Harga Pertalite Tak Naik, Ini Bukti Subsidi Bengkak!

Jakarta, CNBC Indonesia - Anggaran subsidi di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 membengkak. Tingginya harga minyak dunia dan upaya menjaga harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak naik menjadi penyebabnya. "Belanja non-KL (Kementerian/Lembaga) per akhir Mei 2022 adalah Rp 334,7 triliun, didominasi oleh subsidi dan kompensasi. Untuk subsidi mencapai Rp 65,24 triliun plus pembayaran kurang bayar Rp 10,17 triliun. Jadi lebih dari Rp 75,3 triliun yang merupakan pembayaran subsidi, kompensasi, atau kurang bayar," ungkap Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan, dalam konferensi pers APBN Kita edisi Juni 2022, Kamis (23/6/2022). Sumber: Kementerian Keuangan Peningkatan subsidi, lanjut Sri Mulyani, disebabkan oleh harga minyak dunia yang meningkat. Saat harga minyak mentah naik, tentu harga produk turunannya termasuk BBM sejatinya naik. Namun pemerintah berkomitmen untuk menjaga harga BBM, terutama jenis Pertalite yang paling banyak dikonsumsi rakyat Indonesia. Akibatnya, pemerintah harus menanggung beban subsidi yang lebih besar. "Selain perbedaan harga meningkat, volume naik. Ini perlu dikendalikan oleh Pertamina," tegas Bendahara Negara. Menurut Sri Mulyani, inilah perbedaan APBN 2022 dengan 2020 dan 2021. Pada 2020 dan 2021, APBN lebih berperan dalam menunjang aspek kesehatan dalam rangka penanganan pandemi Covid-19. Saat ini, APBN bersifat sebagai peredam atau shock absorber untuk menjaga daya beli masyarakat dengan tidak menaikkan harga BBM. "APBN menjadi shock absorber, harga tinggi namun tidak dilakukan perubahan harga di dalam negeri. Di luar ini, masih ada yang sudah dibahas DPR untuk menambah subsidi dan kompensasi Rp 275 triliun. Ini angka yang besar untuk barang-barang yang mengalami kenaikan namun tidak dilakukan kenaikan," papar Sri Mulyani. [Gambas:Video CNBC] Artikel Selanjutnya Subsidi BBM & LPG Bengkak 2 Kali Lipat, Tembus Rp24,8 T (aji/aji) Adblock test (Why?)

Harga Pertalite Tak Naik, Ini Bukti Subsidi Bengkak!
Jakarta, CNBC Indonesia - Anggaran subsidi di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 membengkak. Tingginya harga minyak dunia dan upaya menjaga harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak naik menjadi penyebabnya. "Belanja non-KL (Kementerian/Lembaga) per akhir Mei 2022 adalah Rp 334,7 triliun, didominasi oleh subsidi dan kompensasi. Untuk subsidi mencapai Rp 65,24 triliun plus pembayaran kurang bayar Rp 10,17 triliun. Jadi lebih dari Rp 75,3 triliun yang merupakan pembayaran subsidi, kompensasi, atau kurang bayar," ungkap Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan, dalam konferensi pers APBN Kita edisi Juni 2022, Kamis (23/6/2022). Sumber: Kementerian Keuangan Peningkatan subsidi, lanjut Sri Mulyani, disebabkan oleh harga minyak dunia yang meningkat. Saat harga minyak mentah naik, tentu harga produk turunannya termasuk BBM sejatinya naik. Namun pemerintah berkomitmen untuk menjaga harga BBM, terutama jenis Pertalite yang paling banyak dikonsumsi rakyat Indonesia. Akibatnya, pemerintah harus menanggung beban subsidi yang lebih besar. "Selain perbedaan harga meningkat, volume naik. Ini perlu dikendalikan oleh Pertamina," tegas Bendahara Negara. Menurut Sri Mulyani, inilah perbedaan APBN 2022 dengan 2020 dan 2021. Pada 2020 dan 2021, APBN lebih berperan dalam menunjang aspek kesehatan dalam rangka penanganan pandemi Covid-19. Saat ini, APBN bersifat sebagai peredam atau shock absorber untuk menjaga daya beli masyarakat dengan tidak menaikkan harga BBM. "APBN menjadi shock absorber, harga tinggi namun tidak dilakukan perubahan harga di dalam negeri. Di luar ini, masih ada yang sudah dibahas DPR untuk menambah subsidi dan kompensasi Rp 275 triliun. Ini angka yang besar untuk barang-barang yang mengalami kenaikan namun tidak dilakukan kenaikan," papar Sri Mulyani. [Gambas:Video CNBC] Artikel Selanjutnya Subsidi BBM & LPG Bengkak 2 Kali Lipat, Tembus Rp24,8 T (aji/aji) Adblock test (Why?)