Landasan Moral Bekerja Dalam Perspektif Islam

Landasan Moral Bekerja Dalam Perspektif Islam
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Etika dan Moral selalu dijadikan sebagai landasan untuk melakukan suatu aktivitas. Menurut Robert Kreitner dan Angelo Kinicki (2010) “Etika melibatkan studi tentang masalah dan pilihan moral. Ini berkaitan dengan benar versus salah, baik versus buruk, dan banyak nuansa abu-abu seharusnya menjadi isu hitam-putih. Implikasi moral muncul dari setiap keributan, baik dalam maupun dari pekerjaan”. Maka dari itu selalu ada kendali moral terhadap setiap perilaku dan sikap seseorang di lingkungan sosial.

Menurut Drafke dan Kossen (1998;295), Moral kerja mengacu pada sikap-sikap karyawan baik terhadap organisasi-organisasi yang memperkerjakan mereka, maupun terhadap faktor-faktor pekerjaan yang khas, seperti supervise, sesame karyawan dan insentif keuangan. Ini dapat dianggap berasal baik dari individu maupun kelompok yang merupakan bagian dimana karyawan berada.

Adapun landasan-landasan moral bekerja dalam perspektif islam yaitu:

  1. Merasa Terpantau

Merasa terpantau dalam konteks ini adalah menyadari sesungguhnya bahwa segala apa saja yang kita kerjakan tidak pernah lepas dalam rekaman dan penglihatan Yang Mahakuasa. Sebagaimana dalam Surat Az-Zalzalah ayat 7-8 “ (Ayat 7) Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (Ayat 8) Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”

Sudah sangat jelas arti dari surat Az-Zalzalah ayat 7-8 yaitu tidak ada lagi rahasia yang bisa disimpan manusia. Semuanya pasti dilihat dan dibalas oleh Allah SWT. Landasan moral yang pertama ini menyadarkan Allah SWT pasti melihat dan membalas amal perbuatan sekecil apapun. Kesadaran ini menjadi sangat penting untuk memimpin dan membimbing perilaku kita agar selalu beraktivitas dalam kebenaran. Dan yang lebih penting lagi adalah untuk menahan keinginan syahwat kita untuk tidak berbuat hal-hal tercela dalam memperoleh penghasilan.

 

  1. Jujur

Jujur merupakan kesucian murni yang memberikan jaminan kebahagiaan spiritual karena perbuatan yang benar (terpuji), ketepatan bekerja, bisa dipercaya dan tidak mau berbuat dusta. Sebagaimana dalam Surat Az-Zumar ayat 32-34 “ (Ayat 32) Maka siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang membuat-buat kebohongan terhadap Allah dan mendustakan kebenaran yang datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahannam tempat tinggal bagi orang-orang kafir?. (Ayat 33) Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan orang yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Ayat 34) Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan-Nya. Demikianlah balasan bagi orang-orang yang berbuat baik.”

 

  1. Amanah

Amanah menurut KBBI adalah kata setia, Kata setia ini dapat diartikan sebagai sifat yang dapat dipercaya, sesuatu hal yang bisa untuk dititipkan atau dipercayakan pada orang lain. Dengan demikian, kepercayaan yang diterimanya itu adalah suatu penghargaan moral yang teramat mahal karena tidak semua manusia dapat dipercaya.

Penerima amanah ini sebenarnya telah memiliki landasan moral yang teramat mulia, yaitu dipercaya orang karena kejujurannya. Kepercayaan ini hendaknya menjadi landasan dalam bekerja. Landasan moral ini bila disadari secara sungguh-sungguh akan membentuk perilaku jujur dalam pribadinya. Bukan sesuatu yang mustahil bila orang tersebut akan terus menjadikan sifat jujur menghiasi aktivitasnya dalam bekerja maupun kehidupannya sehari-hari. Sifat dan sikap ini segera akan menciptakan opini public yang secara positif ikut menghargai kebaikannya. Dengan demikian, nama baik diri,keluarga,agama dan bangsa ikut menjadi harum. Dampak positifnya adalah orang tersebut menjadi lebih berwibawa, dicintai banyak orang dan menjadi panutan orang lain. Maka dari itu, terlihat betapa pentingnya amanah itu dan Islam melarang kita bersikap khianat dalam posisi,status dan fungsi sebagai apa saja. Sebagaimana dalam Surat Al-Anfaal ayat 27-28 “ (Ayat 27) Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu menghianati, amanat-amanat yang dipercayakan kepada-Mu, sedang kamu mengetahui. (Ayat 28) Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanya sebagai cobaan, dan sesungguhnya disisi Allah-lah pahala yang besar.”

 

  1. Takwa

Takwa adalah sikap waspada manusia untuk menjaga dirinya dari kemurkaan Allah dengan jalan tidak menganiaya dirinya sendiri dan orang lain. Takwa dikenal sebagai “imtisali bi awamirihi wajtinabi nawahihi” yang artinya melakukan apa yang diperintahkan dan meninggalkan segala sesuatu yang dilarang agama. Takwa melahirkan manusia yang memiliki kepribadian terpuji, Diantaranya adalah:

  1. Pribadi yang taat beragama
  2. Pribadi yang gemar berbuat kebajikan
  3. Pribadi yang tidak mau dikotori oleh perbuatan yang tercela.

Orang-orang yang bertakwa mendapat penghargaan yang lebih dari Allah. Diantaranya sebagai berikut:

  1. Allah SWT menjadikannya sebagai manusia yang “furqan”, dapat membedakan yang hak dan batil, salah dan benar (Surat Al-Anfal Ayat 29)
  2. Allah SWT akan memberinya jalan keluar (Surat Ath-Thalaq Ayat 2)
  3. Allah SWT memudahkan segala urusannya (Surat Ath-Thalaq Ayat 4)
  4. Allah SWT menghapus kesalahan dan melipatgandakan pahala baginya (Surat Ath-Thalaq Ayat 5)
  5. Allah SWT akan memberi rezeki padanya dari arah yang tidak terduga (Surat Ath-Thalaq Ayat 3)
  6. Allah SWT menyediakan tempat kembali yang baik (Surat Shad Ayat 49)
  7. Allah SWT akan menempatkannya dalam naungan yang teduh/tenang (Surat Al-Mursalat Ayat 41)
  8. Allah SWT memberikan kemenangan padanya (An-Naba Ayat 31)
  9. Allah SWT menyediakan surge baginya (Surat Ali Imran Ayat 133)

Maka dari itu segala aktivitas kehidupan kita harus dilihat dari perspektif islam. Terutama dalam hal bekerja yang mana melibatkan banyak orang untuk bersosialisasi atau berorganisasi. Untuk itu kita harus merasa terpantau oleh Allah SWT, memegang teguh takwa dan kejujuran sehingga kita dapat diamanahkan oleh banyak orang dan mendapat pahala dari segala aktivitas kehidupan kita.

 

Daftar Pustaka :

M.A., Dr. Thohir Luth. 2001. Antara Perut & Etos Kerja. Jakarta: Gema Insani.

https://teknologikinerja.wordpress.com/2015/11/19/landasan-etika-dan-moral/

https://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/04/hubungan-moral-kerja-dan-produktivitas.html

https://brainly.co.id/tugas/910727