Kok Bisa Ya Orang-Orang Dapat Hampers?

MOJOK.CO – Banyak orang yang mendapatkan bingkisan lebaran atau hampers, namun banyak pula yang blas nggak mendapatkannya.Di Twitter, saya menemukan sebuah twit yang cukup mengusik. “Kok bisa ya orang-orang dapat hampers?” begitu isi twit tersebut.Sebuah pertanyaan sederhana yang kemungkinan besar menjadi pertanyaan kolektif banyak orang, termasuk saya. Di sosial media, kita semua mungkin mahfum ada orang-orang  yang mengupload kiriman bingkisan parcel (yang entah kenapa sekarang jadi akrab disebut sebagai hampers) yang mereka dapat.Setiap kali melihat kawan Facebook saya memamerkan atau meng-unboxing parcel lebaran yang mereka dapat, saya bertanya-tanya, kenapa mereka bisa mendapatkan parcel lebaran, sedangkan mereka setahu saya bukan pejabat atau orang penting. Sesekali, timbul juga sifat iri saya. Sebab saya rasanya tak pernah mendapatkan satu pun parcel lebaran.Oke, oke, ibu saya pernah mendapatkan bingkisan berisi biskuit, gula, dan orson dari bos tempat ibu saya bekerja, namun saya merasa bingkisan itu tidak layak parcel apalagi hampers. Ia lebih layak disebut sebagai santunan belaka. Beda jauh dengan parcel dari dipamerkan oleh kawan-kawan Facebook saya yang isinya adalah barang-barang atau makanan yang estetique dan sangat hampers-able. Bukan orson atau gula yang lebih condong ke arah sembako alih-alih hampers.Ah, betapa produktifnya pergaulan mereka sampai mereka bisa mendapatkan hampers lebaran dari banyak pihak.Namun, namanya roda nasib. Semuanya berputar. Saya akhirnya diberi kesempatan oleh Gusti Allah untuk menjadi pihak yang sering mendapatkan hampers. Benar-benar hampers, bukan sembako.Pengalaman pertama saya sebagai seorang penerima hampers adalah saat saya resmi menjadi seorang penulis tahun 2014 silam yang ditandai dengan terbitnya buku pertama saya. Saat itu, saya mendapatkan hampers pertama saya berupa buku yang dibungkus dalam kotak yang sangat elok. Hampers itu dikirim oleh penerbit tempat saya menerbitkan buku saya.Itu hampers pertama saya, dan selayaknya hal yang pertama, rasanya sangat sentimentil dan emosional.Dua puluh tahun lebih saya hidup, dan baru kali itu saya mendapatkan hampers.Maka, ingin sekali saya tidak membuka buku itu saking sayangnya. Kotak pembungkusnya saya simpan baik-baik. Kartu ucapannya saya simpan dan sesekali saya tunjukkan kepada orangtua saya. Saya upload foto bingkisan itu dengan caption semendayu-dayu mungkin. Biar orang lain merasakan rasa iri yang pernah saya rasakan bertahun-tahun lamanya.Benar-benar balas dendam terbalas dengan sangat indah.Lebaran berikutnya, saya kembali mendapatkan kiriman hampers dari penerbit yang sama.Tahun berikutnya, saya bekerja di Mojok dan harus pindah ke Jogja. Di kota ini, saya berkenalan dengan banyak orang dari berbagai lembaga dan organisasi. Saya mulai sering berurusan dengan banyak pihak, utamanya karena status saya sebagai penulis dan redaktur Mojok.Perkenalan saya dengan banyak orang ini ternyata memperkaya khazanah per-hampers-an saya.Di masa inilah saya mulai paham sepenuhnya bahwa organisasi, lembaga, atau perusahaan, begitu hobi membagikan hampers bingkisan lebaran kepada orang-orang yang pernah bekerja atau menjalin proyek dengan mereka.Konon, selain sebagai sarana silaturahmi, hal tersebut juga sebagai salah satu cara terjitu untuk membangun hubungan yang baik agar kelak kerjasama bisa terus terjalin. Semacam gratifikasi pada level yang halal.Nah, sejak pindah ke Jogja inilah, saya mulai sering menerima bingkisan lebaran. Baik sebagai pribadi, maupun sebagai redaktur Mojok.Saya misalnya, mendapatkan bingkisan dari salah satu brand donat karena hampir dua bulan terakhir, saya menjadi langganan setia di salah satu gerai mereka. Mereka mengapresiasi saya sebagai salah satu pelanggan teladan mereka.Kali lain, saya mendapatkan bingkisan dari salah satu brand kue kering. Mereka meminta agar saya mengupload bingkisan kiriman mereka sebagai sarana promosi. Sebagai pemilik akun Instagram dengan follower yang nggak sedikit (walau juga nggak layak disebut banyak), saya ternyata cukup laku sebagai seorang influencer.Saya mulai mendapatkan banyak bingkisan lebaran dengan berbagai motif yang berbeda.Aneka motif pengiriman hampers ini pada akhirnya menjawab pertanyaan saya di masa lalu tentang kenapa ada orang yang bisa mendapatkan banyak hampers walau dia bukan pejabat atau orang penting. Ternyata memang tak perlu jadi orang penting untuk bisa mendapatkan kiriman hampers.Banyaknya bingkisan lebaran yang saya dapat ini kemudian menjadi semacam gegar budaya yang kronis bagi saya. Orang yang semula tak pernah mendapatkan bingkisan lebaran, kemudian senangnya setengah mampus karena dapat bingkisan walau hanya satu, lalu merasakan sensasi mendapatkan bingkisan dalam jumlah yang banyak.Ternyata begini rasanya menjadi orang yang menjadi sebab munculnya pertanyaan “Kok bisa ya orang-orang dapat hampers?”Kondisi ini pada titik tertentu membikin saya jadi agak jumawa. Kondisi yang kemudian membuat saya justru jadi bertanya-tan

Kok Bisa Ya Orang-Orang Dapat Hampers?
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

MOJOK.COBanyak orang yang mendapatkan bingkisan lebaran atau hampers, namun banyak pula yang blas nggak mendapatkannya.

Di Twitter, saya menemukan sebuah twit yang cukup mengusik. “Kok bisa ya orang-orang dapat hampers?” begitu isi twit tersebut.

Sebuah pertanyaan sederhana yang kemungkinan besar menjadi pertanyaan kolektif banyak orang, termasuk saya. Di sosial media, kita semua mungkin mahfum ada orang-orang  yang mengupload kiriman bingkisan parcel (yang entah kenapa sekarang jadi akrab disebut sebagai hampers) yang mereka dapat.

Setiap kali melihat kawan Facebook saya memamerkan atau meng-unboxing parcel lebaran yang mereka dapat, saya bertanya-tanya, kenapa mereka bisa mendapatkan parcel lebaran, sedangkan mereka setahu saya bukan pejabat atau orang penting. Sesekali, timbul juga sifat iri saya. Sebab saya rasanya tak pernah mendapatkan satu pun parcel lebaran.

Oke, oke, ibu saya pernah mendapatkan bingkisan berisi biskuit, gula, dan orson dari bos tempat ibu saya bekerja, namun saya merasa bingkisan itu tidak layak parcel apalagi hampers. Ia lebih layak disebut sebagai santunan belaka. Beda jauh dengan parcel dari dipamerkan oleh kawan-kawan Facebook saya yang isinya adalah barang-barang atau makanan yang estetique dan sangat hampers-able. Bukan orson atau gula yang lebih condong ke arah sembako alih-alih hampers.

Ah, betapa produktifnya pergaulan mereka sampai mereka bisa mendapatkan hampers lebaran dari banyak pihak.

Namun, namanya roda nasib. Semuanya berputar. Saya akhirnya diberi kesempatan oleh Gusti Allah untuk menjadi pihak yang sering mendapatkan hampers. Benar-benar hampers, bukan sembako.

Pengalaman pertama saya sebagai seorang penerima hampers adalah saat saya resmi menjadi seorang penulis tahun 2014 silam yang ditandai dengan terbitnya buku pertama saya. Saat itu, saya mendapatkan hampers pertama saya berupa buku yang dibungkus dalam kotak yang sangat elok. Hampers itu dikirim oleh penerbit tempat saya menerbitkan buku saya.

Itu hampers pertama saya, dan selayaknya hal yang pertama, rasanya sangat sentimentil dan emosional.

Dua puluh tahun lebih saya hidup, dan baru kali itu saya mendapatkan hampers.

Maka, ingin sekali saya tidak membuka buku itu saking sayangnya. Kotak pembungkusnya saya simpan baik-baik. Kartu ucapannya saya simpan dan sesekali saya tunjukkan kepada orangtua saya. Saya upload foto bingkisan itu dengan caption semendayu-dayu mungkin. Biar orang lain merasakan rasa iri yang pernah saya rasakan bertahun-tahun lamanya.

Benar-benar balas dendam terbalas dengan sangat indah.

Lebaran berikutnya, saya kembali mendapatkan kiriman hampers dari penerbit yang sama.

Tahun berikutnya, saya bekerja di Mojok dan harus pindah ke Jogja. Di kota ini, saya berkenalan dengan banyak orang dari berbagai lembaga dan organisasi. Saya mulai sering berurusan dengan banyak pihak, utamanya karena status saya sebagai penulis dan redaktur Mojok.

Perkenalan saya dengan banyak orang ini ternyata memperkaya khazanah per-hampers-an saya.

Di masa inilah saya mulai paham sepenuhnya bahwa organisasi, lembaga, atau perusahaan, begitu hobi membagikan hampers bingkisan lebaran kepada orang-orang yang pernah bekerja atau menjalin proyek dengan mereka.

Konon, selain sebagai sarana silaturahmi, hal tersebut juga sebagai salah satu cara terjitu untuk membangun hubungan yang baik agar kelak kerjasama bisa terus terjalin. Semacam gratifikasi pada level yang halal.

Nah, sejak pindah ke Jogja inilah, saya mulai sering menerima bingkisan lebaran. Baik sebagai pribadi, maupun sebagai redaktur Mojok.

Saya misalnya, mendapatkan bingkisan dari salah satu brand donat karena hampir dua bulan terakhir, saya menjadi langganan setia di salah satu gerai mereka. Mereka mengapresiasi saya sebagai salah satu pelanggan teladan mereka.

Kali lain, saya mendapatkan bingkisan dari salah satu brand kue kering. Mereka meminta agar saya mengupload bingkisan kiriman mereka sebagai sarana promosi. Sebagai pemilik akun Instagram dengan follower yang nggak sedikit (walau juga nggak layak disebut banyak), saya ternyata cukup laku sebagai seorang influencer.

Saya mulai mendapatkan banyak bingkisan lebaran dengan berbagai motif yang berbeda.

Aneka motif pengiriman hampers ini pada akhirnya menjawab pertanyaan saya di masa lalu tentang kenapa ada orang yang bisa mendapatkan banyak hampers walau dia bukan pejabat atau orang penting. Ternyata memang tak perlu jadi orang penting untuk bisa mendapatkan kiriman hampers.

Banyaknya bingkisan lebaran yang saya dapat ini kemudian menjadi semacam gegar budaya yang kronis bagi saya. Orang yang semula tak pernah mendapatkan bingkisan lebaran, kemudian senangnya setengah mampus karena dapat bingkisan walau hanya satu, lalu merasakan sensasi mendapatkan bingkisan dalam jumlah yang banyak.

Ternyata begini rasanya menjadi orang yang menjadi sebab munculnya pertanyaan “Kok bisa ya orang-orang dapat hampers?”

Kondisi ini pada titik tertentu membikin saya jadi agak jumawa. Kondisi yang kemudian membuat saya justru jadi bertanya-tanya. “Kok bisa ya ada orang yang sama sekali nggak dapat hampers?”

Ah, dasar.


Let's block ads! (Why?)