Marilah Kita Bertanggungjawab kepada Tuhan

Para pemirsa, umat Kristiani yang tersebar di alam semesta. Mimbar kali ini, membahas Firman Tuhan (Kejadian 2:16-17), berikut: “Lalu Tuhan Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." Para pemirsa yang dikasihi Tuhan. Firman Allah tersebut menjadi dasar perenungan dalam ibadah raya minggu ini, dengan judul khotbah “Marilah Kita Bertanggungjawab Kepada Tuhan.” Ayat Kejadian 2:16-17 menceritakan peristiwa di mana Allah berbicara kepada Adam, manusia berkelamin pria yang diciptakan oleh Tuhan. Manusia adalah masterpiece nya Tuhan, maha karya Tuhan. Adam diciptakan, diukir, dilukis dengan tangan Tuhan sendiri, betapa agung dan mulia manusia yang pertama itu, betapa mulia dan agung manusia sebagai ciptaan Tuhan. Tuhan memberi perintah kepada Adam, ketika menempatkannya di Taman Eden, untuk memelihara dan mengusahakan Taman Eden itu. Allah berbicara kepada Adam “Lalu Tuhan Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas.” Kehendak bebas diberikan Tuhan kepada manusia yang pertama, namanya Adam. Tetapi dalam ayat yang lain, Alkitab berkata: “Tidak baik kalau seorang manusia itu seorang diri saja.” Maka Tuhan menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam, ketika Adam tertidur maka Allah ‘mengoperasi’ rusuknya Adam, tanpa obat bius dijadikanlah manusia berkelamin perempuan dan diberi nama oleh Tuhan: Hawa. Hawa diciptakan untuk mendampingi Adam dalam tugas tanggungjawab di Taman Eden pada saat itu. Sekali lagi, tujuan Allah menciptakan Hawa adalah mendampingi Adam. Karena Allah tahu, pria sekalipun ciptaan Tuhan, masih juga perlu pertolongan mendampingi Adam. Tetapi, kita tahu cerita Alkitab, bahwa ketika Hawa diciptakan bersama-sama terus dengan Adam, satu peristiwa, Hawa melihat dua pohon yang ada di taman itu. Lalu, timbullah keinginan Hawa mengambilnya dan mau menikmati pohon atau buah itu. Ketika Hawa mengambil buah itu, terjadi satu pelanggaran. Ketika Hawa mengambil buah itu terjadi kesalahan. Ketika kesalahan terjadi, Allah Ellohim pencipta alam semesta, meminta pertanggungjawaban kepada Adam. Makannya Tuhan berkata: “Adam, Adam di manakah engkau?” Adam menjawab: “Ketika kudengar suaraMu dalam taman, takutlah aku. Itu sebabnya aku bersembunyi.” Kenapa Adam bersembunyi? Adam tahu Adam telah bersalah, Adam telah lalai. Sebelum Hawa diciptakan, Allah berbicara kepada Adam tentang Firman yang saya bacakan tadi “Lalu Tuhan Allah memberi perintah ini kepada manusia…” Hawa belum ada pada saat itu, hanya Adam seorang diri saat Allah berfirman. Makannya, ketika Hawa berbuat kesalahan, yang harus dihukum sebenarnya adalah Hawa, bukan Adam. Karena definisi dosa adalah melanggar hukum Allah adalah pelanggaran. Adam tidak berbuat apa-apa, mengapa Adam harus dihukum? Karena Adamlah yang bertanggungjawab. Kenapa harus Adam yang bertanggungjawab? Karena Adam yang mendengarkan perintah Tuhan. Gereja juga harus bertanggungjawab,. Lakukanlah edukasi, pembinaan bagi warga gereja. Ketika edukasi, pembinaan warga gereja berjalan dengan baik, saya percaya dan saudara pasti setuju nilai rohani akan kembali. Alkitab berkata di dalam 1 Yohanes 5:4, iman mengalahkan dunia. Jika saudara memiliki iman, kita mampu mengalahkan segala reaksi-reaksi yang terjadi di bumi ini, termasuk Covid-19. Umat Kristen mesti percaya, Firman Allah mengatakan, Injil kekuatan Allah yang menyelamatkan. Spiritual! Apalah artinya kita membangun gedung yang mewah, tetapi moralitas, mentalitas jemaat tidak ada perubahan. Pemerintah punya program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Tuhan juga bicara sama Musa di dalam Ulangan 6:7: “Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” Ketika edukasi dibangun dalam jemaat, ketika edukasi pendidikan formal dan non formal dilakukan dalam jemaat, tentu mereka akan mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Sebab dalam 2 Timotius 3:16 Paulus berkata demikian: “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." Peran dan fungsi Alkitab adalah mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran. Sebab itu, mimbar-mimbar gereja dengan berbagai latar belakang denominasi, harus bertanggungjawab. Sudah saatnya gereja menjadi corong bermitra dengan pemerintah, melihat keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Bukan hanya Presiden Joko Widodo yang bertanggungjawab, bukan hanya Menteri Agama yang bertanggungjawab, bukan Gubernur, Walikota, Camat, Lurah yang bertanggungjawab. Pemimpin-pemimpin gereja, sinode-sinode gereja, lembaga-lembaga gereja a

Marilah Kita Bertanggungjawab kepada Tuhan

Para pemirsa, umat Kristiani yang tersebar di alam semesta. Mimbar kali ini, membahas Firman Tuhan (Kejadian 2:16-17), berikut:

“Lalu Tuhan Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."

Para pemirsa yang dikasihi Tuhan. Firman Allah tersebut menjadi dasar perenungan dalam ibadah raya minggu ini, dengan judul khotbah “Marilah Kita Bertanggungjawab Kepada Tuhan.”

Ayat Kejadian 2:16-17 menceritakan peristiwa di mana Allah berbicara kepada Adam, manusia berkelamin pria yang diciptakan oleh Tuhan. Manusia adalah masterpiece nya Tuhan, maha karya Tuhan. Adam diciptakan, diukir, dilukis dengan tangan Tuhan sendiri, betapa agung dan mulia manusia yang pertama itu, betapa mulia dan agung manusia sebagai ciptaan Tuhan.

Tuhan memberi perintah kepada Adam, ketika menempatkannya di Taman Eden, untuk memelihara dan mengusahakan Taman Eden itu. Allah berbicara kepada Adam “Lalu Tuhan Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas.” Kehendak bebas diberikan Tuhan kepada manusia yang pertama, namanya Adam.

Tetapi dalam ayat yang lain, Alkitab berkata: “Tidak baik kalau seorang manusia itu seorang diri saja.” Maka Tuhan menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam, ketika Adam tertidur maka Allah ‘mengoperasi’ rusuknya Adam, tanpa obat bius dijadikanlah manusia berkelamin perempuan dan diberi nama oleh Tuhan: Hawa.

Hawa diciptakan untuk mendampingi Adam dalam tugas tanggungjawab di Taman Eden pada saat itu. Sekali lagi, tujuan Allah menciptakan Hawa adalah mendampingi Adam. Karena Allah tahu, pria sekalipun ciptaan Tuhan, masih juga perlu pertolongan mendampingi Adam.

Tetapi, kita tahu cerita Alkitab, bahwa ketika Hawa diciptakan bersama-sama terus dengan Adam, satu peristiwa, Hawa melihat dua pohon yang ada di taman itu. Lalu, timbullah keinginan Hawa mengambilnya dan mau menikmati pohon atau buah itu. Ketika Hawa mengambil buah itu, terjadi satu pelanggaran. Ketika Hawa mengambil buah itu terjadi kesalahan.

Ketika kesalahan terjadi, Allah Ellohim pencipta alam semesta, meminta pertanggungjawaban kepada Adam. Makannya Tuhan berkata: “Adam, Adam di manakah engkau?” Adam menjawab: “Ketika kudengar suaraMu dalam taman, takutlah aku. Itu sebabnya aku bersembunyi.” Kenapa Adam bersembunyi? Adam tahu Adam telah bersalah, Adam telah lalai.

Sebelum Hawa diciptakan, Allah berbicara kepada Adam tentang Firman yang saya bacakan tadi “Lalu Tuhan Allah memberi perintah ini kepada manusia…” Hawa belum ada pada saat itu, hanya Adam seorang diri saat Allah berfirman.

Makannya, ketika Hawa berbuat kesalahan, yang harus dihukum sebenarnya adalah Hawa, bukan Adam. Karena definisi dosa adalah melanggar hukum Allah adalah pelanggaran.

Adam tidak berbuat apa-apa, mengapa Adam harus dihukum? Karena Adamlah yang bertanggungjawab. Kenapa harus Adam yang bertanggungjawab? Karena Adam yang mendengarkan perintah Tuhan.

Gereja juga harus bertanggungjawab,. Lakukanlah edukasi, pembinaan bagi warga gereja. Ketika edukasi, pembinaan warga gereja berjalan dengan baik, saya percaya dan saudara pasti setuju nilai rohani akan kembali. Alkitab berkata di dalam 1 Yohanes 5:4, iman mengalahkan dunia. Jika saudara memiliki iman, kita mampu mengalahkan segala reaksi-reaksi yang terjadi di bumi ini, termasuk Covid-19.

Umat Kristen mesti percaya, Firman Allah mengatakan, Injil kekuatan Allah yang menyelamatkan. Spiritual! Apalah artinya kita membangun gedung yang mewah, tetapi moralitas, mentalitas jemaat tidak ada perubahan.

Pemerintah punya program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Tuhan juga bicara sama Musa di dalam Ulangan 6:7: “Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”

Ketika edukasi dibangun dalam jemaat, ketika edukasi pendidikan formal dan non formal dilakukan dalam jemaat, tentu mereka akan mengalami perubahan ke arah yang lebih baik.

Sebab dalam 2 Timotius 3:16 Paulus berkata demikian: “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran."

Peran dan fungsi Alkitab adalah mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran. Sebab itu, mimbar-mimbar gereja dengan berbagai latar belakang denominasi, harus bertanggungjawab. Sudah saatnya gereja menjadi corong bermitra dengan pemerintah, melihat keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

Bukan hanya Presiden Joko Widodo yang bertanggungjawab, bukan hanya Menteri Agama yang bertanggungjawab, bukan Gubernur, Walikota, Camat, Lurah yang bertanggungjawab. Pemimpin-pemimpin gereja, sinode-sinode gereja, lembaga-lembaga gereja aras nasional, juga bertanggungjawab menyampaikan kabar baik.

Maka, setelah membaca dan mengetahui Firman Allah, mari aplikasikan Firman Allah kepada setiap manusia ciptaan Tuhan, dengan berbuat baik. Kalau gereja berfungsi, mimbar gereja berfungsi menjadi corong berbicara tentang nilai-nilai moral, maka manusia akan berubah, Negara akan aman, lingkungan akan aman, perbaikan ekonomi, infrastruktur akan terjadi. Ini adalah bentuk tanggungjawab.

Ketahuilah, bahwa siapapun yang sudah mendengar Firman Allah, maka Tuhan akan tuntut pertanggungjawabannya.  Aplikasikan apa yang telah didengar dari Firman Allah, apa yang diajarkan di mimbar-mimbar gereja oleh para rohaniawan, para gembala, para pastor. Dengan itu, umat akan diberkati karena ada perbaikan nilai.

Ketika pria, wanita berbuat satu kebaikan, maka gereja aman, pemerintah aman, lingkungan di mana kita tinggal akan masuk dalam zona kenyamanan, sekalipun pergumulan akan terus menghampiri kita. Sebab, Firman, iman dapat mengalahkan dunia. Terpujilah nama Tuhan Yesus Kristus.

Maka dari itu, untuk semua yang telah mendengar Firman Allah, mari realisasikan tugasnya untuk menyampaikan kabar baik bagi banyak orang sehingga mereka akan berbuat baik bagi keluarganya. Suami akan mengasihi isteri, isteri akan menghormati suami dan akan menyayangi keluarga anak-anaknya. Amin

Pdt. Dr. Jemmy Andries Sonambela, M.Th. (Ketua Sinode Gereja Pantekosta Serikat Di Indonesia atau GPSDI)