Keluar Dari Zona Toxic Relationship

Keluar Dari Zona Toxic Relationship
(Ilustrasi kekerasan dalam hubungan/jamaicaobserver.com)

Aku dan pacarku sudah menjalani hubungan romantis selama tiga tahun, aku bertemu dengannya saat aku masih duduk di Sekolah Menengah Atas (SMA) kelas 1 dan dia kelas 3 disekolah yang sama. Saat awal dia sedang berusaha mendekatiku, dia orang yang sangat lembut, baik, sabar dan tidak egois, itulah yang membuat aku menerimanya. Saat hubungan kami berjalan satu tahun, sikapnya mulai berubah. Dia yang berkuliah di luar kota sering membentakku secara langsung maupun lewat telepon saat aku melakukan kesalahan, awalnya aku menganggap hal tersebut wajar karena memang itu kesalahanku.

Akan tetapi saat berjalan menginjak dua tahun saat kami sedang bertengkar, ia mulai berani memukul, menginjak, menendang dan mendorongku. Aku yang tidak pernah mendapat perlakuan seperti itu sangat terkejut. Tapi aku berusaha untuk memaafkannya karena ia meminta maaf dan janji tidak mengulanginya lagi didukung rasa sayang dan menurutku sangat sayang jika hubungan yang sudah dibangun tiga tahun ini harus berakhir.

Saat aku melaksanakan kelulusan SMA, teman-temanku mengajakku berfoto, pacarku datang untuk memberikan selamat dan bunga. Aku yang ingin mengabadikan momen bersama teman-teman sebagai kenang-kenangan kelak, tapi pada saat aku selesai merayakan kelulusan, pacarku secara tiba-tiba langsung marah dan memukulku. Alasan ia marah karena tidak suka melihat aku berfoto bersama teman laki-laki, padahal aku tidak pernah berfoto hanya berdua saja dengan teman laki-laki.

Setelah kejadian itu aku sangat takut jika berdekatan dengan teman lawan jenis, sampai aku masuk ke kampus yang berbeda. Semakin hari pacarku semakin melarangku dan terus curiga, seperti jika aku sedang sibuk dan tidak mengangkat telfonnya ia pasti akan marah dan berkata kasar, ia langsung menuduhku punya laki-laki lain. Ia juga melarangku untuk mempunyai kontak teman laki-laki, hal tersebut membuatku cemas berlebihan, stress dan depresi. Aku jadi jarang merawat diriku sendiri. Karena aku merasa seperti dikurung. Jika aku bertemu dengan dia, pasti terdapat memar di tubuhku entah itu ditangan, kaki atau jidat.

Aku mencari tahu mengenai toxic relationship dari internet dan buku, semua perlakuan yang aku dapatkan masuk dalam katagori toxic relationship dan itu tidak baik untuk kesehatan mentalku. Selama empat tahun berjalan aku mendapatkan perilaku yang buruk dari verbal maupun nonverbal dan berdampak pada nilai pelajaran, fisik, dan kesehatan mentalku, aku memutuskan untuk mengakiri hubungan dengannya.

Untuk memperbaiki kesehatan mental yang aku alami, aku mencari kesenangan dengan sering pergi bersama teman-temanku, mengikuti kegiatan kampus, berolahraga dan bertemu dengan orang-orang baru. Dan tentu saja aku lebih berhati-hati dalam memilih pasangan karena aku mendapatkan banyak pelajaran dari pengalamanku.