Mengapa Pekerja Freelance Tidak Masuk Daftar Favorit Menantu Idaman?

Cangkeman.net - Freelance atau pekerja paruh waktu sekarang banyak digeluti oleh banyak kalangan, utamanya bagi mereka yang masih mempunyai prioritas utama seperti para pelajar atau anak kuliahan yang sehari-harinya sudah disibukkan dengan tumpukan tugas yang makin tidak berperikemanusiaan. Para pelajar ini disamping mengerjakan kewajiban mereka dengan sekolah yang benar, mereka juga berkeinginan untuk mempunyai penghasilan. Namun terlalu berat apabila memutuskan untuk bekerja pada suatu perusahaan resmi dengan kontrak di dalamnya, kecuali jika sudah siap fisik dan mental untuk berani lebih capek. Jadilah bekerja paruh waktu menjadi jalan tengah demi terpenuhinya kebutuhan check out barang lucu dari market place oren.Namun, disamping fleksibilitas yang menguntungkan para pekerja freelance, berbagai stigma negatif juga mengiringi perjalanan mereka dalam mencari cuan. Salah satunya adalah bahwa pekerja freelance bukanlah kriteria untuk masuk dalam daftar menantu idaman mertua. Bukan tanpa alasan, memang sebetulnya ada beberapa faktor yang akhirnya menjadikan stigma tersebut masih saja mengakar dalam lingkungan masyarakat, apalagi jika kalian masih tinggal di lingkungan yang konservatif. Beberapa faktor inilah yangberhasil saya rangkum mengapa stigma tersebut masih saja ada.1. Kelihatan Seperti PengangguranFaktor pertama yang tidak akan pernah lepas dari para freelancer adalah anggapan orang-orang bahwa mereka terlihat seperti pengangguran. Hal ini disebabkan bekerja menjadi freelancer itu tidak terikat jadwal yang monoton harus datang jam sekian, pulang jam sekian dan segala peraturan formal lainnya. Bahkan banyak sekali pekerja freelance yang melakukan pekerjaannya dari rumah atau work from home yang baru saja populer ketika masa lockdown akibat cororna. Memang benar bahwa pekerja freelance bagaikan pengangguran akibat tidak mempunyai kantor yang memaksa mereka harus setiap pagi keluar rumah berangkat ke tempat kerja, berbeda seperti para pekerja pada umumnya. Lebih menyebalkan lagi apabila banyak yang mengira seorang freelancer memelihara tuyul atau babi ngepet karena tidak keluar rumah namun paket terus datang setiap minggunya. Namun mereka bukan berarti pengangguran yang sehari-harinya hanya luntang-lantung tanpa kesibukan. Mereka memilih di rumah saja atau hanya pergi seperlunya karena pekerjaan berjenis freelance membutuhkan suasana yang menurutnya nyaman untuk mengembangkan ide kreatif mereka, apalagi untuk freelancer yang bersifat introvert dimana energy mereka akan terkuras habis-habisan apabila harus berinteraksi dengan banyak orang. Pilihan mengerjakan projek seperti design atau tulisan dari rumah adalah hal yang banyak dipililih oleh para freelancer. Mereka tidak harus bertemu banyak orang yang bisa saja akan mengganggu fokusnya dalam menyelesaikan sebuah projek.2. Freelancer Tidak BerseragamTidak dipungkiri, menantu berseragam masih menjadi primadona bagi para orang tua sampai saat ini. Anggapan bahwa pekerja berseragam terlihat lebih terhormat dan menjanjikan membuat banyak orang tua lebih memilih anaknya untuk bersanding dengan mereka yang terjun di dunia formal daripada dengan para freelancer yang saat mengerjakan projek hanyan cukup memakai kolor dan kausoblong. Tidak salah memang, karena orang-orang yang dalam melakukan pekerjaannnya harus berseragam jauh lebih familiar bagi para orang tua, utamanya mereka yang belum mengetahui bahwa sekarang sudah banyak pekerjaan yang mempunyai penghasilan lumayan meskipun para pelakunya tidak memiliki dress code wajib, salah satunya adalah freelance.3. Tidak Mempunyai Dana PensiunKelihatan seperti pengangguran, tidak berseragam dan yang pasti adalah tidak mempunyai dana pensiunan seperti layaknya pegawai insatansi di pemerintahan. Begitulah pekerja freelance. Iming-iming dana pension memang cukup menggiurkan, karena mereka merasa masa depan dan hari tuanya sudah terjamin dengan baik. Sedangkan pekerja freelance boro-boro mempunyai dana pensiun, projekan saja datangnya pasti sulit diprediksi. Tapi hal itu sebenarnya bisa diatasi, freelancer yang sudah cukup lama terjun di pekerjaan kreatif tersebut pasti sudahmempunyai klien atau target pasar yang jelas. Belum ditambah dengan berbagai passive income yang merekan miliki. Para freelancer ini bisa mengelola keuanganannya dengan memutarnya menjadi usaha yang memberikan tambahan penghasilan lain selagi projekan mereka masih lumayan.4. Rawan Dibandingkan dengan Saudara yang LainKita tinggal di Indonesia, dimana selain menghadapi masyarakat yang suka menjadi kaum mendang-mending juga suka sekali membandingkan hidup orang antara si satu dengan ynag lainnya. Para mertus atau orangtua sejenis itu pasti suka jika mengenalkan anak dan menantu mereka yang bekerja di perusahaan besar, lolos menjadi PNS, dan sederetan pekerjaan umum lainnya yang tidak semua anak milenial suka terjun di dalamnya. Mereka yang bekerja layaknya orang pada umumnya mungkinakan lebih mudah diterima di lingkungnan keluarga,namunbagi para orang t

Mengapa Pekerja Freelance Tidak Masuk Daftar Favorit Menantu Idaman?
Cangkeman.net - Freelance atau pekerja paruh waktu sekarang banyak digeluti oleh banyak kalangan, utamanya bagi mereka yang masih mempunyai prioritas utama seperti para pelajar atau anak kuliahan yang sehari-harinya sudah disibukkan dengan tumpukan tugas yang makin tidak berperikemanusiaan. Para pelajar ini disamping mengerjakan kewajiban mereka dengan sekolah yang benar, mereka juga berkeinginan untuk mempunyai penghasilan. Namun terlalu berat apabila memutuskan untuk bekerja pada suatu perusahaan resmi dengan kontrak di dalamnya, kecuali jika sudah siap fisik dan mental untuk berani lebih capek. Jadilah bekerja paruh waktu menjadi jalan tengah demi terpenuhinya kebutuhan check out barang lucu dari market place oren.Namun, disamping fleksibilitas yang menguntungkan para pekerja freelance, berbagai stigma negatif juga mengiringi perjalanan mereka dalam mencari cuan. Salah satunya adalah bahwa pekerja freelance bukanlah kriteria untuk masuk dalam daftar menantu idaman mertua. Bukan tanpa alasan, memang sebetulnya ada beberapa faktor yang akhirnya menjadikan stigma tersebut masih saja mengakar dalam lingkungan masyarakat, apalagi jika kalian masih tinggal di lingkungan yang konservatif. Beberapa faktor inilah yangberhasil saya rangkum mengapa stigma tersebut masih saja ada.1. Kelihatan Seperti PengangguranFaktor pertama yang tidak akan pernah lepas dari para freelancer adalah anggapan orang-orang bahwa mereka terlihat seperti pengangguran. Hal ini disebabkan bekerja menjadi freelancer itu tidak terikat jadwal yang monoton harus datang jam sekian, pulang jam sekian dan segala peraturan formal lainnya. Bahkan banyak sekali pekerja freelance yang melakukan pekerjaannya dari rumah atau work from home yang baru saja populer ketika masa lockdown akibat cororna. Memang benar bahwa pekerja freelance bagaikan pengangguran akibat tidak mempunyai kantor yang memaksa mereka harus setiap pagi keluar rumah berangkat ke tempat kerja, berbeda seperti para pekerja pada umumnya. Lebih menyebalkan lagi apabila banyak yang mengira seorang freelancer memelihara tuyul atau babi ngepet karena tidak keluar rumah namun paket terus datang setiap minggunya. Namun mereka bukan berarti pengangguran yang sehari-harinya hanya luntang-lantung tanpa kesibukan. Mereka memilih di rumah saja atau hanya pergi seperlunya karena pekerjaan berjenis freelance membutuhkan suasana yang menurutnya nyaman untuk mengembangkan ide kreatif mereka, apalagi untuk freelancer yang bersifat introvert dimana energy mereka akan terkuras habis-habisan apabila harus berinteraksi dengan banyak orang. Pilihan mengerjakan projek seperti design atau tulisan dari rumah adalah hal yang banyak dipililih oleh para freelancer. Mereka tidak harus bertemu banyak orang yang bisa saja akan mengganggu fokusnya dalam menyelesaikan sebuah projek.2. Freelancer Tidak BerseragamTidak dipungkiri, menantu berseragam masih menjadi primadona bagi para orang tua sampai saat ini. Anggapan bahwa pekerja berseragam terlihat lebih terhormat dan menjanjikan membuat banyak orang tua lebih memilih anaknya untuk bersanding dengan mereka yang terjun di dunia formal daripada dengan para freelancer yang saat mengerjakan projek hanyan cukup memakai kolor dan kausoblong. Tidak salah memang, karena orang-orang yang dalam melakukan pekerjaannnya harus berseragam jauh lebih familiar bagi para orang tua, utamanya mereka yang belum mengetahui bahwa sekarang sudah banyak pekerjaan yang mempunyai penghasilan lumayan meskipun para pelakunya tidak memiliki dress code wajib, salah satunya adalah freelance.3. Tidak Mempunyai Dana PensiunKelihatan seperti pengangguran, tidak berseragam dan yang pasti adalah tidak mempunyai dana pensiunan seperti layaknya pegawai insatansi di pemerintahan. Begitulah pekerja freelance. Iming-iming dana pension memang cukup menggiurkan, karena mereka merasa masa depan dan hari tuanya sudah terjamin dengan baik. Sedangkan pekerja freelance boro-boro mempunyai dana pensiun, projekan saja datangnya pasti sulit diprediksi. Tapi hal itu sebenarnya bisa diatasi, freelancer yang sudah cukup lama terjun di pekerjaan kreatif tersebut pasti sudahmempunyai klien atau target pasar yang jelas. Belum ditambah dengan berbagai passive income yang merekan miliki. Para freelancer ini bisa mengelola keuanganannya dengan memutarnya menjadi usaha yang memberikan tambahan penghasilan lain selagi projekan mereka masih lumayan.4. Rawan Dibandingkan dengan Saudara yang LainKita tinggal di Indonesia, dimana selain menghadapi masyarakat yang suka menjadi kaum mendang-mending juga suka sekali membandingkan hidup orang antara si satu dengan ynag lainnya. Para mertus atau orangtua sejenis itu pasti suka jika mengenalkan anak dan menantu mereka yang bekerja di perusahaan besar, lolos menjadi PNS, dan sederetan pekerjaan umum lainnya yang tidak semua anak milenial suka terjun di dalamnya. Mereka yang bekerja layaknya orang pada umumnya mungkinakan lebih mudah diterima di lingkungnan keluarga,namunbagi para orang tua yang mempunyai anak tau menantu sebagai freelancer pasti harus memberikan penjelasan yang lebih panjang kepada sanak saudara saat ditanya apa pekerjaan si anak, dan bagibeberapa orang hal itucukup menyebalkan karena tidak semua bisa paham apa itu pekerjaan menjadi freelancer. Oleh karenanya kalian yang bekerja menjadi freelancer, harpa untuk menguatkan mental saat akan mengunjungi arisanatau acara kumpul keluarga.5. Jam Kerja yang Tidak TeraturFaktor ini juga cukup meresahkan karena seorang freelancer pasti mempunyai jam kerja yang tidak bisa disamakan dengan para pekerja kantoran dan formal lainnya. Mereka bekerja sesuai dengan projek saat menerimanya, oleh karenanya tidak heran jika mendapatkan klien yang sedikit melatih kesabaran para freelancer ini harus rela begadang demi menyelesaikan projek yang sedang mereka terima. Kesehariannya meskipun tidak mempunyai jamnkerja yang pasti namun selalu saja dihantui dengan deadline. E ntah itu deadline penyelesaian, revisi sampai deadline publikasi apabila kalian bekerja menjadi freelance di dunia tulis menulis.Untuk teman-teman yang saat ini bekerja sebagai freelancer atau untuk kalian yang sedang berminat ingin terjun di dunia freealnce, tenang saja. Kalian jalani saja apa yang menurut kalian benar, selagi tidak merugikan orang lain tentunya. Stigma-stigma tersebut bisa kalian patahkan bahwa pekerja freelance sesungguhnya tidak segabut itu, jika mereka tidak menerima penjelasan yang kalian sampaikan itu bukan tanggung jawab kalian lagi, jangan membuang waktu hanya untuk meladeni ketidaksukaan oang yang sesungguhnya mereka tidak memberikan kita [s]seblak[/s] uang jajan.Tulisan ini ditulis oleh Yunita Devika Damayanti di Cangkeman pada tanggal 2 November 2021Adblock test (Why?)