Teologi Pembebasan Sebagai Rekontruksi Pemikiran Islam dalam Menyelesaikan Persoalan Sosio-Politik

Teologi Pembebasan Sebagai Rekontruksi Pemikiran Islam dalam Menyelesaikan Persoalan Sosio-Politik
Teologi Pembebasan Sebagai Rekontruksi Pemikiran Islam dalam Menyelesaikan Persoalan Sosio-Politik

TEOLOGI PEMBEBASAN SEBAGAI REKONSTRUKSI PEMIKIRAN ISLAM DALAM MENYELESAIKAN PERSOALAN SOSIO-POLITIK

Sudah sejak lama di Indonesia terjadi pertarungan serta pergulatan ideologi yang cukup mapan, diantaranya adalah ideologi Islam, Komunisme, Sosialisme. Perjalanan panjang ini sudah menjadi keniscayaan membuahkan cukup banyak pemikiran. 

Sejatinya,  ajaran Islam di Indonesia dari dulu hingga saat ini cukup survive dan banyak memberikan warna serta sumbangsih dalam membangun kedaulatan pun kesejahteraan rakyat. Namun yang menjadi persoalan yang paling mendasar ialah pada tahap implementasinya.

Islam menawarkan sebuah konsep tentang keadilan. Makna adil di dalam Islam, tidak hanya di artikan sebagai menempatkan sesuatu pada tempatnya saja. Lebih dari pada itu, adil berada pada akses yang proporsional dengan tidak mengabaikan nilai-nilainya.

Hiruk pikuk yang terjadi di negara ini tak lain dan tak bukan adalah belum selesainya atas pendalaman pemahaman ideologi yang di anutnya. Hal ini dapat terlihat dari perselisihan yang terjadi antar warga negara yang bahkan sesama kaum umat Islam itu sendiri.

Seorang pemikir Islam kontemporer asal India, Ashgar Ali Engineer menegaskan bahwa Teologi Pembebasan mengharuskan manusia terbebas dari belenggu-belenggu yang menjerat pikiran manusia. Dengan demikian, dalam konteks pemikiran Islam kontemporer, paradigma teologi pembebasan ini mencuat kepermukaan sebagai sebuah keniscayaan sejarah. Paradigma ini muncul seiring dengan adanya fenomena sosial berupa keterbelakangan, ketinggalan, kemiskinan, ketidakadilan, dan kebodohan masyarakat Islam dibandingkan masyarakat non Islam lainnya.

Paradigma ini dilatarbelakangi oleh banyaknya fenomena arogansi kekuasaan, ketidakadilan, penindasan terhadap kaum lemah, pengekangan terhadap aspirasi masyarakat banyak, diskriminasi kulit, bangsa atau jenis kelamin, penumpukan kekayaan dan pemusatan kekuasaan dalam realitas masyarakat kontemporer.

Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi bagi sekalian alam terutama untuk umat manusia, Islam adalah sebuah agama dalam pengertian teknis dan sosial-revolutif yang menjadi tantangan bagi yang mengancam struktur yang menindas pada saat ini. Adapun tujuan dasarnya adalah persaudaraan yang universal (universal brotherhood), kesejahteraan (equality) dan keadilan sosial (social justice). Untuk itulah Islam sangat menekankan kesatuan manusia (unitiy of mankind).

Selain daripada itu, Islam tidak menghendaki terhadap tirani. Karena tirani atau thagut merupakan suatu bentuk penindasan dari penggunaan kekuasaan terhadap manusia. Hal ini menjadi concern ajaran Islam terhadap segala bentuk penindasan yang ada di muka bumi.

Untuk itulah, teologi pembebasan sangat menekankan pada aspek praksis, yaitu kombinasi antara refleksi dan aksi, iman dan amal. Ia merupakan produk pemikiran yang diikuti dengan praksis untuk pembebas￾an. Jadi teologi pembebasan berupaya untuk menjadikan mereka yang lemah dan tertindas menjadi makhluk yang independen dan aktif. Karena hanya dengan menjadikan manusia yang aktif dan merdeka mereka dapat melepaskan diri dari belenggu penindasan.

Sumber inspirasi teologi pembebasan menurut Enginer adalah al￾Qur’an dan sejarah para rasul dan nabi Allah. Keberpihakan kedua sumber ini kepada kaum lemah tidak diragukan lagi. Al-Qur’an dengan jelas
mengajarkan untuk menyatuni anak-anak yatim, orang-orang lemah, menegakkan keadilan, dan menekankan agar kapital itu tidak hanya berputar-putar disegelitir orang. Penekanan demikian persis yang dipraktekkan oleh para rasul dan nabi Allah.

Dalam semangat teologi pembebasan ini, Engineer mentransformasi￾kan dua konsep kerangka praksis teologi pembebasan, yaitu: Pertama, konsep tauhid. Bagi Engineer, tauhid tidak hanya mengacu pada keesaan
Allah, namun juga pada kesatuan manusia (unity af mankind). Kesatuan bukan saja mengenai perkara akidah, tetapi adalah kesatuan dalam keadilan yang melintasi batas-batas keyakinan.

Kedua, konsep iman. Menurut Engineer kata iman berasal dari kata amn yang berarti selamat, damai, perlindungan, dapat diandalkan, terpercaya dan yakin. Untuk itu, iman tidak hanya soal kepercayaan kepada Allah, tetapi orang yang beriman harus dapat dipercaya, berusaha menciptakan kedamaian dan ketertiban, dan menyakini nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan.

Kerangka transformasi pemikiran tersebut perlu dijadikan sebuah anti-tesa bahwa semangat tauhid bukan lagi menyelesaikan kesalehan individual, lebih dari pada itu harus teraktualisasikan dalam bentuk kesalehan sosial.