Modal Asing Kabur Rp 19 T dalam Sepekan, Rupiah Anjlok ke 14.613/US$

Bank Indonesia (BI) mencatat terdapat modal asing keluar dari pasar keuangan domestik sebesar Rp 19,14 triliun sepanjang pekan ini. Kaburnya dana asing tersebut diikuti pelemahan rupiah yang ditutup di level Rp 14.613 per dolar AS sore ini. Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono merincikan, non residen jual neto di pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 12,32 triliun serta aksi jual di pasar saham sebesar Rp 6,82 triliun. "Berdasarkan data setelmen sampai dengan 12 Mei 2022, non residen jual neto Rp 78,13 triliun di pasar SBN dan beli neto Rp 65,97 triliun di pasar saham," kata Erwin dalam keterangan tertulisnya, Jumat (13/5). Persepsi risiko investasi meningkat seiring risk off di pasar keuangan global. Hal ini tercermin dari premi credit default swap (CDS) Indonesia lima tahun naik  ke level 133,41 bps per 12 Mei 2022 dari 126,60 bps per 6 Mei 2022. Advertisement Tingkat imbal hasil (yield) SBN Indonesia benchmark tenor 10 tahun hari ini naik ke level 7,39%. Kenaikan juga pada yield US Treasury 10 tahun ke level 2,85%. Kaburnya dana asing tersebut juga diikuti pelemahan nilai tukar. Mengutip Bloomberg, kurs garuda ditutup di level Rp 14.613 per dolar AS, melemah 133 poin dari penutupan pekan lalu. Pelemahan rupiah ini di tengah menguatnya sentimen pengetatan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Fed dalam sepekan terakhir. "Dolar AS naik ke level tertinggi baru 20 tahun pada hari Jumat karena berlanjutnya kekhawatiran bahwa tindakan bank sentral untuk menurunkan inflasi yang tinggi akan menghambat pertumbuhan ekonomi global, sehingga meningkatkan daya tarik mata uang safe haven," kata Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam risetnya. Seperti diketahui, The Fed sudah mengumumkan kenaikan kedua untuk bunga acuannya pada pertemuan pekan lalu. Suku bunga The Fed dinaikkan 50 bps, lebih tinggi dari kenaikan pertama 25 bps. Dalam sebuah wawancara Kamis malam, Powell kembali menegaskan rencana kenaikan bunga 50 bps pada dua pertemuan mendatang. Ibrahim menyebut sentimen ini telah membuat investor condong ke aset aman dolar karena kekhawatiran terhadap kemampuan The Fed menaikkan bunga tanpa menimbulkan resesi pada perekonomian. Belum lagi, pasar masih mewaspadai dampak dari perang serta meningkatnya kasus dan pengetatan mobilitas di Cina. "Kekhawatiran tentang lingkungan stagflasi yang berkepanjangan dari pertumbuhan yang lambat dan harga yang tinggi juga telah mengurangi selera terhadap risiko," ujarnya.  Sementara itu, dari dalam negeri, terdapat sejumlah rilis data ekonomi pekan ini. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan perekonomian RI tumbuh 5,01% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal I. Di samping itu, data inflasi menunjukkan kenaikan 3,47% secara yoy di April. Adblock test (Why?)

Bank Indonesia (BI) mencatat terdapat modal asing keluar dari pasar keuangan domestik sebesar Rp 19,14 triliun sepanjang pekan ini. Kaburnya dana asing tersebut diikuti pelemahan rupiah yang ditutup di level Rp 14.613 per dolar AS sore ini. Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono merincikan, non residen jual neto di pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 12,32 triliun serta aksi jual di pasar saham sebesar Rp 6,82 triliun. "Berdasarkan data setelmen sampai dengan 12 Mei 2022, non residen jual neto Rp 78,13 triliun di pasar SBN dan beli neto Rp 65,97 triliun di pasar saham," kata Erwin dalam keterangan tertulisnya, Jumat (13/5). Persepsi risiko investasi meningkat seiring risk off di pasar keuangan global. Hal ini tercermin dari premi credit default swap (CDS) Indonesia lima tahun naik  ke level 133,41 bps per 12 Mei 2022 dari 126,60 bps per 6 Mei 2022. Advertisement Tingkat imbal hasil (yield) SBN Indonesia benchmark tenor 10 tahun hari ini naik ke level 7,39%. Kenaikan juga pada yield US Treasury 10 tahun ke level 2,85%. Kaburnya dana asing tersebut juga diikuti pelemahan nilai tukar. Mengutip Bloomberg, kurs garuda ditutup di level Rp 14.613 per dolar AS, melemah 133 poin dari penutupan pekan lalu. Pelemahan rupiah ini di tengah menguatnya sentimen pengetatan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Fed dalam sepekan terakhir. "Dolar AS naik ke level tertinggi baru 20 tahun pada hari Jumat karena berlanjutnya kekhawatiran bahwa tindakan bank sentral untuk menurunkan inflasi yang tinggi akan menghambat pertumbuhan ekonomi global, sehingga meningkatkan daya tarik mata uang safe haven," kata Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam risetnya. Seperti diketahui, The Fed sudah mengumumkan kenaikan kedua untuk bunga acuannya pada pertemuan pekan lalu. Suku bunga The Fed dinaikkan 50 bps, lebih tinggi dari kenaikan pertama 25 bps. Dalam sebuah wawancara Kamis malam, Powell kembali menegaskan rencana kenaikan bunga 50 bps pada dua pertemuan mendatang. Ibrahim menyebut sentimen ini telah membuat investor condong ke aset aman dolar karena kekhawatiran terhadap kemampuan The Fed menaikkan bunga tanpa menimbulkan resesi pada perekonomian. Belum lagi, pasar masih mewaspadai dampak dari perang serta meningkatnya kasus dan pengetatan mobilitas di Cina. "Kekhawatiran tentang lingkungan stagflasi yang berkepanjangan dari pertumbuhan yang lambat dan harga yang tinggi juga telah mengurangi selera terhadap risiko," ujarnya.  Sementara itu, dari dalam negeri, terdapat sejumlah rilis data ekonomi pekan ini. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan perekonomian RI tumbuh 5,01% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal I. Di samping itu, data inflasi menunjukkan kenaikan 3,47% secara yoy di April. Adblock test (Why?)