam memandang “brighter side” kehidupan; anda mungkin tidak menyadarinya, tetapi melihat kedua sisi positif dan negatif dari suatu situasi akan memberikan wawasan yang lebih dalam dan akan membantu anda saat mencapai tujuan dengan lebih cepat dan lebih baik.

 

Dengan demikian, bisa dihayati bahwa dengan adanya pandemi ini seluruh manusia dapat bersatu padu dan saling menumbuhkan rasa saling peduli satu dengan yang lainnya sehingga tumbuhnya cinta kasih yang mungkin dalam waktu belakangan ini manusia mengedepankan kebencian dan konflik (Buana, 2020). Kemudian, tetaplah bisa mengambil hikmahnya dari pandemi Covid-19 ini. Karena akan hal ini kita diingatkan untuk menjaga kebersihan dan melakukan physical distancing. Apabila semua tindakan dilandasi dengan pemikiran positif maka segala hal yang terjadi akan berjalan baik-baik saja. Sehingga dengan berpikiran positif secara otomatis akan menjaga kesehatan serta ketahanan tubuh.

 

Referensi : 

Anthony, R. (2004). Beyond Positive Thinking: A No-nonsense Formula For Getting The Results You Want. E-book. Morgan James Publishing. Diambil dari https://b-ok.cc/book/538054/2fe071

Buana, D. R. (2020). Analisis perilaku masyarakat Indonesia dalam menghadapi pandemi virus corona (covid-19) dan kiat menjaga kesejahteraan jiwa. SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i. 7(3). 1-10. Diambil dari https://www.researchgate.net/publication/340103659_Analisis_Perilaku_Masyarakat_Indonesia_dalam_Menghadapi_Pandemi_Virus_Corona_Covid-19_dan_Kiat_Menjaga_Kesejahteraan_Jiwa

Cahyati, I. (2017). Konsep berpikir positif dalam buku terapi berpikir positif karya dr. Ibrahim elfiky dan relevansinya dengan pembentukan karakter muslim. (Skripsi). Surakarta (ID): Institut Agama Islam Negeri Surakarta. Diambil dari http://eprints.iain-surakarta.ac.id/580/

Imam, S. (2020, 16 April). Sudah rajin cuci tangan dan jaga jarak, 2 keluarga ini tetap tertular covid-19, ternyata benda ini yang jadi biang keladi. Hits.Grid.Id. Diambil dari https://hits.grid.id/read/482108138/sudah-rajin-cuci-tangan-dan-jaga-jarak-2-keluarga-ini-tetap-tertular-covid-19-ternyata-benda-ini-yang-jadi-biang-keladi?page=all

Kholidah, E. N., & Alsa, A. (2012). Berpikir positif untuk menurunkan stres psikologis. Jurnal psikologi, 39(1), 67-75. Diambil dari https://journal.ugm.ac.id/jpsi/article/view/6967

Lufkin, B. (2020, 16 Maret). Virus corona dan psikologi panic buying: semata antisipasi atau kepanikan irasional?. Bbc.com. Diambil dari https://www.bbc.com/indonesia/vert-cap-51887198

Machmudati, A., & Diana, R. R. (2017). Efektivitas pelatihan berpikir positif untuk menurunkan kecemasan mengerjakan skripsi pada mahasiswa. JIP (Jurnal Intervensi Psikologi), 9(1), 107-127. Diambil dari https://journal.uii.ac.id/intervensipsikologi/article/view/10601

Meadows, Z. (2016). Positive Thinking Eliminate Your Stress With Strategies You Can Do Right Now To Unleash Your Happier Life (Happiness, Affirmations, Optimism, Stop Negative Thinking). E-book. 1-38. Diambil dari https://b-ok.cc/book/4990064/c9786d

Naseem, Z., & Khalid, R. (2010). Positive thinking in coping with stress and health outcomes: Literature Review. Diambil dari https://www.semanticscholar.org/paper/Positive-Thinking-in-Coping-with-Stress-and-Health-Naseem-Khalid/db77200dc777353a922594e868554b12e0c8448b

Novia, D. R. (2018). Terapi rasional emotif dalam menangani pikiran negatif seorang anak terhadap ayah tirinya di yayasan hotline Surabaya. (Skripsi). Surabaya (ID): Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Diambil dari http://digilib.uinsby.ac.id/26759/

Nurtiffany, T., Wibowo, M., & Setyowani, N. (2018). Berpikir positif dan kepercayaan diri meningkat melalui konseling kelompok. Indonesian Journal of Guidance and Counseling: Theory and Application. 7(4). 52-58. Diambil dari https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jbk/article/view/18903

Pangastuti, M. (2014). Efektifitas pelatihan berpikir positif untuk menurunkan kecemasan dalam menghadapi ujian nasional (UN) pada siswa SMA. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia. 3(01). 32-41. Diambil dari http://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/persona/article/view/367

Putri, C. A. (2020, 20 Maret). Peritel blak-blakan ada 3 kali panic buying gegara corona. Cnbcindonesia.com. Diambil dari https://www.cnbcindonesia.com/news/20200320104453-4-146366/peritel-blak-blakan-ada-3-kali-panic-buying-gegara-corona 

Syafitri, D. U. (2020, 4 April). Kekuatan pikiran dan perasaan positif. Buletin.k-pin.org. Diambil dari http://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/618-kekuatan-pikiran-dan-perasaan-positif

Ucu, K.R. (2020, 8 April). Berpikir positif di tengah pandemi covid-19. Republika.co.id. Diambil dari https://republika.co.id/berita/q8fjrs282/berpikir-positif-di-tengah-pandemi-covid19