Ingin jadi fotografer sukses? Pahami dulu soal manajemen fotografi

Saat ini fotografi tidak hanya sebatas hobi, melainkan bisa dijadikan bisnis yang menjanjikan di kalangan masyarakat.

Ingin jadi fotografer sukses? Pahami dulu soal manajemen fotografi
Ingin jadi fotografer sukses? Pahami dulu soal manajemen fotografi

Di zaman digital ini, kemudahan yang diberikan oleh teknologi digital membuat seolah-olah fotografi menjadi mudah dilakukan sehingga hampir semua orang sekarang memiliki minat atau hobi baru yaitu membuat foto dengan kamera digital ataupun smartphone. Sehingga fotografer pemula pun dapat menghasilkan karya fotografi seperti fotografer handal.

Fotografi saat ini tidak hanya sekadar hobi, wacana mencari teman baru, dan sekadar tren. Tetapi fotografi ini lebih dari itu, yaitu menjadikan fotografi sebagai lahan untuk berbisnis, membuka lahan usaha di bidang promosi, periklanan, publikasi, dokumentasi, dan pengembangan talenta.

Fotografi juga merupakan salah satu bagian yang berperan secara signifikan dalam pertumbuhan ekonomi sebuah negeri, struktur kehidupan, dan menjadi bagian dari sistem perkembangan kota-kota besar, melalui pemanfaatan fotografi pada ruang publik, ekonomi, budaya, untuk kepentingan perdagangan, kesenian, pariwisata, dan lainnya.

Sebelum memulai bisnis di bidang fotografi, diperlukan adanya manajemen fotografi. Manajemen fotografi adalah pengorganisasian yang tertata dan tersusun melalui proses, sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang terwujud dalam bentuk jasa fotografi dan karya fotografi, serta layak mendapat nilai atau harga.

Berikut ini 9 komponen dalam manajemen fotografi.

1. Penguasaan teknik fotografi.

Penguasaan teknik fotografi ini dapat dikatakan mutlak harus diketahui dikarenakan teknik ini digunakan untuk menerjemahkan permintaan atau khayalan pembeli jasa fotografi menjadi foto atau gambar. Minimal si fotografer mengerti mengenai teknik dasar fotografi (komponen exposure seperti diafragma, speed, ASA yang dikontrol oleh light meter) dan teknik dasar pencahayaan dasar (pemahaman mengenai jenis cahaya yaitu cahaya buatan, cahaya alami, cahaya sesaat yang menyinari objek (flash) dan cahaya yang terus-menerus menyinari objek (continuous lighting), alat ukur kekuatan cahaya (flash meter).

2. Survei pasar fotografi.

Kita bisa masuk di bagian foto pernikahan, foto liputan dokumentasi, foto produk, foto makanan, foto untuk iklan, foto untuk perusahaan, foto pabrik, foto model, foto fashion.

3. Survei pesaing fotografi.

Survei ini untuk melihat sejauh mana mata dagangan fotografi tersebut menguntungkan dan apa yang akan kita lakukan jika memasukinya. Apabila menguntungkan tetapi sudah banyak yang bermain atau berdagang di mata dagangan tersebut, kita harus membuat sesuatu yang berbeda jika tetap ingin masuk. Kita dapat membuat kemasan, layanan, atau harga yang berbeda dari para pemain atau pedagang yang sudah ada.

4. Segmentasi dan positioning.

Survei pasar dan pesaing fotografi merupakan salah satu syarat utama jika kita ingin melakukan kegiatan bisnis fotografi. Hal ini karena dengan survei tersebut kita dapat dengan mudah menentukan segmentasi dan dengan mudah menentukan posisi kita dalam bisnis fotografi.

Segmentasi dalam bisnis fotografi merupakan pilihan yang disesuaikan dengan kemampuan penguasan teknik fotogradi serta modal yang kita kuasai dan miliki, mengambil mata dagangan yang secara teknik fotografi sulit dikerjakan atau mudah dikerjakan, sisi peralatan fotografi dengan survei pasar dan pesaing.

Positioning dalam bisnis fotografi ini memegang peran yang penting karena dengan menentukan posisi kita akan masuk di bisnis fotografi tanpa beban moral yang berat. Hal yang terpenting, kita akan dengan mudah menentukan harga jual.

Contoh, jika kita memilih segmen mata dagangan fotografi pernikahan dengan mengukur kemampuan dari survei yang kita jalankan, kita akan dengan mudah menentukan posisi kita sebagai fotografer yang menjajakan dagangan fotografi pernikahan pada level murah, menengah, atau mahal. Dengan demikian, kita bisa melangkah masuk di bisnis fotografi dengan mudah, tentu dengan harapan langkah bisnisnya dapat berjalan terus ke atas bukan menurun atau jalan di tempat.

5. Administrasi surat menyurat.

Surat menyurat merupakan bagian komunikasi tertulis dengan menggunakan tata bahasa serta bentuk surat yang resmi. Komunikasi ini terjadi antara pelaku bisnis fotografi dan calon pengguna jasa fotografi.

Kendala surat menyurat dalam bisnis fotografi misalnya, ketidaktahuan isi surat yang akan ditulis dan ketidaktahuan bentuknya. Kunci utama membuat surat adalah isi surat yang singkat, padat, jelas.

a. Surat perkenalan dan portofolio.

Mengirimkan surat perkenalan dan portofolio karya foto kepada calon pengguna jasa fotografi merupakan cara yang mudah, tidak makan biaya, dan tepat guna. Dengan mengirimkan surat perkenalan yang disertai portofolio karya foto, kita dikenal oleh calon pengguna jasa fotografi secara segmentasi minat atau keinginan dan kemampuan teknik fotografi yang kita miliki serta kuasai.

b. Surat penawaran harga.

Surat penawaran harga dalam bisnis fotografi terjadi setelah kita bertemu dan mendengarkan serta menyamakan pemahaman apa yang diinginkan oleh calon pengguna jasa fotografi. Dengan mengerti keinginan calon penggunaan jasa fotografi, kita dapat menghitung berapa banyak foto yang akan kita gunakan, apakah ada peralatan yang harus kita pinjam atau sewa dari orang lain atau jasa penyewaan peralatan fotografi? Berapa hari pekerjaan pemotretan? Bagaimana dengan perizinan lokasi pemotretan? Output hasil pemotretan apakah cukup berupa file yang kita burning ke CD, DVD atau harddisk atau minta dicetak dalam bentuk album foto atau cetak foto dengan ukuran tertentu dan media tertentu? Bagaimana juga dengan akomodasi dan transportasi dari tempat kita ke lokasi serta transportasi selama pemotretan? Jangan dilupakan pula pihak yang menanggung konsumsi selama pemotretan berlangsung.

Semua hasil pertemuan kita dengan calon pengguna jasa fotografi merupakan komponen yang mendasari terbuatnya surat penawaran harga. Surat penawaran harga harus jelas, singkat, padat dan mudah dimengerti sehingga pembicaraan selanjutnya tidak lagi membahas teknik fotografi dan detail pelaksanaan, tetapi sudah membahas harga yang kita tawarkan.

c. Surat perjanjian kerja dan sistem pembayaran.

Surat ini merupakan urutan ketiga setelah mengajukan surat perkenalan yang disertai portofolio, bertemu dengan calon pengguna jasa fotografi, yang kemudian dituangkan menjadi surat penawaran harga. Harga penawaran disetujui oleh calon pengguna jasa fotografi dengan bertemu dah tukar pikiran terlebih dahulu. Dan isi surat perjanjian kerja adalah kesamaan pemahaman dan kesepakatan kerja yang berisi jumlah rupiah yang disetujui, lama kerja, output hasil pekerjaan fotografi, dan sistem pembayaran (memakai uang muka, jangka waktu pembayaran, serta besar kecilnya presentasi yang sudah disepakati). Tujuan adanya surat perjanjian kerja ini untuk memberikan jaminan bagi calon pengguna jasa fotografi bahwa hasil kerja kita akan memenuhi keinginan mereka serta perlindungan bagi yang mengerjakan dan yang memberi pekerjaan (jika terjadi kesalahpahaman atau foto yang dihasilkan tidak sesuai dengan keinginan).

d. Surat pengiriman barang.

 

Surat pengiriman barang atau disebut juga surat tanda terima barang sering dianggap tidak penting, karena pada saat mengirim barang biasanya kita bertemu langsung dengan orang yang menggunakan jasa fotografi. Tetapi surat pengiriman barang ini memiliki fungsi tidak saja sebagai bukti barang sudah diterima oleh pengguna jasa fotografi, tetapi juga sebagai dasar untuk menagih sisa pembayaran terakhir dari pengguna jasa fotografi.

e. Surat penagihan sisa pembayaran.

Surat penagihan sisa pembayaran merupakan akhir dari rangkaian pekerjaan fotografi. Surat ini harus dilampiri copy dari surat pengiriman barang karena dasar kita menagih sisa pembayaran adalah selesainnya pekerjaan, di mana hasil kerja kita sudah diterima oleh pengguna jasa fotografi yang ditandai dengan surat pengiriman barang.

6. Investasi peralatan.

Investasi peralatan ini adalah investasi uang yang diubah dalam bentuk peralatan. Ini tentu memiliki nilai susut yang harus kita perhitungkan karena nilai susut dan harga awal pembelian peralatan fotografi menjadi salah satu komponen harga jual yang akan kita buat dan kita tawarkan kepada calon pengguna jasa fotografi.

a. Kamera digital tergantung kebutuhan hasil akhir.

Kamera fotografi digital yang harus dimiliki adalah kamera dengan ukuran jumlah data digital yang dapat menyimpan data minimum sepuluh megapixel. Jika kita mendapatkan pekerjaan fotografi dengan tuntutan hasil akhir yang sesuai dengan jumlah data megapixel besar, kita tidak perlu membeli kamera dengan kemampuan tersebut, karena saat ini kita dapat menyewa kamera dengan kemampuan tersebut di tempat penyewaan peralatan fotografi.

b. Lensa wide, tele, macro.

Lensa ini disesuaikan dengan kebutuhan fotografer dalam segi pilihan sudut pandang. Contohnya, Lensa Wide (Lensa dengan sudut pandang lebar), Lensa Tele (Lensa dengan sudut pandang sempit), Vario Lens (Lensa dengan sudut satu lensa), Fixed Lens (Lensa dengan satu sudut pandang, baik itu wide (lebar), tele (sudut pandang sempit) atau macro.

c. Tripod.

Tripod berfungsi sebagai penyangga kamera.

d. Dedicated Flash, untuk teknik Strobist (Dua Set).

Dedicated Flash atau Flash merupakan tambahan yang sangat diperlukan pada saat melakukan kerja fotografi untuk menambah kekuatan cahaya yang jatuh ke objek. Lalu, Teknik Strobist ini dilakukan dengan cara; satu flash ditaruh diatas kamera dan satu flash yang lain terlepas dari kamera. Teknik Strobist ini bermanfaat karena cahaya yang jatuh ke objek akan lebih kuat dan terlihat alami.

e. Studio Flash atau Satu Set (Tiga Lampu).

Studio Flash ini sebenarnya peralatan yang 'belum mutlak' dikarenakan studio flash ini harus disesuaikan dengan jenis fotografi yang kita lakukan.

f. Reflector.

Jika kita hanya memiliki dedicated flash, maka pada saat mengerjakan pekerjaan fotografi kita memerlukan alat bantu reflector sebagai alat untuk media pantul cahaya.

g. Filter (UV, PL, ND).

Tiga filter yang wajib kita beli. Pertama, Filter UV yaitu filter yang digunakan untuk menyaring warna ultraungu atau kebiru-biruan yang ada pada cahaya, dan biasanya filter ini tidak berwarna (bening). Kedua, Filter Polarising (PL) yaitu filter yang digunakan untuk menghilangkan refleksi yang ada di permukaan objek. Jika melihat objek lalu kita putar salah satu ring filter tersebut, refleksi yang ada di permukaan akan menghilang. Ketiga, Filter Neutral Density (ND) yaitu filter yang digunakan untuk mengurangi kekuatan cahaya yang ada pada objek. Idealnya kita membeli filter ND yang gradual dari gelap ke terang karena filter ND gradual lebih bermanfaat dibanding dengan filter ND yang full

h. Storage, laptop, portable modem.

Storage digunakan untuk tempat menyimpan data digital, misalnya dengan menggunakan satu perangkat laptop. Laptop ini dipilih karena kecil, ringan, mudah dibawa-bawa, dan dilengkapi card reader (membaca data yang tersimpan di kartu digital (CF / SD Card). Lalu, Portable Modem digunakan untuk mengirim foto atau gambar ke calon pengguna jasa fotografi.

7. Investasi pendukung.

Dalam bisnis fotografi ini jangan terjebak hanya dalam hal membeli peralatan fotografi. Namun investasi pendukung selain peralatan fotografi ini adalah ATK (alat tulis kantor), pembuatan marketing kit (brosur, katalog, portofolio / kartu nama), dan sarana komunikasi (telepon rumah, handphone, dan jaringan internet).

8. Modal.

Modal mutlak yang harus kita miliki dan kuasai adalah teknik fotografi. 

9. Pembukuan.

Pembukuan merupakan komponen terakhir dari manajemen fotografi. Pengertian dari pembukuan ini adalah bagian kerja yang sederhana dari akuntansi, yaitu mencatat uang masuk dan uang keluar dengan tertib pada setiap pekerjaan fotografi. Sehingga kita bisa melihat selisih uang masuk dan uang keluar yang bisa berupa keuntungan, piutang, utang atau sebuah kerugian. Dan pembukuan ini juga dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi kinerja yang kita lakukan selama berbisnis fotografi ini.

Manajemen fotografi adalah pengorganisasian yang tertata dan tersusun melalui proses, sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang terwujud dalam bentuk jasa fotografi dan karya fotografi serta layak mendapat nilai atau harga. Dengan mengetahui beberapa komponen manajemen fotografi ini diharapkan bagi pembaca Brilio.net maupun fotografer pemula yang ingin menjadikan hobi fotografinya sebagai bisnis, tidak akan kebingungan lagi ketika ingin memulai bisnis fotografi ini hingga menjadi bisnis fotografi yang sukses. 

 

Source
  • MR, Tirto Andayanto. 2012. Bisnis Fotografi: Bagaimana Memulainya?. Solo: Metagraf, Creative Imprint of Tiga Serangkai.