Cerita Mahasiswa Undip yang Tak Bisa Lebaran di Kampung Halaman

Ahmad AntoniMinggu, 24 Mei 2020 - 22:30 WIBSejumlah mahasiswa saat mengambil bantuan sembako berupa olahan dari ikan kerapu di halaman FPIK Undip. FOTO/SINDOnews/AHMAD ANTONISEMARANG - Suasana Lebaran di tengah pandemi COVID-19 terasa berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Apalagi bagi mahasiswa perantau yang tak bisa pulang kampung untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama keluarga.Seperti halnya Iwan F Pasaribu, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Undip asal Medan, Sumatera Utara. Dia mengaku bersedih karena tahun ini tak bisa mudik. "Ya dilema ga bisa mudik, jadinya Lebaran di sini (Semarang). Tapi kita juga sama dengan orang lain yang ingin berkumpul dengan keluarga, tapi mau bagaimana lagi demi jaga diri dan jaga keluarga, kita ikuti arahan kebijakan pemerintah," tutur Iwan kepada SINDOnews, Minggu (24/5/2020).Ia mengaku selama tinggal di kos, dirinya merasa kesulitan mencari makanan karena banyak warung makan yang tutup. "Susahnya mencari makan karena banyak warung yang tutup apalagi selama Lebaran ini. Namun beruntung masih ada kepedulian dari sejumlah pihak memberikan bantuan. Seperti bantuan dari iuran dosen, kampus, fakultas maupun alumni untuk mahasiswa perantau seperti kita," katanya. (Baca juga: Lebaran di Tengah Pandemi)Baca Juga:Di sisi lain, diakui Iwan, mengalami kejenuhan selama libur kuliah lebih dari dua bulan diganti dengan kuliah daring (online). "Bagaimana tidak jenuh, kuliah daring butuh jaringan dan data yang kuat. Selain itu kondisi COVID-19 ini juga menghambat kegiatan keorganisasian," ujar mahasiswa semester 4 ini.Hal senada juga diungkapkan rekannya yang juga asal Medan, Yolanda Manurung. Dia mengaku lebih banyak duka dibanding sukanya. "Sukanya ga da, dukanya banyak. Ya karena ga bisa pulang. Di daerah saya di-lockdown, setelah ga ada lockdown ternyata mau pulang ga ada penerbangan," tutur Yolanda.Ia juga mengaku kesulitan mencari makan dan minum di sekitar kosnya, wilayah kampus Undip Tembalang. "Kalau libur pas Lebaran gini memang sulit cari makan karena banyak warung yang tutup. Ya beruntung masih ada bantuan sembako dari berbagai pihak," katanya.Sementara, mahasiswa Undip asal Nusa Tenggara Timur (NTT), Doren Satya Nugraha mengaku sangat terpukul atas kondisi pandemi COVID-19. Selain kuliah harus dilakukan daring, kondisi perekonomian begitu ia rasakan dampaknya."Kalau ditanya duka, ya dukanya paling banyak terdampak ekonomi. Ekonomi saya cukup terganggu, orang tua jauh juga terhambat kondisi perekonomian," kata Doren.Mahasiswa semester 4 FPIK itu juga merasakan kesulitan mencari makan di warung sekitar tempat kosnya. "Beruntung kita masih punya stok makanan dan bantuan sembako. Saya bersyukur banget adanya bantuan karena kemarin-kemarin kesulitan mencari makanan," katanya.(abd) Berita Terkait KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini) Disqus Facebook Let's block ads! (Why?)

Cerita Mahasiswa Undip yang Tak Bisa Lebaran di Kampung Halaman
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Ahmad AntoniCerita Mahasiswa Undip yang Tak Bisa Lebaran di Kampung Halaman
Sejumlah mahasiswa saat mengambil bantuan sembako berupa olahan dari ikan kerapu di halaman FPIK Undip. FOTO/SINDOnews/AHMAD ANTONI

SEMARANG - Suasana Lebaran di tengah pandemi COVID-19 terasa berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Apalagi bagi mahasiswa perantau yang tak bisa pulang kampung untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama keluarga.

Seperti halnya Iwan F Pasaribu, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Undip asal Medan, Sumatera Utara. Dia mengaku bersedih karena tahun ini tak bisa mudik. "Ya dilema ga bisa mudik, jadinya Lebaran di sini (Semarang). Tapi kita juga sama dengan orang lain yang ingin berkumpul dengan keluarga, tapi mau bagaimana lagi demi jaga diri dan jaga keluarga, kita ikuti arahan kebijakan pemerintah," tutur Iwan kepada SINDOnews, Minggu (24/5/2020).

Ia mengaku selama tinggal di kos, dirinya merasa kesulitan mencari makanan karena banyak warung makan yang tutup. "Susahnya mencari makan karena banyak warung yang tutup apalagi selama Lebaran ini. Namun beruntung masih ada kepedulian dari sejumlah pihak memberikan bantuan. Seperti bantuan dari iuran dosen, kampus, fakultas maupun alumni untuk mahasiswa perantau seperti kita," katanya. (Baca juga: Lebaran di Tengah Pandemi)

Baca Juga:

Di sisi lain, diakui Iwan, mengalami kejenuhan selama libur kuliah lebih dari dua bulan diganti dengan kuliah daring (online). "Bagaimana tidak jenuh, kuliah daring butuh jaringan dan data yang kuat. Selain itu kondisi COVID-19 ini juga menghambat kegiatan keorganisasian," ujar mahasiswa semester 4 ini.

Hal senada juga diungkapkan rekannya yang juga asal Medan, Yolanda Manurung. Dia mengaku lebih banyak duka dibanding sukanya. "Sukanya ga da, dukanya banyak. Ya karena ga bisa pulang. Di daerah saya di-lockdown, setelah ga ada lockdown ternyata mau pulang ga ada penerbangan," tutur Yolanda.

Ia juga mengaku kesulitan mencari makan dan minum di sekitar kosnya, wilayah kampus Undip Tembalang. "Kalau libur pas Lebaran gini memang sulit cari makan karena banyak warung yang tutup. Ya beruntung masih ada bantuan sembako dari berbagai pihak," katanya.

Sementara, mahasiswa Undip asal Nusa Tenggara Timur (NTT), Doren Satya Nugraha mengaku sangat terpukul atas kondisi pandemi COVID-19. Selain kuliah harus dilakukan daring, kondisi perekonomian begitu ia rasakan dampaknya.

"Kalau ditanya duka, ya dukanya paling banyak terdampak ekonomi. Ekonomi saya cukup terganggu, orang tua jauh juga terhambat kondisi perekonomian," kata Doren.

Mahasiswa semester 4 FPIK itu juga merasakan kesulitan mencari makan di warung sekitar tempat kosnya. "Beruntung kita masih punya stok makanan dan bantuan sembako. Saya bersyukur banget adanya bantuan karena kemarin-kemarin kesulitan mencari makanan," katanya.

(abd)

preload video

Berita Terkait

KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)

  • Disqus
  • Facebook

Let's block ads! (Why?)