Mengulik Belis atau Mas Kawin Berharga Fantastis di Flores NTT. Bukan Emas, tapi Gading Gajah!

Salah satu syarat untuk melangsungkan pernikahan secara sah adalah mas kawin. Mas kawin berfungsi sebagai bentuk penghargaan dari seorang laki-laki pada mempelai perempuan. Jika di pulau Jawa, mas kawin biasanya berupa uang atau perhiasan dan di agama Islam biasanya mas kawin berupa seperangkat alat salat, nah berbeda halnya dengan mas kawin di daerah-daerah lain. Tentu hal ini sangat bergantung pada adat istiadat di tiap-tiap daerah ya. Advertisement Kali ini Hipwee Wedding mau mengajak kamu mengenal tradisi pernikahan adat di Flores yang terbilang cukup unik. Mas kawin dalam pernikahan adat di sana bukan berupa perhiasan atau uang tapi gading gajah atau disebut ‘bala’ dalam bahasa lokal. Seperti lazimnya mas kawin, gading gajah ini adalah bentuk penghargaan pada mempelai dan keluarga perempuan. Selain itu gading gajah ini juga simbol ikatan antara dua keluarga mempelai. Selengkapnya, simak ulasannya berikut ini ya~ Bukan perhiasan atau uang, mas kawin dalam pernikahan adat masyarakat Flores berupa gading gajah yang berharga ratusan juta rupiah Mas kawin pernikahan adat di Flores/Credit: Kompasiana via www.kompasiana.com Bagi masyarakat Flores, salah satu syarat utama untuk melangsungkan pernikahan adalah gading gajah. Tradisi turun temurun ini memiliki nilai-nilai luhur sebagai bentuk penghargaan pada perempuan. Selain itu gading gajah juga merupakan pengikat pertalian kekeluargaan dan simbol untuk mempersatukan laki-laki dan perempuan. Pertanyaan mendasar yang ada di setiap orang, “Harga gading gajah ini berapa sih?”. Nah, seperti namanya, gading gajah ini tentu saja punya harga yang sangat fantastis. Satu gading gajah berukuran standar biasanya berharga 200 juta rupiah. Harganya semakin meningkat jika berukuran panjang. Bahkan semakin hari harga gading gajah semakin mahal karena kelangkaannya. Pemberian jumlah gading pada mempelai perempuan juga diatur. Jika sang perempuan punya status sosial yang tinggi seperti keturunan raja, maka pihak laki-laki harus menyiapkan sekitar tujuh batang gading gajah. Jika perempuan dari kalangan biasa saja maka hanya perlu menyiapkan satu gading saja. Jika pihak laki-laki belum atau nggak sanggup membeli gading secara kontan, mereka bisa bisa berhutang kok. Tapi jika sampai waktu yang ditentukan nggak bisa bayar sang perempuan konon bisa ditarik kembali oleh pihak keluarganya. Advertisement Gading gajah yang dijadikan mas kawin oleh masyarakat Flores berasal dari fosil-fosil gajah purba yang dulunya tinggal di pulau tersebut atau dibawa dari luar negeri oleh para perantau Gading gajah yang digali dari tanah/Credit: Money.id via www.money.id Kalau dipikir, penggunaan gading gajah sebagai mas kawin di Flores cukup unik. Pasalnya, di pulau tersebut nggak ada gajah hidup sama sekali. Di masa sekarang, gajah di Indonesia hanya ditemukan di daerah Sumatera. Terus dari mana masyarakat Flores bisa mendapatkan gading gajah ini? Menurut laporan Kompas, masyarakat Flores mendapat gading tersebut dari gajah purba. Dikatakan pada zaman prasejarah kawasan Flores pernah digunakan sebagai tempat tinggal gajah purba. Gading ini kemungkinan berasal dari kepemilikan turun temurun atau dari galian fosil. Selain itu gading gajah juga didapat dari luar negeri seperti Malaysia yang dibawa oleh perantau. Selain dari fosil, gading yang ada di sana juga konon di bawah oleh raja Sikka. Pada abad ke-17, dia pergi ke Malaka yang masih dikuasai oleh Portugal. Saat pulang, dia membawa banyak gading gajah yang akhirnya banyak diberikan kepada tuan tanah dan bangsawan. Menariknya, dilansir dari laman Tirto, jika perkawinan dari perempuan Flores asal Lamaholot terjadi dengan pria luar atau dilangsungkan di perantauan, belis dapat dikonversikan dalam bentuk uang. Tapi kalau dilangsungkan Flores, maka belisnya wajib berupa gading Advertisement Gading sebagai investasi masa depan/Credit: Bombastis via www.boombastis.com Tidak semua daerah bisa mengkonversikan gading gajah menjadi uang. Selain bisa dikonversikan, ternyata belis ini tak selamanya hanya diberikan oleh pihak laki-laki saja. Dilansir dari laman Tirto, di Flores Timur juga ada kebudayaan di mana yang wajib memberikan belis adalah pihak perempuan. Bagi masyarakat Flores bisa dikatakan gading gajah merupakan investasi dan tabungan masa depan. Banyak keluarga di Flores yang menggunakan gading gajah demi menguliahkan anak-anak mereka ke luar pulau. Sebenarnya jika seorang pria nggak bisa memberikan gading untuk keluarga perempuan, ia tetap bisa menikahi dengan syarat mengabdi seumur hidup pada keluarga sang perempuan. Bagi sebagian orang, tradisi ini mungkin terkesan ‘super mahal’, tapi namanya juga kebudayaan tentu nggak bisa disamakan antara daerah satu dan lainnya. Kalau menurut kamu sendiri, gimana?

Mengulik Belis atau Mas Kawin Berharga Fantastis di Flores NTT. Bukan Emas, tapi Gading Gajah!

Salah satu syarat untuk melangsungkan pernikahan secara sah adalah mas kawin. Mas kawin berfungsi sebagai bentuk penghargaan dari seorang laki-laki pada mempelai perempuan. Jika di pulau Jawa, mas kawin biasanya berupa uang atau perhiasan dan di agama Islam biasanya mas kawin berupa seperangkat alat salat, nah berbeda halnya dengan mas kawin di daerah-daerah lain. Tentu hal ini sangat bergantung pada adat istiadat di tiap-tiap daerah ya.

Advertisement

Kali ini Hipwee Wedding mau mengajak kamu mengenal tradisi pernikahan adat di Flores yang terbilang cukup unik. Mas kawin dalam pernikahan adat di sana bukan berupa perhiasan atau uang tapi gading gajah atau disebut ‘bala’ dalam bahasa lokal. Seperti lazimnya mas kawin, gading gajah ini adalah bentuk penghargaan pada mempelai dan keluarga perempuan. Selain itu gading gajah ini juga simbol ikatan antara dua keluarga mempelai. Selengkapnya, simak ulasannya berikut ini ya~

Bukan perhiasan atau uang, mas kawin dalam pernikahan adat masyarakat Flores berupa gading gajah yang berharga ratusan juta rupiah

Mas kawin pernikahan adat di Flores/Credit: Kompasiana via www.kompasiana.com

Bagi masyarakat Flores, salah satu syarat utama untuk melangsungkan pernikahan adalah gading gajah. Tradisi turun temurun ini memiliki nilai-nilai luhur sebagai bentuk penghargaan pada perempuan. Selain itu gading gajah juga merupakan pengikat pertalian kekeluargaan dan simbol untuk mempersatukan laki-laki dan perempuan. Pertanyaan mendasar yang ada di setiap orang, “Harga gading gajah ini berapa sih?”. Nah, seperti namanya, gading gajah ini tentu saja punya harga yang sangat fantastis. Satu gading gajah berukuran standar biasanya berharga 200 juta rupiah. Harganya semakin meningkat jika berukuran panjang. Bahkan semakin hari harga gading gajah semakin mahal karena kelangkaannya.

Pemberian jumlah gading pada mempelai perempuan juga diatur. Jika sang perempuan punya status sosial yang tinggi seperti keturunan raja, maka pihak laki-laki harus menyiapkan sekitar tujuh batang gading gajah. Jika perempuan dari kalangan biasa saja maka hanya perlu menyiapkan satu gading saja. Jika pihak laki-laki belum atau nggak sanggup membeli gading secara kontan, mereka bisa bisa berhutang kok. Tapi jika sampai waktu yang ditentukan nggak bisa bayar sang perempuan konon bisa ditarik kembali oleh pihak keluarganya.

Advertisement

Gading gajah yang dijadikan mas kawin oleh masyarakat Flores berasal dari fosil-fosil gajah purba yang dulunya tinggal di pulau tersebut atau dibawa dari luar negeri oleh para perantau

Gading gajah yang digali dari tanah/Credit: Money.id via www.money.id

Kalau dipikir, penggunaan gading gajah sebagai mas kawin di Flores cukup unik. Pasalnya, di pulau tersebut nggak ada gajah hidup sama sekali. Di masa sekarang, gajah di Indonesia hanya ditemukan di daerah Sumatera. Terus dari mana masyarakat Flores bisa mendapatkan gading gajah ini?

Menurut laporan Kompas, masyarakat Flores mendapat gading tersebut dari gajah purba. Dikatakan pada zaman prasejarah kawasan Flores pernah digunakan sebagai tempat tinggal gajah purba. Gading ini kemungkinan berasal dari kepemilikan turun temurun atau dari galian fosil. Selain itu gading gajah juga didapat dari luar negeri seperti Malaysia yang dibawa oleh perantau. Selain dari fosil, gading yang ada di sana juga konon di bawah oleh raja Sikka. Pada abad ke-17, dia pergi ke Malaka yang masih dikuasai oleh Portugal. Saat pulang, dia membawa banyak gading gajah yang akhirnya banyak diberikan kepada tuan tanah dan bangsawan.

Menariknya, dilansir dari laman Tirto, jika perkawinan dari perempuan Flores asal Lamaholot terjadi dengan pria luar atau dilangsungkan di perantauan, belis dapat dikonversikan dalam bentuk uang. Tapi kalau dilangsungkan Flores, maka belisnya wajib berupa gading

Advertisement

Gading sebagai investasi masa depan/Credit: Bombastis via www.boombastis.com

Tidak semua daerah bisa mengkonversikan gading gajah menjadi uang. Selain bisa dikonversikan, ternyata belis ini tak selamanya hanya diberikan oleh pihak laki-laki saja. Dilansir dari laman Tirto, di Flores Timur juga ada kebudayaan di mana yang wajib memberikan belis adalah pihak perempuan. Bagi masyarakat Flores bisa dikatakan gading gajah merupakan investasi dan tabungan masa depan. Banyak keluarga di Flores yang menggunakan gading gajah demi menguliahkan anak-anak mereka ke luar pulau.

Sebenarnya jika seorang pria nggak bisa memberikan gading untuk keluarga perempuan, ia tetap bisa menikahi dengan syarat mengabdi seumur hidup pada keluarga sang perempuan. Bagi sebagian orang, tradisi ini mungkin terkesan ‘super mahal’, tapi namanya juga kebudayaan tentu nggak bisa disamakan antara daerah satu dan lainnya. Kalau menurut kamu sendiri, gimana?