Menristek/Kepala BRIN Resmikan Pembangkit Listrik Tenaga Biogas di PTPN V Kampar

SIARAN PERS Nomor: 41/SP/HM/BKKP/III/2020 Pemerintah tengah menyoroti ketergantungan Indonesia pada energi fosil. Indonesia masih menggunakan energi fosil sebagai energi utama untuk bahan bakar dan pembangkit listrik. Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan Indonesia harus mulai mengganti energi fosil dengan energi terbarukan, dengan memaksimalkan pemanfaatan kekayaan Sumber Daya Alam Indonesia. Menteri Bambang mengapresiasi dan mendorong PT Perkebunan Nusantara V (PTPN V) untuk terus mengoptimalkan pengolahan limbah sawit menjadi tenaga listrik. “Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia hendaknya dapat memainkan peran utama di bidang energi melalui transisi ke bahan bakar nabati. PTPN V telah berusaha memanfaatkan satu hal yang barangkali dilupakan banyak orang, yaitu limbah. Kalau semua limbah dikonversi menjadi gas maka ada potensi ketersediaan listrik bagi wilayah sekitar, setidaknya wilayah Kampar,” kata Menteri Bambang usai meresmikan pemanfaatan listrik sebesar 700 kilowatt yang berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) di Pabrik Kelapa Sawit milik PTPN V, Terantam, Kampar (6/3). Menteri Bambang mengungkapkan selain memenuhi kebutuhan listrik perusahaan dan membantu mengatasi ketersediaan listrik di daerah terpencil terutama masyarakat yang bermukim di areal perkebunan sawit, teknologi menyulap limbah sawit menjadi tenaga listrik juga menjadi jawaban permasalahan limbah, baik limbah cair maupun limbah padat seperti cangkang sawit. Menteri Bambang mengatakan ketersediaan listrik secara mandiri oleh PTPN V selaras dengan konsep circular economy. PTPN V dapat menekan biaya produksi, sementara limbah dapat diatasi sehingga daya beli tandan buah segar juga meningkat. Dengan begitu, kesejahteraan masyarakat juga atau tumbuh positif dan berbanding lurus dengan daya beli. “Dan yang paling saya garis bawahi adalah aplikasi circular economy atau ekonomi yang tidak ada ujungnya. Karena yang kita pelajari selama ini yang konvensional akan berujung pada sesuatu yaitu limbah,” ujar Menteri Bambang. Direktur Utama PTPN V Jatmiko K Santosa menyampaikan bahwa PTPN V berusaha menerapkan konsep ‘Sawit Lestari’, termasuk dalam pengolahan limbah sawit baik cair maupun padat. Beliau mengungkapkan PLTBg Terantam merupakan proyek kedua di PTPN V. Sebelumnya telah dibangun PLTBg pertama yang berlokasi di PKS Tandun dengan daya, 1,2 megawatt. Rencana selanjutnya yaitu pembangunan PLTBg ketiga di Sei Pagar, Riau. Turut Hadir dalam acara tersebut Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza, Bupati Kabupaten Kampar Catur Sugeng Susanto, Segenap jajaran direksi PTPN V, serta tamu undangan lainnya. Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik Kemenristek/BRIN

Menristek/Kepala BRIN Resmikan Pembangkit Listrik Tenaga Biogas di PTPN V Kampar
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

SIARAN PERS

Nomor: 41/SP/HM/BKKP/III/2020

Pemerintah tengah menyoroti ketergantungan Indonesia pada energi fosil. Indonesia masih menggunakan energi fosil sebagai energi utama untuk bahan bakar dan pembangkit listrik. Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan Indonesia harus mulai mengganti energi fosil dengan energi terbarukan, dengan memaksimalkan pemanfaatan kekayaan Sumber Daya Alam Indonesia. Menteri Bambang mengapresiasi dan mendorong PT Perkebunan Nusantara V (PTPN V) untuk terus mengoptimalkan pengolahan limbah sawit menjadi tenaga listrik.

“Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia hendaknya dapat memainkan peran utama di bidang energi melalui transisi ke bahan bakar nabati. PTPN V telah berusaha memanfaatkan satu hal yang barangkali dilupakan banyak orang, yaitu limbah. Kalau semua limbah dikonversi menjadi gas maka ada potensi ketersediaan listrik bagi wilayah sekitar, setidaknya wilayah Kampar,” kata Menteri Bambang usai meresmikan pemanfaatan listrik sebesar 700 kilowatt yang berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) di Pabrik Kelapa Sawit milik PTPN V, Terantam, Kampar (6/3).

Menteri Bambang mengungkapkan selain memenuhi kebutuhan listrik perusahaan dan membantu mengatasi ketersediaan listrik di daerah terpencil terutama masyarakat yang bermukim di areal perkebunan sawit, teknologi menyulap limbah sawit menjadi tenaga listrik juga menjadi jawaban permasalahan limbah, baik limbah cair maupun limbah padat seperti cangkang sawit. Menteri Bambang mengatakan ketersediaan listrik secara mandiri oleh PTPN V selaras dengan konsep circular economy. PTPN V dapat menekan biaya produksi, sementara limbah dapat diatasi sehingga daya beli tandan buah segar juga meningkat. Dengan begitu, kesejahteraan masyarakat juga atau tumbuh positif dan berbanding lurus dengan daya beli.

“Dan yang paling saya garis bawahi adalah aplikasi circular economy atau ekonomi yang tidak ada ujungnya. Karena yang kita pelajari selama ini yang konvensional akan berujung pada sesuatu yaitu limbah,” ujar Menteri Bambang.

Direktur Utama PTPN V Jatmiko K Santosa menyampaikan bahwa PTPN V berusaha menerapkan konsep ‘Sawit Lestari’, termasuk dalam pengolahan limbah sawit baik cair maupun padat. Beliau mengungkapkan PLTBg Terantam merupakan proyek kedua di PTPN V. Sebelumnya telah dibangun PLTBg pertama yang berlokasi di PKS Tandun dengan daya, 1,2 megawatt. Rencana selanjutnya yaitu pembangunan PLTBg ketiga di Sei Pagar, Riau.

Turut Hadir dalam acara tersebut Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza, Bupati Kabupaten Kampar Catur Sugeng Susanto, Segenap jajaran direksi PTPN V, serta tamu undangan lainnya.


Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik

Kemenristek/BRIN