Didesak Pemegang Saham, Kawasan Industri Morowali Bangun PLTS 150 MW

Kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) berencana untuk membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 150 megawatt (MW). Ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap PLTU yang berbahan bakar batu bara.CEO PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) Alexander Barus mengatakan penggunaan listrik dari energi baru terbarukan (EBT) berasal dari desakan pemegang saham yang mulai serius dalam memperhatikan isu lingkungan. Sumber energi utama kawasan IMIP hingga saat ini masih berasal dari PLTU batu bara."Pemegang saham menganggap secara bertahap harus bisa digantikan. kalau gak bisa seluruhnya tapi sebagian dari batu bara ini kita gantikan," kata dia dalam Webinar Mineral for Energy - 2nd Edition of Minerba Webinar Series, Selasa malam (14/9).Untuk itu, pihaknya telah merencanakan pembangunan PLTS dengan kebutuhan lahan sebesar 150 hektare (ha). Meski begitu, masih ada persoalan yang belum selesai terkait pengadaan lahan tersebut. "Ini isu yang ingin kami pecahkan. PLTU batu bara ini kami ganti dengan tenaga listrik yang lebih bersih," kata dia.Adapun kebutuhan batu bara untuk kawasan IMIP tiap tahunnya mencapai 9 juta metrik ton. Kebutuhan tersebut setidaknya untuk menggerakkan PLTU dengan kapasitas kurang lebih 3.200 MW.Kawasan IMIP saat ini memiliki tiga klaster utama produksi. Pertama, klaster stainless steel dengan kapasitas produksi 3 juta metrik ton (MT) per tahun. Kedua, carbon steel dengan kapasitas produksi 3,5 MT/tahun dengan total investasi US$ 1,1 miliar.Ketiga, klaster komponen baterai untuk kendaraan listrik yang terdiri dari PT Huayue Nickel Cobalt dengan kapasitas produksi nickel-cobalt 70.000 MT/tahun, PT QMB New Energy Material 50.000 MT/tahun nickel-sulfide dan nickel-cobalt.Lalu PT Fajar Metal Industry 60.000 MT/tahun nickel-sulfide, serta PT Teluk Metal Industry dengan kapasitas 60.000 MT/tahun nickel-sulfide. Total investasi untuk klaster ini mencapai US$ 3 miliar.Seperti diketahui, PLTS menjadi andalan Indonesia untuk menggenjot bauran EBT yang ditargetkan sebesar 23% pada 2025. Pemerintah memiliki tiga proyek PLTS besar yang menjadi andalan untuk mengejar target bauran tersebut.Ketiga proyek tersebut yaitu proyek PLTS atap dengan kapasitas total 3,6 GW, PLTS skala besar berkapasitas 5,34 GW, dan yang terbesar, proyek PLTS terapung di 375 lokasi dengan total kapasitas 28,20 GW. Adblock test (Why?)

Didesak Pemegang Saham, Kawasan Industri Morowali Bangun PLTS 150 MW
Kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) berencana untuk membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 150 megawatt (MW). Ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap PLTU yang berbahan bakar batu bara.CEO PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) Alexander Barus mengatakan penggunaan listrik dari energi baru terbarukan (EBT) berasal dari desakan pemegang saham yang mulai serius dalam memperhatikan isu lingkungan. Sumber energi utama kawasan IMIP hingga saat ini masih berasal dari PLTU batu bara."Pemegang saham menganggap secara bertahap harus bisa digantikan. kalau gak bisa seluruhnya tapi sebagian dari batu bara ini kita gantikan," kata dia dalam Webinar Mineral for Energy - 2nd Edition of Minerba Webinar Series, Selasa malam (14/9).Untuk itu, pihaknya telah merencanakan pembangunan PLTS dengan kebutuhan lahan sebesar 150 hektare (ha). Meski begitu, masih ada persoalan yang belum selesai terkait pengadaan lahan tersebut. "Ini isu yang ingin kami pecahkan. PLTU batu bara ini kami ganti dengan tenaga listrik yang lebih bersih," kata dia.Adapun kebutuhan batu bara untuk kawasan IMIP tiap tahunnya mencapai 9 juta metrik ton. Kebutuhan tersebut setidaknya untuk menggerakkan PLTU dengan kapasitas kurang lebih 3.200 MW.Kawasan IMIP saat ini memiliki tiga klaster utama produksi. Pertama, klaster stainless steel dengan kapasitas produksi 3 juta metrik ton (MT) per tahun. Kedua, carbon steel dengan kapasitas produksi 3,5 MT/tahun dengan total investasi US$ 1,1 miliar.Ketiga, klaster komponen baterai untuk kendaraan listrik yang terdiri dari PT Huayue Nickel Cobalt dengan kapasitas produksi nickel-cobalt 70.000 MT/tahun, PT QMB New Energy Material 50.000 MT/tahun nickel-sulfide dan nickel-cobalt.Lalu PT Fajar Metal Industry 60.000 MT/tahun nickel-sulfide, serta PT Teluk Metal Industry dengan kapasitas 60.000 MT/tahun nickel-sulfide. Total investasi untuk klaster ini mencapai US$ 3 miliar.Seperti diketahui, PLTS menjadi andalan Indonesia untuk menggenjot bauran EBT yang ditargetkan sebesar 23% pada 2025. Pemerintah memiliki tiga proyek PLTS besar yang menjadi andalan untuk mengejar target bauran tersebut.Ketiga proyek tersebut yaitu proyek PLTS atap dengan kapasitas total 3,6 GW, PLTS skala besar berkapasitas 5,34 GW, dan yang terbesar, proyek PLTS terapung di 375 lokasi dengan total kapasitas 28,20 GW. Adblock test (Why?)