KARTINI INDONESIA DI BALIK DUNIA KONSERVASI JAKARTA AQUARIUM & SAFARI BAGIAN III

Evelyn, Menyelam dan Berbagi Emosi dengan Satwa Mungkin Anda tidak menyangka, ada sosok perempuan tangguh yang rutin menyelam dan memastikan satwa-satwa akuatik terjamin kesehatannya, termasuk memberinya makan Geraknya terlihat tangguh tapi luwes di saat yang bersamaan. Sosok salah satu Aquarist di JAQS bernama Evelyn Memiliki latar belakang pendidikan di bidang Pariwisata, Evelyn jatuh cinta dengan wisata bahari. Dia  mengawali kariernya di JAQS pada April 2019 sebagai staf magang dan setelah empat bulan, Evelyn resmi menjadi Aquarist di JAQS. Kecintaannya pada dunia bahari, membuat Evelyn sangat mencintai profesinya. “Dahulu saat zaman kuliah saya iseng mengikuti unit kegiatan mahasiswa diving. di situ saya mempelajari kemampuan untuk menyelam dengan baik, ketika benar-benar dapat menggunakan skill tersebut untuk mengeksplorasi dunia bawah laut Indonesia, saya jatuh cinta dan ingin mengenal lebih jauh lagi mengenai ekosistem laut. Sehingga di sinilah saya, bekerja di akuarium untuk mengenalkan dunia bawah laut kepada mereka yang belum pernah merasakannya secara langsung," ujarnya. Profesi yang digeluti Evelyn memiliki tanggung jawab yang sangat besar terhadap satwa di JAQS. Evelyn secara langsung terlibat dalam kegiatan perawatan biota-biota laut, dimulai dari menjaga kebersihan akuarium, mencoba mempertahankan kemiripannya dengan ekosistem aslinya, kemudian juga melakukan persiapan dan memberikan makanan bagi biota-biota tersebut. Dan yang terpenting adalah melakukan observasi secara terus menerus untuk menghindari biota-biota dari penyakit yang mengancam. Berprofesi sebagai Aquarist, tentunya Evelyn mengalami pengalaman baik suka maupun duka. "Untuk sukanya adalah momen di mana saya bisa berinteraksi secara langsung dengan biota-biota laut yang cukup susah ditemui secara langsung. Dukanya adalah ketika ada biota yang sudah saya rawat semaksimal mungkin namun karena faktor tidak terduga, harus mati. Apalagi jika satwa yang mati adalah satwa lama yang sudah mampu berinteraksi dengan saya, ada ikatan emosional tersendiri ketika mereka harus mati dan ada rasa bersalah di dalam diri saya karena saya tidak mampu menyelamatkannya/ tutur Evelyn. Profesi yang dimiliki Evelyn, merupakan protesi yang jarang dilirik kaum perempuan. Kriteria profesi sebagai Aquarist membutuhkan fisik yang cukup kuat seperti mengangkat tabung, suhu air yang cukup dingin, serta tuntutan waktu kerja yang sangat ketat diikuti dengan standart yang cukup tinggi. Justru hal tersebut membuat Evelyn bisa membuktikan bahwa la juga bisa menyesuaikan dan mengikuti standar tersebut dengan cukup baik. Menurut Evelyn, ia dan kaum perempuan dapat memainkan peran dalam profesi Aquarist dengan baik dikarenakan perempuan cenderung lebih teliti terhadap hal-hal kecil yang sangat berpengaruh dalam dunia perakuariuman. misalnya ia dituntut untuk lebih peka terhadap perubahan yang tidak biasanya seperti perilaku biota laut, penyakit, dan kotoran pada exhibit Hal-hal tersebut sangat mempengaruhi kesejahteraan kehidupan biota-biota laut. Kemampuan tersebut membuat kaum perempuan dapat berkontribusi besar dalam menjaga Kelestarian satwa. (Muhamad Irfan) 

KARTINI INDONESIA DI BALIK DUNIA KONSERVASI JAKARTA AQUARIUM & SAFARI BAGIAN III
Evelyn, Menyelam dan Berbagi Emosi dengan Satwa Mungkin Anda tidak menyangka, ada sosok perempuan tangguh yang rutin menyelam dan memastikan satwa-satwa akuatik terjamin kesehatannya, termasuk memberinya makan Geraknya terlihat tangguh tapi luwes di saat yang bersamaan. Sosok salah satu Aquarist di JAQS bernama Evelyn Memiliki latar belakang pendidikan di bidang Pariwisata, Evelyn jatuh cinta dengan wisata bahari. Dia  mengawali kariernya di JAQS pada April 2019 sebagai staf magang dan setelah empat bulan, Evelyn resmi menjadi Aquarist di JAQS. Kecintaannya pada dunia bahari, membuat Evelyn sangat mencintai profesinya. “Dahulu saat zaman kuliah saya iseng mengikuti unit kegiatan mahasiswa diving. di situ saya mempelajari kemampuan untuk menyelam dengan baik, ketika benar-benar dapat menggunakan skill tersebut untuk mengeksplorasi dunia bawah laut Indonesia, saya jatuh cinta dan ingin mengenal lebih jauh lagi mengenai ekosistem laut. Sehingga di sinilah saya, bekerja di akuarium untuk mengenalkan dunia bawah laut kepada mereka yang belum pernah merasakannya secara langsung," ujarnya. Profesi yang digeluti Evelyn memiliki tanggung jawab yang sangat besar terhadap satwa di JAQS. Evelyn secara langsung terlibat dalam kegiatan perawatan biota-biota laut, dimulai dari menjaga kebersihan akuarium, mencoba mempertahankan kemiripannya dengan ekosistem aslinya, kemudian juga melakukan persiapan dan memberikan makanan bagi biota-biota tersebut. Dan yang terpenting adalah melakukan observasi secara terus menerus untuk menghindari biota-biota dari penyakit yang mengancam. Berprofesi sebagai Aquarist, tentunya Evelyn mengalami pengalaman baik suka maupun duka. "Untuk sukanya adalah momen di mana saya bisa berinteraksi secara langsung dengan biota-biota laut yang cukup susah ditemui secara langsung. Dukanya adalah ketika ada biota yang sudah saya rawat semaksimal mungkin namun karena faktor tidak terduga, harus mati. Apalagi jika satwa yang mati adalah satwa lama yang sudah mampu berinteraksi dengan saya, ada ikatan emosional tersendiri ketika mereka harus mati dan ada rasa bersalah di dalam diri saya karena saya tidak mampu menyelamatkannya/ tutur Evelyn. Profesi yang dimiliki Evelyn, merupakan protesi yang jarang dilirik kaum perempuan. Kriteria profesi sebagai Aquarist membutuhkan fisik yang cukup kuat seperti mengangkat tabung, suhu air yang cukup dingin, serta tuntutan waktu kerja yang sangat ketat diikuti dengan standart yang cukup tinggi. Justru hal tersebut membuat Evelyn bisa membuktikan bahwa la juga bisa menyesuaikan dan mengikuti standar tersebut dengan cukup baik. Menurut Evelyn, ia dan kaum perempuan dapat memainkan peran dalam profesi Aquarist dengan baik dikarenakan perempuan cenderung lebih teliti terhadap hal-hal kecil yang sangat berpengaruh dalam dunia perakuariuman. misalnya ia dituntut untuk lebih peka terhadap perubahan yang tidak biasanya seperti perilaku biota laut, penyakit, dan kotoran pada exhibit Hal-hal tersebut sangat mempengaruhi kesejahteraan kehidupan biota-biota laut. Kemampuan tersebut membuat kaum perempuan dapat berkontribusi besar dalam menjaga Kelestarian satwa. (Muhamad Irfan)