Krisis Daya Beli Masyarakat dan Upaya Solusi dari Pemerintah

Pengertian daya beli masyarakat adalah kemampuan masyarakat sebagai konsumen untuk membeli dan mendapatkan barang yang mereka butuhkan. Berdasarkan kemampuan tersebut, permintaan dibagi menjadi beberapa macam. Permintaan efektif yang muncul dan disertai dengan kemampuan membayarnya (berdaya beli). Permintaan potensial yang berasal dari kalangan yang mempunyai daya beli, namun belum membeli barang atau jasa tersebut. Permintaan absolut yakni permintaan yang muncul dari mereka yang tidak memiliki daya beli. Daya beli masyarakat juga menjadi acuan utama para pelaku bisnis skala kecil, menengah, maupun besar dalam menentukan target penjualan mereka.  Indikator daya beli masyarakat Daya beli masyarakat bisa mengalami peningkatan ataupun penurunan tergantung pada kondisi perekonomian. Hal itu bisa dilihat dari tiga indikator yang memengaruhinya, antara lain: 1. Indeks Keyakinan Konsumen (Consumer Confidence Index) Indeks Keyakinan Konsumen atau IKK adalah indikator ekonomi yang didesain untuk mengevaluasi tingkat optimisme atau pesimisme konsumen akan kondisi perekonomian sebuah negara.  Tinggi dan rendahnya minat konsumen dalam berbelanja dapat memengaruhi aktivitas industri dan bisnis sebuah negara. Artinya jika angka indeks ini naik, maka konsumsi masyarakat meningkat dan akhirnya berpengaruh kepada pertumbuhan ekonomi. Berlaku pula pada kondisi sebaliknya. 2. Indeks Ekspektasi Kondisi Ekonomi (IEKE) Indeks IEKE menentukan apakah konsumen semakin optimis atau pesimis terhadap perkiraan pada kondisi ekonomi beberapa bulan ke depan. Beberapa faktor yang memengaruhi ekspektasi kenaikan atau penurunan indeks ini, di antaranya ketersediaan lapangan kerja, penghasilan, dan juga kegiatan usaha yang bisa berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. 3. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKESI) IKESI adalah indeks yang mengukur tingkat kepercayaan konsumen terhadap pendapatan saat ini daripada pada enam bulan lalu. Indeks ini dipengaruhi beberapa aspek, di antaranya tepat tidaknya waktu saat ini untuk membeli barang tahan lama dan jumlah lapangan kerja yang tersedia. Penyebab daya beli masyarakat melemah Secara umum, melemahnya daya beli masyarakat di Indonesia disebabkan oleh tiga hal berikut. 1. Terbatasnya lapangan pekerjaan Seiring makin terbatasnya lapangan pekerjaan, maka angka pengangguran pun meningkat. Akhirnya, kondisi ini berpengaruh pada penurunan tingkat kemakmuran.  Alhasil keinginan masyarakat untuk membeli barang pun berkurang karena mereka tidak mampu menghasilkan uang untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. 2. Kenaikan harga pada beberapa komponen Kenaikan harga sebuah barang akan sangat berpengaruh pada perekonomian. Misalnya jika harga daging sapi meningkat dari Rp110 ribu per kilo menjadi Rp150 ribu per kilo, maka masyarakat akan beralih untuk membeli komoditas lain yang harganya tetap stabil.  Sehingga daya beli masyarakat terhadap daging sapi menurun dan meningkat pada komoditas lainnya yang akan mengacaukan perekonomian. 3. Inflasi Inflasi adalah proses naiknya harga secara terus-menerus atau suatu proses turunnya nilai mata uang secara berkesinambungan.  Penyebab inflasi di antaranya meningkatnya jumlah kebutuhan namun diiringi dengan stok yang terbatas, biaya produksi atau jasa naik, dan jumlah uang yang beredar di masyarakat cukup tinggi. Jika inflasi tidak dikendalikan, maka akan berpengaruh pada daya beli. Pandemi Covid-19 dan melemahnya daya beli masyarakat Selain tiga hal di atas, perekonomian Indonesia 2020 juga menghadapi tantangan akibat peristiwa pandemi Covid-19.  Hasil survei konsumen yang dilakukan Bank Indonesia menunjukkan pelemahan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dari bulan Januari sebesar 121,7 poin menjadi 117,7 pada Februari. Penurunan ini disebabkan oleh menurunnya Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) sebesar 4,1 poin dan Indeks Ekspektasi Kondisi Ekonomi (IEK) sebesar 3,9 poin. Penurunan IKE, disebabkan oleh penurunan indeks ketersediaan lapangan kerja ke level pesimistis yakni 90,1, optimisme penghasilan saat ini, dan keyakinan terhadap pembelian barang tahan lama (durable goods).  Sedangkan penurunan IEK disebabkan oleh penurunan ekspektasi penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, dan kegiatan usaha. Para pakar menyebut penurunan optimisme ini merupakan efek psikologis dari Covid-19. Belum lagi ditambah dengan pesimisme karena antisipasi kenaikan harga kebutuhan pokok impor akibat pandemi dan bonus insentif akhir tahun yang berkurang secara signifikan membuat daya beli masyarakat makin tertekan. Upaya pemerintah meningkatkan daya beli masyarakat Beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk meningkatkan daya beli masyarakat adalah: Meningkatkan batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Dengan meningkatkan PTKP, diharapkan masyarakat yang dibebaskan dari pajak penghasilan (PPh 21) tersebut bisa menggunakan pendapatannya untuk meningkatkan daya belinya. Sehingga pemerintah bisa menerima kenaikan jumlah pajak konsu

Krisis Daya Beli Masyarakat dan Upaya Solusi dari Pemerintah
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Pengertian daya beli masyarakat adalah kemampuan masyarakat sebagai konsumen untuk membeli dan mendapatkan barang yang mereka butuhkan. Berdasarkan kemampuan tersebut, permintaan dibagi menjadi beberapa macam.

  • Permintaan efektif yang muncul dan disertai dengan kemampuan membayarnya (berdaya beli).
  • Permintaan potensial yang berasal dari kalangan yang mempunyai daya beli, namun belum membeli barang atau jasa tersebut.
  • Permintaan absolut yakni permintaan yang muncul dari mereka yang tidak memiliki daya beli.

Daya beli masyarakat juga menjadi acuan utama para pelaku bisnis skala kecil, menengah, maupun besar dalam menentukan target penjualan mereka. 

Indikator daya beli masyarakat

Daya beli masyarakat bisa mengalami peningkatan ataupun penurunan tergantung pada kondisi perekonomian. Hal itu bisa dilihat dari tiga indikator yang memengaruhinya, antara lain:

1. Indeks Keyakinan Konsumen (Consumer Confidence Index)

Indeks Keyakinan Konsumen atau IKK adalah indikator ekonomi yang didesain untuk mengevaluasi tingkat optimisme atau pesimisme konsumen akan kondisi perekonomian sebuah negara. 

Tinggi dan rendahnya minat konsumen dalam berbelanja dapat memengaruhi aktivitas industri dan bisnis sebuah negara. Artinya jika angka indeks ini naik, maka konsumsi masyarakat meningkat dan akhirnya berpengaruh kepada pertumbuhan ekonomi. Berlaku pula pada kondisi sebaliknya.

2. Indeks Ekspektasi Kondisi Ekonomi (IEKE)

Indeks IEKE menentukan apakah konsumen semakin optimis atau pesimis terhadap perkiraan pada kondisi ekonomi beberapa bulan ke depan. Beberapa faktor yang memengaruhi ekspektasi kenaikan atau penurunan indeks ini, di antaranya ketersediaan lapangan kerja, penghasilan, dan juga kegiatan usaha yang bisa berpengaruh terhadap daya beli masyarakat.

3. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKESI)

IKESI adalah indeks yang mengukur tingkat kepercayaan konsumen terhadap pendapatan saat ini daripada pada enam bulan lalu. Indeks ini dipengaruhi beberapa aspek, di antaranya tepat tidaknya waktu saat ini untuk membeli barang tahan lama dan jumlah lapangan kerja yang tersedia.

Penyebab daya beli masyarakat melemah

tingkat pengangguran indonesia

Secara umum, melemahnya daya beli masyarakat di Indonesia disebabkan oleh tiga hal berikut.

1. Terbatasnya lapangan pekerjaan

Seiring makin terbatasnya lapangan pekerjaan, maka angka pengangguran pun meningkat. Akhirnya, kondisi ini berpengaruh pada penurunan tingkat kemakmuran. 

Alhasil keinginan masyarakat untuk membeli barang pun berkurang karena mereka tidak mampu menghasilkan uang untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.

2. Kenaikan harga pada beberapa komponen

Kenaikan harga sebuah barang akan sangat berpengaruh pada perekonomian. Misalnya jika harga daging sapi meningkat dari Rp110 ribu per kilo menjadi Rp150 ribu per kilo, maka masyarakat akan beralih untuk membeli komoditas lain yang harganya tetap stabil. 

Sehingga daya beli masyarakat terhadap daging sapi menurun dan meningkat pada komoditas lainnya yang akan mengacaukan perekonomian.

3. Inflasi

Inflasi adalah proses naiknya harga secara terus-menerus atau suatu proses turunnya nilai mata uang secara berkesinambungan. 

Penyebab inflasi di antaranya meningkatnya jumlah kebutuhan namun diiringi dengan stok yang terbatas, biaya produksi atau jasa naik, dan jumlah uang yang beredar di masyarakat cukup tinggi. Jika inflasi tidak dikendalikan, maka akan berpengaruh pada daya beli.

Pandemi Covid-19 dan melemahnya daya beli masyarakat

Selain tiga hal di atas, perekonomian Indonesia 2020 juga menghadapi tantangan akibat peristiwa pandemi Covid-19. 

Hasil survei konsumen yang dilakukan Bank Indonesia menunjukkan pelemahan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dari bulan Januari sebesar 121,7 poin menjadi 117,7 pada Februari. Penurunan ini disebabkan oleh menurunnya Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) sebesar 4,1 poin dan Indeks Ekspektasi Kondisi Ekonomi (IEK) sebesar 3,9 poin.

Penurunan IKE, disebabkan oleh penurunan indeks ketersediaan lapangan kerja ke level pesimistis yakni 90,1, optimisme penghasilan saat ini, dan keyakinan terhadap pembelian barang tahan lama (durable goods). 

Sedangkan penurunan IEK disebabkan oleh penurunan ekspektasi penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, dan kegiatan usaha.

Para pakar menyebut penurunan optimisme ini merupakan efek psikologis dari Covid-19. Belum lagi ditambah dengan pesimisme karena antisipasi kenaikan harga kebutuhan pokok impor akibat pandemi dan bonus insentif akhir tahun yang berkurang secara signifikan membuat daya beli masyarakat makin tertekan.

Upaya pemerintah meningkatkan daya beli masyarakat

perekonomian desa

Beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk meningkatkan daya beli masyarakat adalah:

  1. Meningkatkan batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Dengan meningkatkan PTKP, diharapkan masyarakat yang dibebaskan dari pajak penghasilan (PPh 21) tersebut bisa menggunakan pendapatannya untuk meningkatkan daya belinya. Sehingga pemerintah bisa menerima kenaikan jumlah pajak konsumsi.
  2. Membangun infrastruktur desa yang memiliki keterbatasan akses, misalnya berupa jalanan yang rusak, fasilitas umum yang minim, dan keterbatasan dalam mendapatkan pasokan. Jika infrastruktur di desa terpenuhi, diharapkan distribusi barang menjadi lebih mudah dan daya beli masyarakat meningkat.
  3. Membuka lapangan kerja baru untuk mengurangi jumlah pengangguran. Jika jumlah pengangguran dapat dikurangi, maka pendapatan masyarakat meningkat yang berdampak positif pada daya beli.

Selain cara-cara tersebut, pemerintah Indonesia juga sudah mengambil beberapa langkah guna menghadapi pandemi Covid-19, mulai dari pemberian stimulus ekonomi hingga keringanan kredit.

Langkah-langkah tersebut perlu didukung oleh semua kalangan, baik masyarakat maupun pelaku bisnis agar upaya peningkatan daya beli masyarakat ini mendapat hasil yang maksimal dan perekonomian Indonesia kembali pulih.

Let's block ads! (Why?)