Daftar Perusahaan Konsumen Gas Mitra Inpex dalam Proyek Blok Masela

loading... JAKARTA - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat Inpex Corporate akan melakukan Penandatangan Nota Kesepahaman (MoU) dengan sejumlah konsumen gas asal luar negeri. Di mana, konsumen itu berasal dari Asia Timur dalam proyek Blok Masela. SKK Migas Dwi Soetjipto merinci, sejumlah perusahaan konsumen itu seperti National Offshore Oil Corporation (CNOOC), CPC Corporation asal Taiwan, Sinopec, dan Kyushu Electric Power, perusahaan listrik di Jepang. Bahkan, Dwi menargetkan produksi gas di atas 80 persen dari total kapasitas produksi gas bila pembelinya sudah final. (Baca Juga: Sinyal Pertamina Gantikan Shell dalam Proyek Blok Masela Belum Terlihat)"Diharapkan dengan MoU ini nantinya bisa di atas 60 persen dari kapasitas produksi gas sudah ada pembelinya. Targetnya adalah minimum 80 persen dari total kapasitas produksi gas sudah ada pembelinya untuk bisa go to Final Investment Decision (FID)," ujar Dwi dalam RDP bersama Komisi VII DPR, Jakarta, Senin (24/08/2020).Baca Juga: Dalam kesempatan tersebut, Dwi juga menjelaskan bahwa, harga minyak mentah dunia dan permintaan gas global berdampak pada penurunan harga gas alam cair (LNG) di pasar global. Dia bilang, hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pihaknya untuk menggenjot proyek Blok Masela. Kekhawatiran itu seiring dengan revisi rencana pengembangan I Plan of Development (POD), dimana asumsi harga minyak yang digunakan yaitu, USD65 per barel, harga LNG USD7,47 per mmbtu, dan gas pipa sebesar USD6 per mmbtu. Sementara harga minyak mentah dunia berada di posisi USD40 per barrel-nya. Namun demikian, Dwi berharap angka-angka tersebut tidak mempengaruhi kerja sama antara sejumlah perusahaan konsumen asal Asia Timur itu dengan Inpex Corporate. Bahkan, dia berharap kesepatan secepatnya diambil kedua belah pihak. "Mestinya angka-angka ini memang ada perubahan, tetapi tidak terlalu jauh. Mudah-mudahan itu semua bisa disepakati kedua belah pihak," kata dia. (Baca Juga: Proyek Abadi Blok Masela Baru Digarap 2,2%, Ini Updatenya)Dia juga menuturkan, pihak Inpex bersama Pemerintah Daerah (Pemda) Maluku tengah membahas perihal tenaga kerja lokal di Blok Masela. Di mana akan ada sejumlah pusat pelatihan yang nantinya diperuntukkan bagi tenaga kerja lokal guna meningkatkan daya saing mereka. "Pemda Maluku juga sedang menyiapkan sejumlah pusat pelatihan dengan bekerjasama dengan berbagai pihak, termasuk Universitas Pattimura. Pembinaan kapasitas nasional dalam forum internasional dan lokal juga sudah dilaksanakan di beberapa tempat khususnya di Maluku," ujarnya.(akr) Let's block ads! (Why?)

Daftar Perusahaan Konsumen Gas Mitra Inpex dalam Proyek Blok Masela

loading...

JAKARTA - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat Inpex Corporate akan melakukan Penandatangan Nota Kesepahaman (MoU) dengan sejumlah konsumen gas asal luar negeri. Di mana, konsumen itu berasal dari Asia Timur dalam proyek Blok Masela.

SKK Migas Dwi Soetjipto merinci, sejumlah perusahaan konsumen itu seperti National Offshore Oil Corporation (CNOOC), CPC Corporation asal Taiwan, Sinopec, dan Kyushu Electric Power, perusahaan listrik di Jepang. Bahkan, Dwi menargetkan produksi gas di atas 80 persen dari total kapasitas produksi gas bila pembelinya sudah final.

(Baca Juga: Sinyal Pertamina Gantikan Shell dalam Proyek Blok Masela Belum Terlihat)

"Diharapkan dengan MoU ini nantinya bisa di atas 60 persen dari kapasitas produksi gas sudah ada pembelinya. Targetnya adalah minimum 80 persen dari total kapasitas produksi gas sudah ada pembelinya untuk bisa go to Final Investment Decision (FID)," ujar Dwi dalam RDP bersama Komisi VII DPR, Jakarta, Senin (24/08/2020).

Baca Juga:

Dalam kesempatan tersebut, Dwi juga menjelaskan bahwa, harga minyak mentah dunia dan permintaan gas global berdampak pada penurunan harga gas alam cair (LNG) di pasar global. Dia bilang, hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pihaknya untuk menggenjot proyek Blok Masela.

Kekhawatiran itu seiring dengan revisi rencana pengembangan I Plan of Development (POD), dimana asumsi harga minyak yang digunakan yaitu, USD65 per barel, harga LNG USD7,47 per mmbtu, dan gas pipa sebesar USD6 per mmbtu. Sementara harga minyak mentah dunia berada di posisi USD40 per barrel-nya.

Namun demikian, Dwi berharap angka-angka tersebut tidak mempengaruhi kerja sama antara sejumlah perusahaan konsumen asal Asia Timur itu dengan Inpex Corporate. Bahkan, dia berharap kesepatan secepatnya diambil kedua belah pihak. "Mestinya angka-angka ini memang ada perubahan, tetapi tidak terlalu jauh. Mudah-mudahan itu semua bisa disepakati kedua belah pihak," kata dia.

(Baca Juga: Proyek Abadi Blok Masela Baru Digarap 2,2%, Ini Updatenya)

Dia juga menuturkan, pihak Inpex bersama Pemerintah Daerah (Pemda) Maluku tengah membahas perihal tenaga kerja lokal di Blok Masela. Di mana akan ada sejumlah pusat pelatihan yang nantinya diperuntukkan bagi tenaga kerja lokal guna meningkatkan daya saing mereka.

"Pemda Maluku juga sedang menyiapkan sejumlah pusat pelatihan dengan bekerjasama dengan berbagai pihak, termasuk Universitas Pattimura. Pembinaan kapasitas nasional dalam forum internasional dan lokal juga sudah dilaksanakan di beberapa tempat khususnya di Maluku," ujarnya.

(akr)

Let's block ads! (Why?)