Konsumsi Rokok Masyarakat Dinilai Masih Tinggi Meski Ada Pandemi

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini. Pandemi corona tak memyebabkan konsumsi masyakat terhadap rokok berkurang. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyatakan, sebanyak 12,4% pendapatan masyarakat menengah ke bawah digunakan untuk mengkonsumsi rokok di tengah ancaman krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19.Hal ini menggambarkan tingkat kesadaran masyarakat akan kesehatan diri masih sangat rendah. Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi mengatakan jumlah uang yang digunakan untuk membeli rokok tujuh kali lipat lebih banyak dibandingkan pengeluaran untuk membeli kebutuhan lauk pauk.(Baca: WHO Peringatkan Perokok Berisiko Lebih Tinggi jika Terjangkit Covid-19)Kondisi ini sangat memprihatinkan lantaran dengan kondisi seperti ini seharusnya masyarakat lebih mengutamakan pemenuhan gizi dibandingkan rokok."Ini harus dkawal dengan baik oleh pemerintah. Karena di tengah pendapatan yang susah dan kemampuan seperti ini masyarakat diharapkan menggunakan uangnya untuk konsumsi yang lebih rasional yaitu mengubah perilaku hidup yang sehat atau fokus untuk kebutuhan pangan," kata Tulus dalam diskusi daring di Jakarta, Kamis (14/5).Menurut dia, ketidakjelasan penanganan wabah oleh pemerintah telah menyebabkan daya beli masyarakat menurun. Sebab, kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) telah menyababkan aktivitas ekonomi terhenti.Kondisinya diperburuk dengan harga beberapa komoditas pangan di Indonesia cenderung tak berpola. Ini menyebabkan pemerintah kesulitan untuk mengendalikan harga. Alhasil, akses masyarakat terhadap kebutuhan pangan yang bergizi terbatas."Pemerintah harus fokus agar harga tak berpola bisa dikendalikan supaya konsumen di tengah daya beli yang tidak baik ada kepastian harga," kata dia.Berdasarkan laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance (SEATCA) yang dirilis pada 2019, berjudul The Tobacco Control Atlas, Asean Region, Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asean, yakni 65,19 juta orang. Angka tersebut setara 34% dari total penduduk Indonesia pada 2016.(Baca: Empat Klaster Industri Terpapar Corona, dari Sampoerna hingga Freeport)Sekitar 79,8% dari perokok membeli rokoknya di kios, warung, atau minimarket. Adapun 17,6% membeli rokok dari supermarket. Di Indonesia terdapat 2,5 juta gerai yang menjadi pengecer rokok. Angka ini belum memperhitungkan kios penjual rokok di pinggir-pinggir jalan.   Filipina adalah negara Asean dengan jumlah perokok terbanyak kedua, yakni 16,5 juta orang atau 15,97% dari jumlah penduduk. Vietnam di posisi ketiga dengan jumlah perokok 15,6 juta orang atau 16,5% dari jumlah penduduk.  Di Filipina, 96,4% perokok membeli rokok di supermarket. Adapun di Vietnam 68,4% perokok membeli rokoknya di kios, warung atau minimarket dan 28,8% membelinya di pedagang kaki lima. Reporter: Tri Kurnia Yunianto Let's block ads! (Why?)

Konsumsi Rokok Masyarakat Dinilai Masih Tinggi Meski Ada Pandemi
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Pandemi corona tak memyebabkan konsumsi masyakat terhadap rokok berkurang. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyatakan, sebanyak 12,4% pendapatan masyarakat menengah ke bawah digunakan untuk mengkonsumsi rokok di tengah ancaman krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Hal ini menggambarkan tingkat kesadaran masyarakat akan kesehatan diri masih sangat rendah. Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi mengatakan jumlah uang yang digunakan untuk membeli rokok tujuh kali lipat lebih banyak dibandingkan pengeluaran untuk membeli kebutuhan lauk pauk.

(Baca: WHO Peringatkan Perokok Berisiko Lebih Tinggi jika Terjangkit Covid-19)

Kondisi ini sangat memprihatinkan lantaran dengan kondisi seperti ini seharusnya masyarakat lebih mengutamakan pemenuhan gizi dibandingkan rokok.

"Ini harus dkawal dengan baik oleh pemerintah. Karena di tengah pendapatan yang susah dan kemampuan seperti ini masyarakat diharapkan menggunakan uangnya untuk konsumsi yang lebih rasional yaitu mengubah perilaku hidup yang sehat atau fokus untuk kebutuhan pangan," kata Tulus dalam diskusi daring di Jakarta, Kamis (14/5).

Menurut dia, ketidakjelasan penanganan wabah oleh pemerintah telah menyebabkan daya beli masyarakat menurun. Sebab, kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) telah menyababkan aktivitas ekonomi terhenti.

Kondisinya diperburuk dengan harga beberapa komoditas pangan di Indonesia cenderung tak berpola. Ini menyebabkan pemerintah kesulitan untuk mengendalikan harga. Alhasil, akses masyarakat terhadap kebutuhan pangan yang bergizi terbatas.

"Pemerintah harus fokus agar harga tak berpola bisa dikendalikan supaya konsumen di tengah daya beli yang tidak baik ada kepastian harga," kata dia.

Berdasarkan laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance (SEATCA) yang dirilis pada 2019, berjudul The Tobacco Control Atlas, Asean Region, Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asean, yakni 65,19 juta orang. Angka tersebut setara 34% dari total penduduk Indonesia pada 2016.

(Baca: Empat Klaster Industri Terpapar Corona, dari Sampoerna hingga Freeport)

Sekitar 79,8% dari perokok membeli rokoknya di kios, warung, atau minimarket. Adapun 17,6% membeli rokok dari supermarket. Di Indonesia terdapat 2,5 juta gerai yang menjadi pengecer rokok. Angka ini belum memperhitungkan kios penjual rokok di pinggir-pinggir jalan.  
 
Filipina adalah negara Asean dengan jumlah perokok terbanyak kedua, yakni 16,5 juta orang atau 15,97% dari jumlah penduduk. Vietnam di posisi ketiga dengan jumlah perokok 15,6 juta orang atau 16,5% dari jumlah penduduk. 
 
Di Filipina, 96,4% perokok membeli rokok di supermarket. Adapun di Vietnam 68,4% perokok membeli rokoknya di kios, warung atau minimarket dan 28,8% membelinya di pedagang kaki lima.

Reporter: Tri Kurnia Yunianto

Let's block ads! (Why?)