Meningkatkan Problem Solving Sembari Bermain pada Anak Usia Dini

Meningkatkan Problem Solving Sembari Bermain pada Anak Usia Dini
sumber gambar : edukasi.kompas.com

Meningkatkan Problem Solving Sembari Bermain pada Anak Usia Dini

Oleh

Tiara Tiani Putri

 

Anak-anak usia dini lebih suka bermain kan daripada belajar? Lalu apa yang perlu diajarkan kepada anak-anak usia dini? Tentu saja ada dan terdapat banyak hal bisa diajarkan pada anak-anak usia dini. Menurut Papalia, Olds, & Feldman (2009)  Anak usia dini merupakan individu yang memiliki rentang usia 0-7 tahun. Pada usia ini sering sekali disebut golden age karena anak usia dini berada pada tahap pertumbuhan dan perkembangan yang aktif. Sehingga, lebih mudah mempelajari dan mengingat stimulus yang diberikan dengan baik. Pengajaran dapat dilakukan oleh orang tua, kakak adik, guru, dan sebagainya. Pengajaran pun harus menggunakan metode yang menarik dan menyenangkan bagi anak-anak, salah satunya dengan bermain.

Bermain merupakan salah satu metode yang tepat untuk meningkatkan tumbuh kembang anak usia dini. Bermain bukan hanya berperan supaya anak-anak melakukan interaksi sosial bersama teman-temannya. Namun, bermain juga berperan penting dalam proses tumbuh dan berkembang anak, karena dengan bermain aspek perkembangan anak dapat tumbuh dengan baik. Hal tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Susan Isaacs (1933) (dalam Hasanah, 2016) ia mengemukakan bahwa bermain dapat berkontribusi pada aspek tumbuh kembang anak. Salah satu aspek perkembangan terpenting yang dapat ditingkatkan melalui bermain adalah perkembangan kognitif pada anak. Sehingga memungkinkan anak untuk mampu memikirkan dan mengolah hasil belajar serta mengajarkan kepada anak untuk memecahkan masalah. Bermain memudahkan anak-anak dalam mengembangkan aspek perkembangan kognitifnya, dengan mempelajari dan menjelajahi sesuatu yang baru. Saat bermain anak-anak sangat perlu memiliki kemampuan dalam memecahkan suatu masalah, karena dengan bermain anak-anak dapat belajar untuk mengambil keputusan, memilih, menilai, berkreasi, mengungkapkan pendapat, berasumsi dan memecahkan masalah yang dimiliki ketika bermain.

Memecahkan masalah atau problem solving melibatkan penentuan cara yang tepat untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan (dalam Santrock (2018)). Dalam kehidupan sehari-hari pasti anak-anak akan dihadapkan oleh berbagai macam masalah, maka dari itu kemampuan memecahkan masalah perlu diajarkan kepada anak-anak sejak dini. Kemampuan memecahkan masalah merupakan aspek yang penting untuk diajarkan pada anak sejak dini seperti yang dilansir Portaldik.id, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No.137 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini yang berisi mengenai standar perkembangan kognitif seperti yang dimaksud pada ayat 1 yaitu belajar dan pemecahan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari, berpikir logis, dan berpikir secara simbolik dalam mengenal huruf dan mampu menginterpretasikan gambar. Selain itu, berdasarkan yang dilansir Kumparan.com (16/05/2020), Ahmad Syahid Zakaria merupakan Founder Kalanati yaitu sebuah sarana belajar, bermain dan berkarya untuk anak-anak usia dini. Beliau mengemukakan bahwa usia 1-12 tahun merupakan masa yang tepat untuk mendidik anak-anak untuk menyelesaikan masalah. Jadi, memang sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah sedari dini pada anak-anak. Tentu peran pendidik sangat penting dalam mengajarkan pemecahan masalah pada anak-anak usia dini, baik di lingkungan keluarga maupun lingkungan sekolah.

 

Kedua orang tua, guru dan pendidik lainnya harus mampu mengajari anak-anak berdasarkan empat langkah dalam memecahkan masalah secara efektif yang terdiri dari (1) Mengidentifikasi masalah, (2) Kembangkan strategi pemecahan masalah, (3) Evaluasi solusi, dan (4) Memeriksa kembali proses dan hasil (Menurut Bransford & Stein, 1993) dalam Santrock (2018). Selain itu, orang tua, guru, dan pendidik lainnya harus mampu mempertimbangkan dan memperhatikan permainan yang mengharuskan anak-anak untuk terlibat dalam memecahkan suatu masalah. Terdapat beberapa permainan yang dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah seperti permainan puzzle, permainan tebak gambar, building & construction, permainan maze, dan masih banyak lainnya. Permainan-permainan tersebut dapat membuat anak-anak tertarik untuk memainkannya, serta dapat membuat anak-anak aktif untuk berpikir dalam menyelesaikan masalah dalam permainan tersebut. Hal ini dapat membuat anak-anak belajar mandiri, menumbuhkan inisiatif, dan meningkatkan kepercayaan diri dalam memecahkan suatu masalah.

 

Tetapi kenyataanya masih cukup banyak anak-anak yang masih belum mampu untuk memecahkan masalahnya sendiri. Dalam penelitian Masyah, Sumarsih, & Delrefi (2017) hasil observasi pada kelompok A1 PAUD Kemala Bhayangkari Bengkulu Utara, mengemukakan bahwa masih banyak anak-anak yang belum memiliki kemampuan memecahkan suatu masalah. Berdasarkan data observasi awal terdapat 3 dari 12 anak yang mampu menginterpretasikan sebab akibat dari suatu kejadian, mampu menentukan dengan benar letak kejanggalan dalam suatu gambar, serta mampu menyelesaikan permainan maze (logika). Sedangkan 9 anak belum mampu menginterpretasikan sebab akibat dari suatu kejadian, belum mampu menentukan dengan benar letak kejanggalan dalam suatu gambar, serta belum mampu menyelesaikan permainan maze (logika). Fenomena ini menunjukkan bahwa mereka masih membutuhkan bantuan orang lain dalam memecahkan suatu masalah yang mereka miliki. Jika tidak diajarkan sedari dini, maka akan berdampak pada masa yang akan datang. Anak-anak akan sulit untuk menyelesaikan masalah secara mandiri dan akan selalu bergantung pada orang lain.

Oleh karena itu, para pendidik perlu untuk mengajarkan langkah-langkah pemecahan dengan baik dan benar kepada anak-anak usia dini sambil bermain dengan permainan yang disukai oleh sang anak. Dengan begitu, anak-anak dapat belajar untuk menemukan solusi yang tepat bagi masalah yang dihadapi kedepannya. Apabila anak-anak mengalami suatu masalah ia tidak akan lari dari masalah tersebut dan akan menghadapinya dengan menemukan solusi yang tepat dan efektif.

 

DAFTAR REFERENSI

Hasanah, U. (2016) Pengembangan kemampuan fisik motorik melalui permainan tradisional bagi anak usia dini. Jurnal Pendidikan Anak, 5 (1). 717-733. Diambil dari  https://journal.uny.ac.id/index.php/jpa/article/viewFile/12368/8937 

Masyah, M., Sumarsih, & Delrefi, D. (2017) Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah melalui bermain tebak gambar pada anak kelompok a1 di paud Kemala Bhayangkari Bengkulu Utara. Jurnal Ilmiah Potensia, 2 (2). 101-106 Diambil dari  https://ejournal.unib.ac.id/index.php/potensia/article/view/2894

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia  (2014) Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini. Portaldik.id. Diambil dari  https://portaldik.id/assets/upload/peraturan/PERMEN%20KEMENDIKBUD%20Nomor%20137%20Tahun%202014%20STANDAR%20NASIONAL%20PENDIDIKAN%20ANAK%20USIA%20DINI.pdf 

Papalia, D. E., Olds, S. W., & Feldman, R. D. (2009). Human Development, 11th Edition. New York, NY: McGraw-Hill.

Santrock, J. W. (2018) Educational Psychology, 6th Edition. New York: McGraw Hill Education.

Tanpa Nama (2020, 16 Mei) 7 Permainan Ini Latih Anak Belajar Atasi Masalah. Kumparan.com. Diambil dari https://kumparan.com/kumparanmom/7-permainan-ini-latih-anak-belajar-atasi-masalah-1tQ5QwncAfx/full