Gelombang Omicron Tak Terhindarkan

Peningkatan kasus Covid-19 varian Omicron telihat sejak awal Januari 2022. Upaya untuk mengantisipasi lonjakan jumlah kasus penularan mesti dilakukan agar kenaikan kasus tak sampai melebihi kapasitas layanan kesehatan.Sejumlah lapak yang menjual setelan baju sekolah kebanjiran pembeli yang berburu seragam untuk anaknya di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, Selasa (4/1/2022). Orangtua murid mempersiapkan kelengkapan sekolah anaknya seiring pemberlakuan keputusan SKB 4 Menteri yang mengeluarkan Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19. Keputusan ini mengatur pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas yang dapat dilaksanakan dengan kapasitas 100 persen setiap hari. Gelombang kasus Covid-19 karena meluasnya penularan varian Omicron tak bisa dihindari lagi. Upaya yang harus dilakukan adalah mencegah agar kenaikan kasus tidak sampai melebihi kapasitas layanan fasilitas kesehatan sehingga korban tidak tinggi.Peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia itu mulai terlihat sejak awal Januari 2022 dengan tren penambahan kasus harian. Pada Jumat (7/1/2022), jumlah kasus di Indonesia bertambah 518 dalam sehari, dua kali lipat dari penambahan kasus harian di bulan Desember 2021 yang rata-rata 200 kasus.Sebagian besar penambahan kasus Covid-19 harian ini berasal dari DKI Jakarta, yang mencatatkan 300 kasus baru, lebih tinggi dibandingkan satu hari sebelumnya 267 kasus. Hal ini terjadi seiring dengan terus meningkatnya temuan varian Omicron, yang menurut data Dinas Kesehatan DKI Jakarta jumlahnya mencapai 311 kasus.Epidemiolog Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia Iwan Ariawan, Sabtu (8/1/2022), mengatakan, peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia sulit dihindari. "Tetapi, kemungkinan lonjakan kasus Covid-19 kali ini tidak setinggi saat Indonesia dilanda gelombang Delta pertengahan tahun lalu," kata Iwan. Tingginya tingkat penularan di populasi, ditambah vaksinasi, menyebabkan sebagian besar orang Indonesia sudah memiliki antibodi SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19. " Bukan berarti yang sudah punya antibodi ini kebal Covid-19. Apalagi Omicron mengurangi efektivitas vaksin. Namun, dengan tingginya proporsi penduduk yang punya antibodi, hal ini bisa menangkal lonjakan tinggi," ungkapnya.Sebelumnya, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyampaikan bahwa 86,6 persen populasi telah memiliki antibodi SARS-CoV-2. Data ini didapatkan dari hasil survei serologi yang dilakukan pada 100 kabupaten/kota baik pada wilayah aglomerasi maupun non aglomerasi sepanjang bulan November - Desember 2021.Bukan berarti yang sudah punya antibodi ini kebal Covid-19. Apalagi Omicron mengurangi efektivitas vaksin. Namun, dengan tingginya proporsi penduduk yang punya antibodi, hal ini bisa menangkal lonjakan tinggi."Data menunjukkan informasi lainnya bahwa 73,2 persen populasi dari daerah yang disurvei ternyata telah memiliki antibodi padahal belum pernah terdeteksi positif maupun tervaksinasi Covid-19," kata Wiku.Alarm dari IndiaDirektur Pasca Sarjana Universitas YARSI yang juga Mantan Direktur Penyakit Menular Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara Tjandra Yoga Aditama mengatakan, lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di India saat ini juga bisa terjadi di Indonesia."Pada waktu kenaikan kasus kita di bulan Juni dan Juli 2021 yang lalu maka sekitar dua bulan sebelumnya juga ada kenaikan kasus di India dengan segala masalahnya," ujarnya. Penjual masker berkeliling untuk menawarkan masker di Bengaluru, ibu kota negara bagian Karnataka, India, Kamis (2/12/2021). India pada Kamis mengonfirmasi kasus pertama Covid-19 galur Omicron pada dua pria di Karnataka yang tiba dari luar negeri. Dalam beberapa minggu terakhir, kasus di India meningkat tajam. Pada 21 Desember 2021 penambahan kasus sehari sebanyak 6.317 orang dan lalu melonjak menjadi sekitar 90.928 sehari pada 5 Januari 2022.Khusus New Delhi, pemerintah setempat pada hari Selasa lalu mengeluarkan aturan pembatasan sosial ketat, termasuk aturan kerja di kantor, pembatasan penumpang angkutan umum, pembatasan bioskop, hingga sarana kebugaran."Bahkan, New Delhi akan dalam kondisi jam malam mulai jam 10 malam hari Jumat ini sampai jam 5 pagi hari Senin. Toko, pasar dan mal akan tutup. Teman-teman saya di New Delhi mengatakan sangat merasakan dampak pengetatan ini. Mereka praktis sepenuhnya di rumah saja kecuali ada keperluan mendesak, seluruh penduduk New Delhi yang lebih dari 20 juta orang," tuturnya.Seperti kita ketahui bahwa India pernah mengalami kasus Covid-19 yang sangat tinggi, sampai sekitar 400 ribu sehari di seluruh negara dan sekitar 15 ribu sehari di kota New Delhi saja. Angka ini kemudian menurun amat tajam dan kasus menjadi landai selama beberapa bulan, sekitar 7.000 sehari di India dan bahkan pernah kurang dari 100 orang sehari di New Delhi. Warga berada di batas zona karantina di Rumah Susun Nagrak, Cilincing, Jakarta Utara, Minggu (9/1/2022). Kasus baru penularan Covid-19 varian Omicron terus bertambah. Kementerian Kesehatan telah melaporkan adanya 5

Gelombang Omicron Tak Terhindarkan
Peningkatan kasus Covid-19 varian Omicron telihat sejak awal Januari 2022. Upaya untuk mengantisipasi lonjakan jumlah kasus penularan mesti dilakukan agar kenaikan kasus tak sampai melebihi kapasitas layanan kesehatan.Sejumlah lapak yang menjual setelan baju sekolah kebanjiran pembeli yang berburu seragam untuk anaknya di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, Selasa (4/1/2022). Orangtua murid mempersiapkan kelengkapan sekolah anaknya seiring pemberlakuan keputusan SKB 4 Menteri yang mengeluarkan Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19. Keputusan ini mengatur pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas yang dapat dilaksanakan dengan kapasitas 100 persen setiap hari. Gelombang kasus Covid-19 karena meluasnya penularan varian Omicron tak bisa dihindari lagi. Upaya yang harus dilakukan adalah mencegah agar kenaikan kasus tidak sampai melebihi kapasitas layanan fasilitas kesehatan sehingga korban tidak tinggi.Peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia itu mulai terlihat sejak awal Januari 2022 dengan tren penambahan kasus harian. Pada Jumat (7/1/2022), jumlah kasus di Indonesia bertambah 518 dalam sehari, dua kali lipat dari penambahan kasus harian di bulan Desember 2021 yang rata-rata 200 kasus.Sebagian besar penambahan kasus Covid-19 harian ini berasal dari DKI Jakarta, yang mencatatkan 300 kasus baru, lebih tinggi dibandingkan satu hari sebelumnya 267 kasus. Hal ini terjadi seiring dengan terus meningkatnya temuan varian Omicron, yang menurut data Dinas Kesehatan DKI Jakarta jumlahnya mencapai 311 kasus.Epidemiolog Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia Iwan Ariawan, Sabtu (8/1/2022), mengatakan, peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia sulit dihindari. "Tetapi, kemungkinan lonjakan kasus Covid-19 kali ini tidak setinggi saat Indonesia dilanda gelombang Delta pertengahan tahun lalu," kata Iwan. Tingginya tingkat penularan di populasi, ditambah vaksinasi, menyebabkan sebagian besar orang Indonesia sudah memiliki antibodi SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19. " Bukan berarti yang sudah punya antibodi ini kebal Covid-19. Apalagi Omicron mengurangi efektivitas vaksin. Namun, dengan tingginya proporsi penduduk yang punya antibodi, hal ini bisa menangkal lonjakan tinggi," ungkapnya.Sebelumnya, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyampaikan bahwa 86,6 persen populasi telah memiliki antibodi SARS-CoV-2. Data ini didapatkan dari hasil survei serologi yang dilakukan pada 100 kabupaten/kota baik pada wilayah aglomerasi maupun non aglomerasi sepanjang bulan November - Desember 2021.Bukan berarti yang sudah punya antibodi ini kebal Covid-19. Apalagi Omicron mengurangi efektivitas vaksin. Namun, dengan tingginya proporsi penduduk yang punya antibodi, hal ini bisa menangkal lonjakan tinggi."Data menunjukkan informasi lainnya bahwa 73,2 persen populasi dari daerah yang disurvei ternyata telah memiliki antibodi padahal belum pernah terdeteksi positif maupun tervaksinasi Covid-19," kata Wiku.Alarm dari IndiaDirektur Pasca Sarjana Universitas YARSI yang juga Mantan Direktur Penyakit Menular Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara Tjandra Yoga Aditama mengatakan, lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di India saat ini juga bisa terjadi di Indonesia."Pada waktu kenaikan kasus kita di bulan Juni dan Juli 2021 yang lalu maka sekitar dua bulan sebelumnya juga ada kenaikan kasus di India dengan segala masalahnya," ujarnya. Penjual masker berkeliling untuk menawarkan masker di Bengaluru, ibu kota negara bagian Karnataka, India, Kamis (2/12/2021). India pada Kamis mengonfirmasi kasus pertama Covid-19 galur Omicron pada dua pria di Karnataka yang tiba dari luar negeri. Dalam beberapa minggu terakhir, kasus di India meningkat tajam. Pada 21 Desember 2021 penambahan kasus sehari sebanyak 6.317 orang dan lalu melonjak menjadi sekitar 90.928 sehari pada 5 Januari 2022.Khusus New Delhi, pemerintah setempat pada hari Selasa lalu mengeluarkan aturan pembatasan sosial ketat, termasuk aturan kerja di kantor, pembatasan penumpang angkutan umum, pembatasan bioskop, hingga sarana kebugaran."Bahkan, New Delhi akan dalam kondisi jam malam mulai jam 10 malam hari Jumat ini sampai jam 5 pagi hari Senin. Toko, pasar dan mal akan tutup. Teman-teman saya di New Delhi mengatakan sangat merasakan dampak pengetatan ini. Mereka praktis sepenuhnya di rumah saja kecuali ada keperluan mendesak, seluruh penduduk New Delhi yang lebih dari 20 juta orang," tuturnya.Seperti kita ketahui bahwa India pernah mengalami kasus Covid-19 yang sangat tinggi, sampai sekitar 400 ribu sehari di seluruh negara dan sekitar 15 ribu sehari di kota New Delhi saja. Angka ini kemudian menurun amat tajam dan kasus menjadi landai selama beberapa bulan, sekitar 7.000 sehari di India dan bahkan pernah kurang dari 100 orang sehari di New Delhi. Warga berada di batas zona karantina di Rumah Susun Nagrak, Cilincing, Jakarta Utara, Minggu (9/1/2022). Kasus baru penularan Covid-19 varian Omicron terus bertambah. Kementerian Kesehatan telah melaporkan adanya 57 kasus baru varian tersebut sehingga total kasus kini menjadi 318 kasus. Selain tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan, situasi tersebut perlu ditindaklanjuti dengan menyiapkan tempat isolasi terpusat. "Artinya, India pernah tinggi, lalu turun dengan cepat, dan landai rendah selama beberapa bulan. Hal ini kurang lebih pola yang sama dengan di negara kita yang kasus pernah sekitar 50.000 sehari, lalu turun dengan cepat kemudian landai sampai hanya beberapa ratus sehari," ujarnya.Antisipasi fasilitas kesehatanEpidemiolog Griffith University Dicky Budiman mengatakan, sekalipun sebagian besar penduduk Indonesia sudah memiliki antibodi, namun hal ini jangan membuat lengah. Sejumlah negara lain, seperti Amerika Serikat, yang sebelumnya juga mengalami lonjakan kasus saat gelombang Delta, saat ini kembali mengalami rekor penambahan kasus harian.Selain itu, sekalipun Omicron dinilai lebih rendah dampak keparahannya dibandingkan Delta, data juga menunjukkan, tingkat hunian rumah sakit di Amerika Serikat saat ini mencapai rekor tertinggi selama pandemi. Data pada 7 Januari 2022 menunjukkan, dengan penambahan 900.000 kasus baru, sebanyak 131.000 pasien butuh perawatan rumah sakit dan 2.645 tambahan kematian."Fenomena di AS ini berpotensi terjadi juga di Indonesia," kata Dicky.Dicky juga mengingatkan, jika gelombang Omicron terus meninggi,  pada akhirnya bisa menulari kelompok rentan, terutama yang belum divaksin. "Saat ini mungkin yang tertular sebagian besar anak muda, namun jika terus meningkat akhirnya bisa mengenai kelompok rentan, termasuk anak-anak yang belum memenuhi kriteria vaksin. Di banyak negara, kasus Omicron pada anak-anak melonjak tinggi," kata dia.Rumah Susun Pasar Rumput yang dijadikan tempat karantina kesehatan bagi pelaku perjalanan luar negeri di Jakarta Selatan, Selasa (21/12/2021). Satgas Covid-19 dalam Surat Edaran Nomor 25/2021 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Internasional pada masa Pandemi Covid-19 mewajibkan pelaku perjalanan internasional melakukan tes usap PCR saat kedatangan, karantina selama 10 hari, tes ulang PCR kedua pada hari ke-9 karantina, dan karantina selama 14 hari khusus WNA/WNI yang tiba dari 11 negara tempat transmisi komunitas varian Omicron. Iwan setuju, penguatan fasilitas kesehatan, termasuk tenaga kesehatan, mengantisipasi lonjakan kasus memang harus dilakukan. "Dari beberapa kali pertemuan yang saya ikuti dengan Kementerian Kesehatan, mereka sudah menyiapkan hal ini juga. Saya kira antisipasi kita kali ini sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya, sehingga saya harap korban tak lagi tinggi," ujarnya.Adblock test (Why?)