IAIN Salatiga dan Pesantren Sinergi Perkuat Karakter Mahasiswa

Salatiga (Kemenag) --- Institut Agama Islam Negeri Salatiga (IAIN Salatiga)  menggandeng pondok pesantren se-Salatiga untuk memperkuat karakter mahasiswa. Program ini terutama diperuntukkan bagi 300 mahasiswa penerima  beasiwa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah tahun 2020. Angka ini meningkat dari penerima beasiswa KIP tahun sebelumnya yang hanya berjumlah 179 mahasiswa.  Untuk mewujudkan hal tersebut, IAIN Salatiga pun mengundang 50 pimpinan pondok pesantren se- Salatiga untuk bersama merancang pola sinergi dalam Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung di Ruang Rapat Utama Gedung KH Hasyim As’Ari Kampus III IAIN Salatiga.  “IAIN Salatiga konsisten untuk menjalankan pedoman dan juknis yang dikeluarkan Kementerian Agama tentang pemberian beasiswa KIP Kuliah,” tutur Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Sidqon Maesur, Kamis (15/10).  “Kami selalu memastikan mahasiswa yang mendapat beasiswa KIP Kuliah bisa masuk pesantren yang baik, memiliki semangat wasathiyah Islam dan jauh dari radikalisme,” lanjut Sidqon.  Sementara Kasubdit Sarana Prasarana dan Kemahasiswaan Direktorat Diktis Kemenag Ruchman Basori yang hadir sebagai narasumber menyampaikan pentingnya sinergi dan kolaborasi PTKI dan pondok pesantren. Menurutnya, mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah harus tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter dan berakhlakul karimah. Hal ini dapat diwujudkan salah satunya dengan pembinaan yang dilakukan oleh pondok pesantren.   “Sinergi dan kolaborasi antara PTKI dan Pontren sangat penting dalam rangka integrasi institusi pendidikan islam dan menjaga sustainability,” tukas kandidat Doktor Universitas Negeri Semarang ini.  Ruchman pun berharap PTKI dan Pondok Pesantren dapat duduk bersama untuk merancang kurikulum agar sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. “Misalnya, bagi mahasiswa yang mengambil program studi Islamic Studies, maka target di pesantren adalah ahar mereka menguasai agama dengan baik (tafaqquh fiddin),” kata Ruchman.  Sementara bagi mahasiswa yang mengambil program studi umum maka target kurikulumnya adalah mengenalkan agamanya dengan baik atau ta’aruf fiddin. Ruchman juga menggarisbawahi  untuk kemampuan baca tulis Al-Qur’an menjadi hal wajib yang harus dikuasai oleh para mahasiswa.  Ia pun berpesan agar terjadi sinergi dan kolaborasi perlu adanya kesadaran kolektif pimpinan PTKI dan Ponpes dalam menyediakan suasana kondusif bagai lahirnya generasi hebat dari penerima KIP kuliah. “Komitmen mencetak para bintang menjadi penting dan harus disusun rencana yang sistematis,” tegas Alumni IAIN Walisongo ini.

IAIN Salatiga dan Pesantren Sinergi Perkuat Karakter Mahasiswa

Salatiga (Kemenag) --- Institut Agama Islam Negeri Salatiga (IAIN Salatiga)  menggandeng pondok pesantren se-Salatiga untuk memperkuat karakter mahasiswa. Program ini terutama diperuntukkan bagi 300 mahasiswa penerima  beasiwa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah tahun 2020. Angka ini meningkat dari penerima beasiswa KIP tahun sebelumnya yang hanya berjumlah 179 mahasiswa. 

Untuk mewujudkan hal tersebut, IAIN Salatiga pun mengundang 50 pimpinan pondok pesantren se- Salatiga untuk bersama merancang pola sinergi dalam Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung di Ruang Rapat Utama Gedung KH Hasyim As’Ari Kampus III IAIN Salatiga. 

“IAIN Salatiga konsisten untuk menjalankan pedoman dan juknis yang dikeluarkan Kementerian Agama tentang pemberian beasiswa KIP Kuliah,” tutur Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Sidqon Maesur, Kamis (15/10). 

“Kami selalu memastikan mahasiswa yang mendapat beasiswa KIP Kuliah bisa masuk pesantren yang baik, memiliki semangat wasathiyah Islam dan jauh dari radikalisme,” lanjut Sidqon. 

Sementara Kasubdit Sarana Prasarana dan Kemahasiswaan Direktorat Diktis Kemenag Ruchman Basori yang hadir sebagai narasumber menyampaikan pentingnya sinergi dan kolaborasi PTKI dan pondok pesantren. Menurutnya, mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah harus tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter dan berakhlakul karimah. Hal ini dapat diwujudkan salah satunya dengan pembinaan yang dilakukan oleh pondok pesantren.  

“Sinergi dan kolaborasi antara PTKI dan Pontren sangat penting dalam rangka integrasi institusi pendidikan islam dan menjaga sustainability,” tukas kandidat Doktor Universitas Negeri Semarang ini. 

Ruchman pun berharap PTKI dan Pondok Pesantren dapat duduk bersama untuk merancang kurikulum agar sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. “Misalnya, bagi mahasiswa yang mengambil program studi Islamic Studies, maka target di pesantren adalah ahar mereka menguasai agama dengan baik (tafaqquh fiddin),” kata Ruchman. 

Sementara bagi mahasiswa yang mengambil program studi umum maka target kurikulumnya adalah mengenalkan agamanya dengan baik atau ta’aruf fiddin. Ruchman juga menggarisbawahi  untuk kemampuan baca tulis Al-Qur’an menjadi hal wajib yang harus dikuasai oleh para mahasiswa. 

Ia pun berpesan agar terjadi sinergi dan kolaborasi perlu adanya kesadaran kolektif pimpinan PTKI dan Ponpes dalam menyediakan suasana kondusif bagai lahirnya generasi hebat dari penerima KIP kuliah. “Komitmen mencetak para bintang menjadi penting dan harus disusun rencana yang sistematis,” tegas Alumni IAIN Walisongo ini.