'Kiamat' Babi Minggir, Ada Krisis Baru buat Xi Jinping Pening

Jakarta, CNBC Indonesia - China kini menghadapi masalah baru. Setelah krisis properti, energi, Covid-19, dan kenaikan harga babi, kini Negeri Panda sepertinya bermasalah dengan keinginan mood seksual warganya. Dalam data terbaru, keinginan warga China untuk menikah jatuh dan menyebabkan jebloknya angka kelahiran. Ini dikhawatirkan menimbulkan krisis demografi di negara dengan populasi terbesar dunia itu. Dalam data Statistik China Tahunan 2021, data mereka yang melaporkan pernikahan turun berturut-turut tujuh tahun dan menjadi yang terendah selama 17 tahun terakhir. Hanya ada 5,87 juta pasangan menikah di China pada tiga kuartal pertama tahun 2021, turun dari periode yang sama tahun lalu, menurut data yang dirilis oleh Kementerian Urusan Sipil. "Diyakini angka pernikahan yang didaftarkan akan makin turun di 2021," kata media negara tersebut China Daily, Rabu (24/11/2021). Di saat yang sama, tingkat kelahiran di China juga terus menurun. Tahun lalu rata-rata kelahiran adalah 0,852%, turun di bawah 1% untuk pertama kalinya sejak 1978 atau terendah dalam 43 tahun. Seiring krisis demografis semakin dalam, China telah mengizinkan semua pasangan untuk memiliki dua anak pada tahun 2016, bahkan menghapus kebijakan satu anak yang telah berusia puluhan tahun dan merevisinya tahun ini dengan mengizinkan tiga anak. Namun sayangnya tanggapan yang didapat belum maksimal. Lalu apa penyebabnya? Seorang ahli demografi He Yayu menguraikan mengapa ini terjadi. Keinginan kaum muda untuk menikah pada umumnya turun karena alasan seperti tekanan kerja yang tinggi dan peningkatan besar dalam tingkat pendidikan perempuan dan kemandirian ekonomi. Alasan utama lainnya adalah rasio penduduk laki-laki dan perempuan yang tidak seimbang. Di Cina, jumlah pria melebihi wanita sebesar 34,9 juta di mana 17,52 juta lebih banyak pria berusia 20-an menikah daripada wanita di usia yang sama. Selain itu, mahalnya biaya, termasuk peningkatan harga rumah, juga jadi hambatan warga menolak menikah bahkan punya anak. Di China, pernikahan dan memiliki anak adalah hal yang terhubung, dan proporsi anak yang lahir di luar pernikahan sangat rendah. "Karenanya penurunan pernikahan memiliki dampak negatif ke angka kelahiran anak," katanya. [Gambas:Video CNBC] (sef/sef) Adblock test (Why?)

'Kiamat' Babi Minggir, Ada Krisis Baru buat Xi Jinping Pening
Jakarta, CNBC Indonesia - China kini menghadapi masalah baru. Setelah krisis properti, energi, Covid-19, dan kenaikan harga babi, kini Negeri Panda sepertinya bermasalah dengan keinginan mood seksual warganya. Dalam data terbaru, keinginan warga China untuk menikah jatuh dan menyebabkan jebloknya angka kelahiran. Ini dikhawatirkan menimbulkan krisis demografi di negara dengan populasi terbesar dunia itu. Dalam data Statistik China Tahunan 2021, data mereka yang melaporkan pernikahan turun berturut-turut tujuh tahun dan menjadi yang terendah selama 17 tahun terakhir. Hanya ada 5,87 juta pasangan menikah di China pada tiga kuartal pertama tahun 2021, turun dari periode yang sama tahun lalu, menurut data yang dirilis oleh Kementerian Urusan Sipil. "Diyakini angka pernikahan yang didaftarkan akan makin turun di 2021," kata media negara tersebut China Daily, Rabu (24/11/2021). Di saat yang sama, tingkat kelahiran di China juga terus menurun. Tahun lalu rata-rata kelahiran adalah 0,852%, turun di bawah 1% untuk pertama kalinya sejak 1978 atau terendah dalam 43 tahun. Seiring krisis demografis semakin dalam, China telah mengizinkan semua pasangan untuk memiliki dua anak pada tahun 2016, bahkan menghapus kebijakan satu anak yang telah berusia puluhan tahun dan merevisinya tahun ini dengan mengizinkan tiga anak. Namun sayangnya tanggapan yang didapat belum maksimal. Lalu apa penyebabnya? Seorang ahli demografi He Yayu menguraikan mengapa ini terjadi. Keinginan kaum muda untuk menikah pada umumnya turun karena alasan seperti tekanan kerja yang tinggi dan peningkatan besar dalam tingkat pendidikan perempuan dan kemandirian ekonomi. Alasan utama lainnya adalah rasio penduduk laki-laki dan perempuan yang tidak seimbang. Di Cina, jumlah pria melebihi wanita sebesar 34,9 juta di mana 17,52 juta lebih banyak pria berusia 20-an menikah daripada wanita di usia yang sama. Selain itu, mahalnya biaya, termasuk peningkatan harga rumah, juga jadi hambatan warga menolak menikah bahkan punya anak. Di China, pernikahan dan memiliki anak adalah hal yang terhubung, dan proporsi anak yang lahir di luar pernikahan sangat rendah. "Karenanya penurunan pernikahan memiliki dampak negatif ke angka kelahiran anak," katanya. [Gambas:Video CNBC] (sef/sef) Adblock test (Why?)