Kisah Miris Siswa di Pulau Seram, Harus Jalan Kaki 3 Kilometer dan Seberangi Sungai Deras ke Sekolah

Bagaimana caramu pergi ke sekolah selama ini? Mungkin naik sepeda, bus, motor, mobil, atau berjalan kaki tetapi dengan jarak tempuh yang dekat. Cara-cara itu nggak memakan waktu maupun tenaga yang banyak. Tetapi tahukah kamu, di suatu tempat di Indonesia, masih banyak siswa yang kesulitan berangkat sekolah karena akses yang kurang memadai. Advertisement Akibat masalah tersebut, mereka terpaksa menempuh medan yang berat dan berbahaya. Bahkan sampai menyeberangi sungai yang sedang deras-derasnya! Sungguh miris. Sebetulnya, kenapa sih hal ini bisa terjadi dan apa solusi yang bisa dilakukan? Yuk simak selengkapnya~ Baru-baru ini, beredar video yang merekam aksi empat siswa menyeberangi sungai deras. Mereka terpaksa melakukannya untuk mencapai sekolah Stelah menunggu slma 3 jam akhirnya kita bz mnyebrang! Anak2 nh dnk lbih brani dr B,Ttp smngt syg2Q ????????????????#SISWASMPN16SBT Posted by Lissa Tanamal on Thursday, 16 July 2020 Video mengejutkan ini viral setelah diunggah akun Lissa Tanamal di Facebook pada Kamis (16/7). Tampak empat siswa dengan seragam lengkap berdiri di hadapan sungai deras. Mereka harus melalui sungai tersebut untuk mencapai sekolah. Setelah menunggu selama tiga jam sampai arusnya lebih terkendali, akhirnya satu per satu siswa menyeberang. Advertisement Prosesnya sungguh tak mudah. Mereka harus menjejakkan kaki kuat-kuat dan menjaga keseimbangan agar tak terseret arus sungai. Keempatnya juga bergantian membawakan ransel agar tak membebani punggung. Dengan bahu-membahu, akhirnya mereka semua berhasil menyeberangi sungai. Tetapi sempat ada seorang siswa yang jatuh dan hampir terseret arus. Ngeri! Ternyata mereka adalah siswa di Pulau Seram, Maluku. Setiap hari harus jalan kaki sejauh 3 kilometer dan bertaruh nyawa untuk menyeberangi sungai deras Menyeberangi sungai via www.facebook.com Dilansir dari Kompas, keempat anak sekolah yang terekam dalam video tersebut adalah siswa SMP di Desa Tobo, Kecamatan Werinama, Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku. Demi menuntut ilmu, mereka harus berjalan kaki sejauh lebih dari tiga kilometer ke desa seberang. Di tengah perjalanan, ada rintangan yang teramat berat. Mereka harus menyeberangi sungai deras untuk menuju ke sekolah di Desa Batuasa. Gara-gara hujan yang turun selama beberapa minggu terakhir, sungai itu jadi semakin deras dan berbahaya. Sedikit saja salah melangkah, akibatnya fatal! Mereka bisa terjatuh dan hanyut terbawa aliran sungai ke laut. Betul-betul bertaruh nyawa. Advertisement Tak hanya siswa, ternyata para guru melakukan perjuangan yang sama untuk mencapai sekolah. Sebab tak ada jalan raya maupun jembatan untuk dilalui Werto Wailissahalong bersama para muridnya via kumparan.com Sejak 13 Juli silam, SMP Negeri 16 Seram Bagian Timur sudah dibuka. Jadi para siswa maupun guru masuk kembali. Mereka pun sama-sama menyeberangi sungai dari Desa Tobo ke Desa Batuasa. Pasalnya, memang tak ada jalan darat maupun jembatan yang menghubungkan kedua desa tersebut. Para guru sampai maklum kalau ada siswa yang tidak masuk sekolah. Sebab itu berarti, kemungkinan dia tak bisa menyeberangi sungai yang terlampau deras. “Saya khawatir dengan keselamatan anak-anak, terlebih saya masih ada trauma ketika pernah terbawa arus, tapi justru mereka yang menyemangati saya. Mereka mengatakan, ‘tidak apa-apa bu, kami berani bersama-sama melewati sungai ini,'” kata Werto Wailissahalong, seorang guru honorer. Hal yang miris ini sudah terjadi selama puluhan tahun. Tetapi, hingga kini pemerintah pusat belum memberi solusi sehingga warga harus bergerak sendiri Warga memperbaiki jalanan desa via www.facebook.com Tokoh masyarakat setempat, Azrul Wailissa, bercerita bahwa Desa Tobo telah terisolasi selama puluhan tahun lamanya. Tidak ada akses jalan maupun jembatan yang menghubungkan ke tempat lain. Akibatnya, para siswa sulit berangkat ke sekolah dan banyak warga yang tak bisa menjual hasil kebunnya. Tentu kondisi ini sangat merugikan mereka. Untuk sementara waktu, warga baru bisa memperbaiki jalan dengan bantuan pemerintah desa. Azrul berharap agar pemerintah pusat lebih memerhatikan Desa Tobo dengan cara membangun jalan darat atau jembatan. Semoga dengan viralnya video siswa yang menyeberang sungai, warga Desa Tobo mendapat lebih banyak perhatian dari pemerintah. Mereka sungguh membutuhkan akses yang layak demi kehidupan yang lebih baik. Jangan sampai kondisi miris ini berjalan hingga bertahun-tahun ke depan…

Kisah Miris Siswa di Pulau Seram, Harus Jalan Kaki 3 Kilometer dan Seberangi Sungai Deras ke Sekolah

Bagaimana caramu pergi ke sekolah selama ini? Mungkin naik sepeda, bus, motor, mobil, atau berjalan kaki tetapi dengan jarak tempuh yang dekat. Cara-cara itu nggak memakan waktu maupun tenaga yang banyak. Tetapi tahukah kamu, di suatu tempat di Indonesia, masih banyak siswa yang kesulitan berangkat sekolah karena akses yang kurang memadai.

Advertisement

Akibat masalah tersebut, mereka terpaksa menempuh medan yang berat dan berbahaya. Bahkan sampai menyeberangi sungai yang sedang deras-derasnya! Sungguh miris. Sebetulnya, kenapa sih hal ini bisa terjadi dan apa solusi yang bisa dilakukan? Yuk simak selengkapnya~

Baru-baru ini, beredar video yang merekam aksi empat siswa menyeberangi sungai deras. Mereka terpaksa melakukannya untuk mencapai sekolah

Stelah menunggu slma 3 jam akhirnya kita bz mnyebrang! Anak2 nh dnk lbih brani dr B,Ttp smngt syg2Q ????????????????#SISWASMPN16SBT

Posted by Lissa Tanamal on Thursday, 16 July 2020

Video mengejutkan ini viral setelah diunggah akun Lissa Tanamal di Facebook pada Kamis (16/7). Tampak empat siswa dengan seragam lengkap berdiri di hadapan sungai deras. Mereka harus melalui sungai tersebut untuk mencapai sekolah. Setelah menunggu selama tiga jam sampai arusnya lebih terkendali, akhirnya satu per satu siswa menyeberang.

Advertisement

Prosesnya sungguh tak mudah. Mereka harus menjejakkan kaki kuat-kuat dan menjaga keseimbangan agar tak terseret arus sungai. Keempatnya juga bergantian membawakan ransel agar tak membebani punggung. Dengan bahu-membahu, akhirnya mereka semua berhasil menyeberangi sungai. Tetapi sempat ada seorang siswa yang jatuh dan hampir terseret arus. Ngeri!

Ternyata mereka adalah siswa di Pulau Seram, Maluku. Setiap hari harus jalan kaki sejauh 3 kilometer dan bertaruh nyawa untuk menyeberangi sungai deras

Menyeberangi sungai via www.facebook.com

Dilansir dari Kompas, keempat anak sekolah yang terekam dalam video tersebut adalah siswa SMP di Desa Tobo, Kecamatan Werinama, Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku. Demi menuntut ilmu, mereka harus berjalan kaki sejauh lebih dari tiga kilometer ke desa seberang.

Di tengah perjalanan, ada rintangan yang teramat berat. Mereka harus menyeberangi sungai deras untuk menuju ke sekolah di Desa Batuasa. Gara-gara hujan yang turun selama beberapa minggu terakhir, sungai itu jadi semakin deras dan berbahaya. Sedikit saja salah melangkah, akibatnya fatal! Mereka bisa terjatuh dan hanyut terbawa aliran sungai ke laut. Betul-betul bertaruh nyawa.

Advertisement

Tak hanya siswa, ternyata para guru melakukan perjuangan yang sama untuk mencapai sekolah. Sebab tak ada jalan raya maupun jembatan untuk dilalui

Werto Wailissahalong bersama para muridnya via kumparan.com

Sejak 13 Juli silam, SMP Negeri 16 Seram Bagian Timur sudah dibuka. Jadi para siswa maupun guru masuk kembali. Mereka pun sama-sama menyeberangi sungai dari Desa Tobo ke Desa Batuasa. Pasalnya, memang tak ada jalan darat maupun jembatan yang menghubungkan kedua desa tersebut. Para guru sampai maklum kalau ada siswa yang tidak masuk sekolah. Sebab itu berarti, kemungkinan dia tak bisa menyeberangi sungai yang terlampau deras.

“Saya khawatir dengan keselamatan anak-anak, terlebih saya masih ada trauma ketika pernah terbawa arus, tapi justru mereka yang menyemangati saya. Mereka mengatakan, ‘tidak apa-apa bu, kami berani bersama-sama melewati sungai ini,'” kata Werto Wailissahalong, seorang guru honorer.

Hal yang miris ini sudah terjadi selama puluhan tahun. Tetapi, hingga kini pemerintah pusat belum memberi solusi sehingga warga harus bergerak sendiri

Warga memperbaiki jalanan desa via www.facebook.com

Tokoh masyarakat setempat, Azrul Wailissa, bercerita bahwa Desa Tobo telah terisolasi selama puluhan tahun lamanya. Tidak ada akses jalan maupun jembatan yang menghubungkan ke tempat lain. Akibatnya, para siswa sulit berangkat ke sekolah dan banyak warga yang tak bisa menjual hasil kebunnya. Tentu kondisi ini sangat merugikan mereka. Untuk sementara waktu, warga baru bisa memperbaiki jalan dengan bantuan pemerintah desa. Azrul berharap agar pemerintah pusat lebih memerhatikan Desa Tobo dengan cara membangun jalan darat atau jembatan.

Semoga dengan viralnya video siswa yang menyeberang sungai, warga Desa Tobo mendapat lebih banyak perhatian dari pemerintah. Mereka sungguh membutuhkan akses yang layak demi kehidupan yang lebih baik. Jangan sampai kondisi miris ini berjalan hingga bertahun-tahun ke depan…