Investor Kembali Memburu SBN, Harganya Menguat Lagi

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga mayoritas obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) kembali ditutup menguat pada perdagangan Kamis (23/6/2022), karena investor masih khawatir dengan potensi resesi ekonomi global yang akan kembali terjadi tahun ini. Mayoritas investor kembali ramai memburu SBN pada hari ini, ditandai dengan turunnya imbal hasil (yield) di hampir seluruh tenor SBN. Hanya SBN tenor 25 tahun yang yield-nya cenderung stagnan di level 7,594%, sebagaimana dilansir dari data Refinitiv. Sementara untuk yield SBN bertenor 10 tahun yang merupakan SBN acuan negara kembali melemah 6,3 basis poin (bp) ke 7,431% pada perdagangan hari ini. Yield berlawanan arah dari harga, sehingga turunnya yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%. Investor yang kembali memburu SBN pada hari ini menandakan bahwa mereka cenderung khawatir bahwa perekonomian bakal kembali melambat pada tahun ini. Bahkan, mereka khawatir bahwa resesi ekonomi global kembali terjadi tahun ini. Kekhawatiran resesi semakin menguat setelah ketua bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell dalam pidato di depan senat AS mengatakan bahwa kemungkinan resesi itu ada. Powell juga memastikan The Fed akan membawa inflasi ke level 2%. Pernyataan Powell tersebut menjadi sinyal jika The Fed akan menjadi lebih agresif ke depan meskipun hal tersebut bisa berbalik pada pelemahan ekonomi Paman Sam. Powell menambahkan, menurunkan inflasi tanpa risiko resesi kini menjadi lebih menantang. "Kami memahami persoalan besar yang disebabkan inflasi. Kami sangat berkomitmen untuk menurunkan inflasi. Kami tidak bermaksud untuk memprovokasi resesi. Namun, sangat penting untuk menstabilkan harga," tutur Powell di depan senat AS, seperti di kutip CNBC International. Sebagai catatan, inflasi AS terbang 8,6% pada Mei tahun ini, yang menandai rekor tertinggi sejak Desember 1981. The Fed sudah menaikkan suku bunga acuan mereka sebanyak tiga kali pada 2022, termasuk kenaikan sebesar 75 basis poin (bp) pada pekan lalu. Namun, Powell mengakui jika inflasi masih terlalu tinggi dan perlu segera dijinakkan. Tak hanya di Indonesia saja investor kembali memburu aset safe haven ini, tetapi di AS juga terjadi hal serupa, di mana yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) cenderung kembali melemah pada pagi hari ini waktu AS. Dilansir dari CNBC International, yield Treasury tenor 10 tahun melemah 3,2 bp ke level 3,124% pada pagi hari ini waktu AS, dari sebelumnya pada perdagangan Rabu kemarin di 3,156%. Kembali ke RI, Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,5% pada hari ini. Level ini menjadi suku bunga acuan terendah dalam sejarah Indonesia, dan sudah ditahan selama 16 bulan. "Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 22-23 Juni 2022 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 3,5%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%," kata Perry Warjiyo, Gubernur BI, dalam jumpa pers usai RDG, Kamis (23/6/2022). "Keputusan ini sejalan dengan upaya pengendalian inflasi dan menjaga nilai tukar rupiah. Ditambah dengan adanya tekanan eksternal terkait dengan risiko stagflasi di berbagai negara," lanjut Perry. Dengan ditahannya suku bunga, maka momentum pertumbuhan ekonomi di Indonesia akan tetap terjaga. Meski begitu, pasar keuangan selain SBN yakni rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau positif pada hari ini. Bahkan di kawasan Asia-Pasifik, mayoritas bursa sahamnya ditutup cerah bergairah. Hanya indeks KOSPI Korea Selatan dan Straits Times Singapura yang ditutup di zona merah. Positifnya sebagian besar bursa Asia-Pasifik, termasuk IHSG berbanding terbalik dengan bursa saham Eropa dan AS yang masih cenderung melemah pada hari ini. TIM RISET CNBC INDONESIA [Gambas:Video CNBC] Artikel Selanjutnya Jelang Imlek Investor Lepas SBN, Yield Menguat (chd/vap) Adblock test (Why?)

Investor Kembali Memburu SBN, Harganya Menguat Lagi
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga mayoritas obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) kembali ditutup menguat pada perdagangan Kamis (23/6/2022), karena investor masih khawatir dengan potensi resesi ekonomi global yang akan kembali terjadi tahun ini. Mayoritas investor kembali ramai memburu SBN pada hari ini, ditandai dengan turunnya imbal hasil (yield) di hampir seluruh tenor SBN. Hanya SBN tenor 25 tahun yang yield-nya cenderung stagnan di level 7,594%, sebagaimana dilansir dari data Refinitiv. Sementara untuk yield SBN bertenor 10 tahun yang merupakan SBN acuan negara kembali melemah 6,3 basis poin (bp) ke 7,431% pada perdagangan hari ini. Yield berlawanan arah dari harga, sehingga turunnya yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%. Investor yang kembali memburu SBN pada hari ini menandakan bahwa mereka cenderung khawatir bahwa perekonomian bakal kembali melambat pada tahun ini. Bahkan, mereka khawatir bahwa resesi ekonomi global kembali terjadi tahun ini. Kekhawatiran resesi semakin menguat setelah ketua bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell dalam pidato di depan senat AS mengatakan bahwa kemungkinan resesi itu ada. Powell juga memastikan The Fed akan membawa inflasi ke level 2%. Pernyataan Powell tersebut menjadi sinyal jika The Fed akan menjadi lebih agresif ke depan meskipun hal tersebut bisa berbalik pada pelemahan ekonomi Paman Sam. Powell menambahkan, menurunkan inflasi tanpa risiko resesi kini menjadi lebih menantang. "Kami memahami persoalan besar yang disebabkan inflasi. Kami sangat berkomitmen untuk menurunkan inflasi. Kami tidak bermaksud untuk memprovokasi resesi. Namun, sangat penting untuk menstabilkan harga," tutur Powell di depan senat AS, seperti di kutip CNBC International. Sebagai catatan, inflasi AS terbang 8,6% pada Mei tahun ini, yang menandai rekor tertinggi sejak Desember 1981. The Fed sudah menaikkan suku bunga acuan mereka sebanyak tiga kali pada 2022, termasuk kenaikan sebesar 75 basis poin (bp) pada pekan lalu. Namun, Powell mengakui jika inflasi masih terlalu tinggi dan perlu segera dijinakkan. Tak hanya di Indonesia saja investor kembali memburu aset safe haven ini, tetapi di AS juga terjadi hal serupa, di mana yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) cenderung kembali melemah pada pagi hari ini waktu AS. Dilansir dari CNBC International, yield Treasury tenor 10 tahun melemah 3,2 bp ke level 3,124% pada pagi hari ini waktu AS, dari sebelumnya pada perdagangan Rabu kemarin di 3,156%. Kembali ke RI, Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,5% pada hari ini. Level ini menjadi suku bunga acuan terendah dalam sejarah Indonesia, dan sudah ditahan selama 16 bulan. "Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 22-23 Juni 2022 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 3,5%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%," kata Perry Warjiyo, Gubernur BI, dalam jumpa pers usai RDG, Kamis (23/6/2022). "Keputusan ini sejalan dengan upaya pengendalian inflasi dan menjaga nilai tukar rupiah. Ditambah dengan adanya tekanan eksternal terkait dengan risiko stagflasi di berbagai negara," lanjut Perry. Dengan ditahannya suku bunga, maka momentum pertumbuhan ekonomi di Indonesia akan tetap terjaga. Meski begitu, pasar keuangan selain SBN yakni rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau positif pada hari ini. Bahkan di kawasan Asia-Pasifik, mayoritas bursa sahamnya ditutup cerah bergairah. Hanya indeks KOSPI Korea Selatan dan Straits Times Singapura yang ditutup di zona merah. Positifnya sebagian besar bursa Asia-Pasifik, termasuk IHSG berbanding terbalik dengan bursa saham Eropa dan AS yang masih cenderung melemah pada hari ini. TIM RISET CNBC INDONESIA [Gambas:Video CNBC] Artikel Selanjutnya Jelang Imlek Investor Lepas SBN, Yield Menguat (chd/vap) Adblock test (Why?)