Menristek/Kepala BRIN: Akhir Tahun 2020 Vaksin Merah Putih Uji Pra Klinis

SIARAN PERSKEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI/BADAN RISET DAN INOVASI NASIONALNomor: 163/SP/HM/BKKP/X/2020 Jakarta – Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro menjadi pembicara dalam live talks Indy Fest 2020 yang dilaksanakan secara daring, Senin (19/10). Menristek/Kepala BRIN kembali mengingatkan, vaksin Merah Putih merupakan vaksin yang dikembangkan menggunakan isolat virus Covid-19 yang bertransmisi di Indonesia. Vaksin karya anak bangsa yang dikembangkan dengan menggunakan platform yang berbeda ini dikembangkan tidak hanya oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman tetapi juga dikembangkan oleh beberapa pihak lain seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Airlangga, dan Universitas Gajah Mada. Pada akhir tahun 2020 diharapkan kemajuan pengembangan vaksin Merah Putih memasuki tahapan uji pra klinis sehingga di triwulan I tahun 2021 dapat dilakukan uji klinis tahap pertama. Vaksin Merah Putih memiliki perbedaan jika dibandingan dengan vaksin lainnya seperti Sinovac dan Sinopharm. Sinovac dan Sinopharm menggunakan platform inactivated virus (virus yang dimatikan) sedangkan vaksin Merah Putih dikembangkan menggunakan platform protein rekombinan, DNA, dan RNA. Selain itu vaksin Merah Putih dikembangkan menggunakan isolat virus yang bertransmisi di Indonesia, berbeda dengan Sinovac dan Sinopharm yang menggunakan isolat virus dari negara asalnya, China. Indonesia menempuh kebijakan double track dalam penanganan pandemi Covid-19 ini khususnya dalam pengembangan vaksin. Penggunaan vaksin-vaksin yang dikembangkan di luar negeri merupakan upaya jangka pendek yang dapat segera dilakukan pemerintah. Belum diketahui secara tepat seberapa lama daya tahan vaksin mampu bertahan dalam tubuh, WHO hanya memperkirakan vaksin Covid-19 ini bertahan selama 6 bulan hingga 2 tahun saja. Vaksin Merah Putih dikembangkan sebagai upaya jangka menengah-panjang dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan vaksin Indonesia dikemudian hari. Masyarakat diharapkan dapat menerima vaksin Covid-19 baik yang dikembangkan di luar negeri maupun vaksin Merah Putih yang sedang dikembangkan di dalam negeri. Pandemi yang terjadi saat ini tidak dapat dikendalikan apabila herd immunity tidak terjadi karena ketiadaan vaksin. Sejatinya vaksin tidak hanya berguna untuk satu individu saja melainkan untuk seluruh masyarakat, disinilah pentingnya solidaritas dan kekompakan kita semua meyakini bahwa vaksin merupakan kebutuhan publik. Fajar R Dewantara, Moh. Rif’an Jauhari, Masluhin HajazBiro Kerja Sama dan Komunikasi Publik Kemenristek/BRIN

Menristek/Kepala BRIN: Akhir Tahun 2020 Vaksin Merah Putih Uji Pra Klinis

SIARAN PERS
KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI/BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL
Nomor: 163/SP/HM/BKKP/X/2020

Jakarta – Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro menjadi pembicara dalam live talks Indy Fest 2020 yang dilaksanakan secara daring, Senin (19/10).

Menristek/Kepala BRIN kembali mengingatkan, vaksin Merah Putih merupakan vaksin yang dikembangkan menggunakan isolat virus Covid-19 yang bertransmisi di Indonesia. Vaksin karya anak bangsa yang dikembangkan dengan menggunakan platform yang berbeda ini dikembangkan tidak hanya oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman tetapi juga dikembangkan oleh beberapa pihak lain seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Airlangga, dan Universitas Gajah Mada. Pada akhir tahun 2020 diharapkan kemajuan pengembangan vaksin Merah Putih memasuki tahapan uji pra klinis sehingga di triwulan I tahun 2021 dapat dilakukan uji klinis tahap pertama.

Vaksin Merah Putih memiliki perbedaan jika dibandingan dengan vaksin lainnya seperti Sinovac dan Sinopharm. Sinovac dan Sinopharm menggunakan platform inactivated virus (virus yang dimatikan) sedangkan vaksin Merah Putih dikembangkan menggunakan platform protein rekombinan, DNA, dan RNA. Selain itu vaksin Merah Putih dikembangkan menggunakan isolat virus yang bertransmisi di Indonesia, berbeda dengan Sinovac dan Sinopharm yang menggunakan isolat virus dari negara asalnya, China.

Indonesia menempuh kebijakan double track dalam penanganan pandemi Covid-19 ini khususnya dalam pengembangan vaksin. Penggunaan vaksin-vaksin yang dikembangkan di luar negeri merupakan upaya jangka pendek yang dapat segera dilakukan pemerintah. Belum diketahui secara tepat seberapa lama daya tahan vaksin mampu bertahan dalam tubuh, WHO hanya memperkirakan vaksin Covid-19 ini bertahan selama 6 bulan hingga 2 tahun saja. Vaksin Merah Putih dikembangkan sebagai upaya jangka menengah-panjang dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan vaksin Indonesia dikemudian hari.

Masyarakat diharapkan dapat menerima vaksin Covid-19 baik yang dikembangkan di luar negeri maupun vaksin Merah Putih yang sedang dikembangkan di dalam negeri. Pandemi yang terjadi saat ini tidak dapat dikendalikan apabila herd immunity tidak terjadi karena ketiadaan vaksin. Sejatinya vaksin tidak hanya berguna untuk satu individu saja melainkan untuk seluruh masyarakat, disinilah pentingnya solidaritas dan kekompakan kita semua meyakini bahwa vaksin merupakan kebutuhan publik.

Fajar R Dewantara, Moh. Rif’an Jauhari, Masluhin Hajaz
Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik Kemenristek/BRIN