Mal-mal Dibuka selama New Normal, Indef: Masyarakat Masih Takut tuh

WE Online, Jakarta - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani mengatakan ada perubahan perilaku konsumen secara signifikan selama masa pandemi, dan nantinya akan mengubah kebiasaan selama penerapan new normal. "Selama pandemi COVID-19 terdapat perubahan perilaku masyarakat yang menarik, pertama mereka ada kebutuhan terutama untuk kebutuhan primer yakni pangan plus menjaga kesehatan atau health care, karena orang-orang membutuhkan sabun cuci tangan dan masker. Pengeluaran itu jadi berubah dari yang awalnya untuk kebutuhan sekunder menjadi kebutuhan primer, terutama kesehatan," kata Aviliani dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa. Baca Juga: Ya Allah, Jumlah yang Meninggal Akibat Corona di Indonesia Hampir Tembus 2.000 Orang Padahal, lanjut dia, sebelum pandemi Covid-19 masyarakat mengutamakan kebutuhan pangan dan pariwisata atau jalan-jalan, di mana pengeluaran masyarakat untuk jalan-jalan atau pariwisata menduduki peringkat kedua. Namun ketika COVID-19 melanda justru sektor yang terkena duluan adalah sektor pariwisata. "Otomatis kebutuhan sekunder ini akan lama untuk bisa kembali pulih di era normal baru saat ini. Kenapa? Walaupun mal-mal sudah dibuka di era normal baru, masyarakat masih tetap takut," ujar Aviliani. Selain itu selama dua bulan terakhir, daya beli masyarakat cukup turun signifikan. Artinya orang-orang yang bekerja dari rumah atau working from home tidak mendapatkan uang makan, uang lembur, dan sebagainya sehingga penghasilan mereka turun 50 persen. Let's block ads! (Why?)

Mal-mal Dibuka selama New Normal, Indef: Masyarakat Masih Takut tuh
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
WE Online, Jakarta -

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani mengatakan ada perubahan perilaku konsumen secara signifikan selama masa pandemi, dan nantinya akan mengubah kebiasaan selama penerapan new normal.

"Selama pandemi COVID-19 terdapat perubahan perilaku masyarakat yang menarik, pertama mereka ada kebutuhan terutama untuk kebutuhan primer yakni pangan plus menjaga kesehatan atau health care, karena orang-orang membutuhkan sabun cuci tangan dan masker. Pengeluaran itu jadi berubah dari yang awalnya untuk kebutuhan sekunder menjadi kebutuhan primer, terutama kesehatan," kata Aviliani dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa.

Baca Juga: Ya Allah, Jumlah yang Meninggal Akibat Corona di Indonesia Hampir Tembus 2.000 Orang

Padahal, lanjut dia, sebelum pandemi Covid-19 masyarakat mengutamakan kebutuhan pangan dan pariwisata atau jalan-jalan, di mana pengeluaran masyarakat untuk jalan-jalan atau pariwisata menduduki peringkat kedua. Namun ketika COVID-19 melanda justru sektor yang terkena duluan adalah sektor pariwisata.

"Otomatis kebutuhan sekunder ini akan lama untuk bisa kembali pulih di era normal baru saat ini. Kenapa? Walaupun mal-mal sudah dibuka di era normal baru, masyarakat masih tetap takut," ujar Aviliani.

Selain itu selama dua bulan terakhir, daya beli masyarakat cukup turun signifikan. Artinya orang-orang yang bekerja dari rumah atau working from home tidak mendapatkan uang makan, uang lembur, dan sebagainya sehingga penghasilan mereka turun 50 persen.

Let's block ads! (Why?)