Ditolak Sekolah Negeri Karena Tunarungu, Kini Jadi Lulusan UGM

Ditolak Sekolah Negeri Karena Tunarungu, Kini Jadi Lulusan UGM

Jakarta: Muhammad Erwin Althaf, 24 tahun, mempresentasikan skripsi pada Rabu, 18 September 2019 kemarin, sama seperti mahasiswa lainnya. Meski terbata-bata dan suara yang tidak begitu jelas, ia terus berusaha menjelaskan hasil penelitiannya yang berjudul "Pengaruh Penambahan Bungkil Jintan terhadap Konsumsi dan Kecernaan pada Domba Merino".
 
Althaf memang mahasiswa istimewa, hidup dengan keterbatasan karena menyandang disabilitas tunarungu. Meski begitu, ia berhasil menyelesaikan kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM), pada Program Sarjana Ilmu Peternakan.
 
Althaf bercerita, selama kuliah ia tidak pernah merasa kesulitan. Saat proses perkuliahan ia kerap dibantu oleh teman-temannya. Dosen di kelas pun menyampaikan materi melalui power point dan tulisan di papan tulis.

 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

  • Happy
  • Inspire
  • Confuse
  • Sad


“Kesulitan kalau dosen menjelaskan tidak disampaikan secara visual dan materi berbeda dengan yang ada power point,” kata Althaf dalam siaran pers yang diterima Medcom.id, Kamis 19 September 2019.
 
Ia mengakui, pernah minder dengan teman-temannya karena keterbatasannya yang tuli. Althaf hanya bisa mendengar suara dengan desibel tinggi.
 
“Pernah depresi dapat nilai D sementara teman-teman lainnya tidak ada yang dapat D. Saya merasa jadi tidak setara dengan yang lainnya,” ujarnya.
 
Pengalaman tak mengenakkan lainnya juga pernah dialaminya saat ditolak masuk di beberapa Sekolah Dasar (SD) Negeri karena keterbatasannya ini. Namun pada akhirnya ada satu SD Swasta di Semarang yang menawarkan diri untuk menerima Althaf sekolah di sana.
 
Sejak usia 3,5 tahun ia telah bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB). Sepanjang waktu, Althaf kerap menjalani serangkaian pemeriksaan dokter ahli.
 
Hasil pemeriksaannya mengatakan, bahwa Althaf memang mengalami keterbatasan mendengar, namun tidak untuk hal lain. Dokter ahli tersebut mengatakan bahwa kecerdasan Althaf sama dengan anak normal.
 
Dokter pun menyarakankan orang tua Althaf untuk memasukkannya ke SD umum. Hingga akhirnya Althaf menempuh Pendidikan SD dan SMP di sekolah umum di Semarang.
 
Walau memiliki keterbatasan, Althaf termasuk pribadi mandiri. Buktinya dia berani hidup jauh dari orang tua dengan melanjutkan pendidikan SMA di Yogyakarta.
 
Berkat ketekunan dalam belajar, menjadikannya selalu memiliki nilai akademik yang bagus. Althaf pun berhasil masuk UGM tanpa tes, atau melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).
 
Namun, ia berusaha untuk mensyukuri kondisi yang sudah ditakdirkan Tuhan untuknya. Dia yakin bahwa ada rencana lain yang sudah digariskan padanya kelak jika terus berusaha sebaik mungkin.
 
“Keterbatasan ini bukan penghalang untuk menggapai mimpi dan sukses,” papar Althaf.
 
Sementara itu, Kepala Bagian Humas dan Protokol UGM, Iva Ariani mengatakan, UGM terus berkomitmen untuk memperhatikan hak mahasiswa penyandang disabilitas agar dapat menjalani perkuliahan dengan baik. Hal tersebut juga wujud dari pengembangan bangunan atau sarana fisik yang mudah di akses bagi mahasiswa difabel.
 
Tak hanya itu, UGM juga menerapkan sistem pengajaran yang ramah disabilitas. Kebijakan yang diterapkan bagi para mahasiswa difabel adalah inklusi yang memungkinkan mereka untuk mengikuti proses belajar mengajar dalam satu kelas dengan mahasiswa lainnya.
 
Dosen pun dibekali dengan wawasan bagaimana memperlakukan keterbatasan tersebut. “Mahasiswa difabel di sini tidak dibedakan dengan mahasiswa lainnya," papar Iva.
 
Kendati begitu, Iva mengakui bahwa saat ini belum semua pembelajaran di UGM menyentuh kebutuhan mahasiswa difabel. Oleh sebab itu, melalui Pokja Difabel, UGM berusaha merancang dan merumuskan metode pembelajaran khusus yang dapat mengakomodasi kebutuhan para mahasiswa tersebut.
 
Sementara untuk layanan bagi mahasiswa difabel, dikatakan Iva, UGM menerapkan layanan yang didesain dapat mengakomodasi permohonan informasi mahasiswa difabel. Salah satunya dengan adanya petugas yang memiliki keterampilan bahasa isyarat.
“Sekarang memang belum ada Unit layanan Disabilitas, tetapi di 2020 mendatang akan ada unit layanan khusus bagi mahasiswa difabel,” tutur Iva.
 
UGM juga memiliki Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Peduli Difabel yang kegiatannya memberikan dampak positif bagi mahasiswa penyandang difabel. Unit ini juga memfasilitasi kebutuhan mahasiswa difabel, termasuk saat seleksi masuk UGM.
 

(CEU)