Demo Anti-Islam di Norwegia Berujung Bentrokan

Jakarta, CNN Indonesia -- Aksi demo anti-Islam di Ibu Kota Oslo, Norwegia, pada Sabtu (29/8) pekan lalu berujung bentrokan akibat insiden penistaan kitab suci Alquran, setelah insiden yang sama terjadi di Swedia.Seperti dilansir WION News, Senin (31/8), bentrokan terjadi ketika kelompok Hentikan Islamisasi di Norwegia (SIAN) berdemo di Oslo. Mereka berunjuk rasa di dekat gedung parlemen (Stortinget) setempat. Kelompok yang menentang unjuk rasa SIAN juga menggelar demo tandingan. Mereka meneriakkan sejumlah slogan "Tidak Ada Rasialis di Jalanan Kami" dan memukul-mukul alat musik perkusi. Menurut laporan kantor berita NTB, seorang perempuan yang turut dalam aksi unjuk rasa SIAN disebut merobek dan meludahi Alquran. Perempuan itu yang sempat menjadi tersangka ujaran kebencian sempat melontarkan ucapan yang seolah menantang para pengunjuk rasa tandingan. "Lihat, sekarang saya akan menodai Alquran," katanya. Kejadian itu langsung memicu amarah dari demonstran tandingan. Massa lantas menyerbu unjuk rasa SIAN. Seperti dilansir Pledge Times, kepolisian Norwegia yang berada di lokasi langsung berupaya memisahkan kedua kelompok. Mereka lantas terlibat bentrok dan saling lempar batu. Sejumlah kendaraan yang berada di lokasi rusak akibat menjadi sasaran amuk massa. Aparat juga menangkap 29 orang terkait bentrokan itu. Polisi lantas membubarkan unjuk rasa SIAN. "Kami harus menghentikan unjuk rasa karena tidak ingin hal itu semakin memburuk," kata perwakilan Kepolisian Oslo, Torgeir Brenden. Dilansir TRT, Kelompok sayap kanan di Norwegia dalam beberapa tahun belakangan dilaporkan semakin gencar mengkampanyekan soal Islamofobia. Bahkan, Partai Sayap Kanan (FrP) lolos ke parlemen dan berkoalisi dengan Partai Konservatif pada 2003. Berdiri sejak 1987, FrP mengusung ide politik anti-Muslim dan anti-imigrasi. Selain itu, gagasan-gagasan tentang teori ideologi ekstrem kanan menyebar sangat luas di negara itu. Tokoh sayap kanan sekaligus pemimpin organisasi Human Rights Service (HRS) di Norwegia, Hege Storhaug, bahkan melontarkan teori yang menyamakan Islam dengan paham Nazi, dan khawatir Muslim akan menguasai Eropa. Sampai saat ini tercatat ada sekitar 150 ribu warga Muslim yang bermukim di Norwegia. Penganut ideologi ekstrem kanan di Norwegia juga nekat melakukan serangan bersenjata. Yang paling mematikan adalah yang dilakukan Anders Behring Breivik yang menyerang kamp musim panas di Pulau Utoya pada 22 Juli 2011. Akibat perbuatannya, 77 nyawa melayang. Aksi Breivik lantas ditiru oleh Philip Manshaus, yang menyerang sebuah masjid di Baerum. (TRT, WION News, Pledge Times/ayp)[Gambas:Video CNN]

Demo Anti-Islam di Norwegia Berujung Bentrokan
Jakarta, CNN Indonesia --

Aksi demo anti-Islam di Ibu Kota Oslo, Norwegia, pada Sabtu (29/8) pekan lalu berujung bentrokan akibat insiden penistaan kitab suci Alquran, setelah insiden yang sama terjadi di Swedia.

Seperti dilansir WION News, Senin (31/8), bentrokan terjadi ketika kelompok Hentikan Islamisasi di Norwegia (SIAN) berdemo di Oslo. Mereka berunjuk rasa di dekat gedung parlemen (Stortinget) setempat.

Kelompok yang menentang unjuk rasa SIAN juga menggelar demo tandingan. Mereka meneriakkan sejumlah slogan "Tidak Ada Rasialis di Jalanan Kami" dan memukul-mukul alat musik perkusi.

Menurut laporan kantor berita NTB, seorang perempuan yang turut dalam aksi unjuk rasa SIAN disebut merobek dan meludahi Alquran.

Perempuan itu yang sempat menjadi tersangka ujaran kebencian sempat melontarkan ucapan yang seolah menantang para pengunjuk rasa tandingan.

"Lihat, sekarang saya akan menodai Alquran," katanya.

Kejadian itu langsung memicu amarah dari demonstran tandingan. Massa lantas menyerbu unjuk rasa SIAN.

Seperti dilansir Pledge Times, kepolisian Norwegia yang berada di lokasi langsung berupaya memisahkan kedua kelompok.

Mereka lantas terlibat bentrok dan saling lempar batu. Sejumlah kendaraan yang berada di lokasi rusak akibat menjadi sasaran amuk massa.

Aparat juga menangkap 29 orang terkait bentrokan itu. Polisi lantas membubarkan unjuk rasa SIAN.

"Kami harus menghentikan unjuk rasa karena tidak ingin hal itu semakin memburuk," kata perwakilan Kepolisian Oslo, Torgeir Brenden.

Dilansir TRT, Kelompok sayap kanan di Norwegia dalam beberapa tahun belakangan dilaporkan semakin gencar mengkampanyekan soal Islamofobia.

Bahkan, Partai Sayap Kanan (FrP) lolos ke parlemen dan berkoalisi dengan Partai Konservatif pada 2003.

Berdiri sejak 1987, FrP mengusung ide politik anti-Muslim dan anti-imigrasi. Selain itu, gagasan-gagasan tentang teori ideologi ekstrem kanan menyebar sangat luas di negara itu.

Tokoh sayap kanan sekaligus pemimpin organisasi Human Rights Service (HRS) di Norwegia, Hege Storhaug, bahkan melontarkan teori yang menyamakan Islam dengan paham Nazi, dan khawatir Muslim akan menguasai Eropa.

Sampai saat ini tercatat ada sekitar 150 ribu warga Muslim yang bermukim di Norwegia.

Penganut ideologi ekstrem kanan di Norwegia juga nekat melakukan serangan bersenjata. Yang paling mematikan adalah yang dilakukan Anders Behring Breivik yang menyerang kamp musim panas di Pulau Utoya pada 22 Juli 2011.

Akibat perbuatannya, 77 nyawa melayang.

Aksi Breivik lantas ditiru oleh Philip Manshaus, yang menyerang sebuah masjid di Baerum.

(TRT, WION News, Pledge Times/ayp)

[Gambas:Video CNN]