Etika Saling Menghormati yang Hilang di Rimba Jalan Raya

SAHABATKASKUS - Sebuah pengalaman/kejadian yang dilihat sehari hari terkadang kita abaikan, mungkin kita beranggapan itu bukan hal menarik, tapi tidak dengan apa yang aku lihat pada waktu itu, walau awalnya sama seperti sebelumnya bermaksud hendak melupakan apa yang kulihat, tapi ada hal yang menarik yang membuat aku membuatnya menjadi sebuah tulisan, apa yang menjadi alasan hal itu menjadi sebuah tulisan sebelumnya simak dulu dua kejadian yang menjadi alasan terhadap tulisan tersebut.Kejadian pertamaSebuah minibus berhenti dan menurunkan anaknya untuk sekolah, kebetulan sekolah tersebut berada di pinggir jalan raya, dan berada di sisi sebelah kanan minibus tersebut berhenti, si bapak pengemudi turun sebentar lalu menyeberangkan anaknya ke depan sekolah, tentu waktu yang diambil bapak pengemudi minibus untuk mengantarkan anaknya keseberang jalan menimbulkan kemacetan lintas kendaraan dibelakangnya, dibelakang mini bus itu adalah sebuah angkutan umum (angkot).Dengan brisik si angkot membunyikan klakson, sambil teriak teriak "Woi cepat kau, macat ini bla bla bla segala macam omelan".Si bapak tergesa gesa sambil menunjukkan gesture meminta maaf, kemudian naik kemini bus nya dan segera berlalu dari tempat tersebut.Siangkot pun berteriak setelah minibus bergerak, berujar "huh dasar orang kaya seenaknya saja".kejadian keduaSehari berikutnya, sebuah angkot yang terlihat mirip dengan kejadian pertama (sayang tak terhapal no.plat kendaraan angkot dikejadian pertama, sehingga tak bisa memastikan itu angkot yang sama), berhenti beberapa meter dari persimpangan empat untuk menurunkan penumpang, entah apa penyebabnya si angkot agak lama melayani penumpang yang turun dari angkotnya itu.Waktu yang diambil angkot tersebut mulai membuat jalanan pada jalur nya menjadi macet, sementara jalur sebelahnya berada pada posisi lampu merah, jelas jalur siangkot menjadi mengular dan menumpuk kendaraan di persimpangan empat tersebut, dibelakang siangkot adalah sebuah minibus yang mulai membunyikan klaksonnya agar siangkot segera bergerak, terlihat siangkot agak terburu-buru, entah karena kesal akhirnya siangkot pun berteliak ke arah belakangnya berkata "hah... Sabarlah orang kaya" sambil mulai bergerak, Rupanya karena kesal sedari tadi menunggu, siminibus membalas berteriak ke arah angkot yg berlalu itu, berkata "Woi,.. cepatlah orang miskin".Yang mendasari saya menuliskan hal tersebut adalah sebuah pemberitaan di media informasi, yang memberitakan kejar kejaran antara angkutan umum sambil mengacungkan tongkat besi dengan sebuah minibus, yang mana penyebabnya adalah si angkot tidak terima di klakson, dan berita itu mungkin tidak seheboh berita bila ada sikaya vs simiskin atau cerita mayoritas vs minoritas atau cerita prostitusi mahal, kalau cerita yang begitu pastilah akan jadi mashur selama sebulan.Kembali ke cerita, yang hendak ditanggapi adalah permasalahan yang mendasari timbulnya rasa permusuhan dijalanan dari segi penggunaan atribut kendaraan, (Jadi disini tidak dibahas dari sisi hubungan sosial, mungkin dithread lainnya).Atribut kendaraan yang dimaksudkan adalah Klakson kendaraan, dimana etika penggunaan klakson inilah yang menjadi pemicu munculnya emosi, lalu emosi tersebut diluapkan ke ucapan ucapan yang bisa saja berpotensi menjadi gesekan permusuhan.Etika yang baik saat ada kendaraan didepan tidak kunjung bergerak, bunyikanlah klakson singkat sebagai pemberitahuan.Apabila klakson panjang dan terus menerus justru itu menunjukkan rasa permusuhan dan pemaksaan.Saling menghormati sesama pengguna jalan dengan menerapkan etika yang baik pada penggunaan atribut kendaraan, akan membuat suasana kondusif dan terhindar dari rasa permusuhan.Hidup dengan rasa persaudaraan itu lebih bisa dinikmati daripada hidup dengan rasa permusuhan, yang didapat hanya saling membully tanpa ada penyelesaian masalah.Marilah segalanya diselesaikan secara baik (kekeluargaan), marilah kembali kepada budaya bangsa Indonesia.Terimakasih sudah berkunjung dan membaca thread sederhana ini Informasi terakhir mengenai pemberitaan si pengemudi angkot acungkan tongkat besi yang kejar kejaran dengan minibus, hendak di selesaikan secara baik baik menurut humas polda sumut (baca disini) Adblock test (Why?)

Etika Saling Menghormati yang Hilang di Rimba Jalan Raya
SAHABATKASKUS - Sebuah pengalaman/kejadian yang dilihat sehari hari terkadang kita abaikan, mungkin kita beranggapan itu bukan hal menarik, tapi tidak dengan apa yang aku lihat pada waktu itu, walau awalnya sama seperti sebelumnya bermaksud hendak melupakan apa yang kulihat, tapi ada hal yang menarik yang membuat aku membuatnya menjadi sebuah tulisan, apa yang menjadi alasan hal itu menjadi sebuah tulisan sebelumnya simak dulu dua kejadian yang menjadi alasan terhadap tulisan tersebut.Kejadian pertamaSebuah minibus berhenti dan menurunkan anaknya untuk sekolah, kebetulan sekolah tersebut berada di pinggir jalan raya, dan berada di sisi sebelah kanan minibus tersebut berhenti, si bapak pengemudi turun sebentar lalu menyeberangkan anaknya ke depan sekolah, tentu waktu yang diambil bapak pengemudi minibus untuk mengantarkan anaknya keseberang jalan menimbulkan kemacetan lintas kendaraan dibelakangnya, dibelakang mini bus itu adalah sebuah angkutan umum (angkot).Dengan brisik si angkot membunyikan klakson, sambil teriak teriak "Woi cepat kau, macat ini bla bla bla segala macam omelan".Si bapak tergesa gesa sambil menunjukkan gesture meminta maaf, kemudian naik kemini bus nya dan segera berlalu dari tempat tersebut.Siangkot pun berteriak setelah minibus bergerak, berujar "huh dasar orang kaya seenaknya saja".kejadian keduaSehari berikutnya, sebuah angkot yang terlihat mirip dengan kejadian pertama (sayang tak terhapal no.plat kendaraan angkot dikejadian pertama, sehingga tak bisa memastikan itu angkot yang sama), berhenti beberapa meter dari persimpangan empat untuk menurunkan penumpang, entah apa penyebabnya si angkot agak lama melayani penumpang yang turun dari angkotnya itu.Waktu yang diambil angkot tersebut mulai membuat jalanan pada jalur nya menjadi macet, sementara jalur sebelahnya berada pada posisi lampu merah, jelas jalur siangkot menjadi mengular dan menumpuk kendaraan di persimpangan empat tersebut, dibelakang siangkot adalah sebuah minibus yang mulai membunyikan klaksonnya agar siangkot segera bergerak, terlihat siangkot agak terburu-buru, entah karena kesal akhirnya siangkot pun berteliak ke arah belakangnya berkata "hah... Sabarlah orang kaya" sambil mulai bergerak, Rupanya karena kesal sedari tadi menunggu, siminibus membalas berteriak ke arah angkot yg berlalu itu, berkata "Woi,.. cepatlah orang miskin".Yang mendasari saya menuliskan hal tersebut adalah sebuah pemberitaan di media informasi, yang memberitakan kejar kejaran antara angkutan umum sambil mengacungkan tongkat besi dengan sebuah minibus, yang mana penyebabnya adalah si angkot tidak terima di klakson, dan berita itu mungkin tidak seheboh berita bila ada sikaya vs simiskin atau cerita mayoritas vs minoritas atau cerita prostitusi mahal, kalau cerita yang begitu pastilah akan jadi mashur selama sebulan.Kembali ke cerita, yang hendak ditanggapi adalah permasalahan yang mendasari timbulnya rasa permusuhan dijalanan dari segi penggunaan atribut kendaraan, (Jadi disini tidak dibahas dari sisi hubungan sosial, mungkin dithread lainnya).Atribut kendaraan yang dimaksudkan adalah Klakson kendaraan, dimana etika penggunaan klakson inilah yang menjadi pemicu munculnya emosi, lalu emosi tersebut diluapkan ke ucapan ucapan yang bisa saja berpotensi menjadi gesekan permusuhan.Etika yang baik saat ada kendaraan didepan tidak kunjung bergerak, bunyikanlah klakson singkat sebagai pemberitahuan.Apabila klakson panjang dan terus menerus justru itu menunjukkan rasa permusuhan dan pemaksaan.Saling menghormati sesama pengguna jalan dengan menerapkan etika yang baik pada penggunaan atribut kendaraan, akan membuat suasana kondusif dan terhindar dari rasa permusuhan.Hidup dengan rasa persaudaraan itu lebih bisa dinikmati daripada hidup dengan rasa permusuhan, yang didapat hanya saling membully tanpa ada penyelesaian masalah.Marilah segalanya diselesaikan secara baik (kekeluargaan), marilah kembali kepada budaya bangsa Indonesia.Terimakasih sudah berkunjung dan membaca thread sederhana ini Informasi terakhir mengenai pemberitaan si pengemudi angkot acungkan tongkat besi yang kejar kejaran dengan minibus, hendak di selesaikan secara baik baik menurut humas polda sumut (baca disini) Adblock test (Why?)