Momen Nataru, Bisa Tembus 408 Ribu Kasus Aktif Covid-19

JawaPos.com – Momentum libur Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2022 (Nataru) akan jadi indikator besar akan hadirnya gelombang baru Covid-19 di Tanah Air. Pasalnya, pada masa-masa tersebut akan ada peningkatan mobilitas dari masyarakat.“Ada beberapa faktor risiko potensi gelombang ketiga. Apakah kasus akan naik pada libur Nataru, yang paling berpengaruh adalah mobilitas, kepatuhan juga, lalu juga skenario (pengetatan) yang masuk zona merah,” jelas Ketua Bidang Data dan IT Satgas Penanganan Covid-19 Dewi Nur Aisyah dalam acara daring dikutip, Selasa (30/11).Pihaknya juga sudah membuat prediksi berdasarkan data yang ada, apabila herd immunity terbentuk, mobilitas terjaga dan tidak ada varian baru, maka kasus akan terus melandai. Lalu, jika herd immunity belum terbentuk, mobilitas tinggi dan kepatuhan protokol kesehatan cukup baik, hasilnya akan ada peningkatan jumlah kasus.Kemudian, skenario apabila herd immunity belum terbentuk, mobilitas tinggi dan kepatuhan protokol kesehatan rendah, ada potensi kenaikan sampai 260 ribu kasus. Lebih parahnya adalah herd immunity belum terbentuk, mobilitas tinggi, kepatuhan protokol kesehatan rendah, serta ada varian baru, diperkirakan kasus di Indonesia akan meningkat sebesar 408 ribu kasus.“Skenario lain dengan adanya peningkatan infektivitas virus, cakupan vaksinasi yang rendah, mobilitas yang tinggi dan kepatuhan prokes rendah, maka jumlah kasus aktif dapat meningkat mencapai 260 ribu sampai 408 ribu kasus,” ujarnya.Untuk itu, menurutnya yang harus dipercepat agar menghindari prediksi tersebut adalah percepatan vaksinasi, lalu juga mobilitas yang terkendali. Begitu juga untuk kepatuhan terhadap prokes di lapangan berjalan dengan baik.Adblock test (Why?)

Momen Nataru, Bisa Tembus 408 Ribu Kasus Aktif Covid-19
JawaPos.com – Momentum libur Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2022 (Nataru) akan jadi indikator besar akan hadirnya gelombang baru Covid-19 di Tanah Air. Pasalnya, pada masa-masa tersebut akan ada peningkatan mobilitas dari masyarakat.“Ada beberapa faktor risiko potensi gelombang ketiga. Apakah kasus akan naik pada libur Nataru, yang paling berpengaruh adalah mobilitas, kepatuhan juga, lalu juga skenario (pengetatan) yang masuk zona merah,” jelas Ketua Bidang Data dan IT Satgas Penanganan Covid-19 Dewi Nur Aisyah dalam acara daring dikutip, Selasa (30/11).Pihaknya juga sudah membuat prediksi berdasarkan data yang ada, apabila herd immunity terbentuk, mobilitas terjaga dan tidak ada varian baru, maka kasus akan terus melandai. Lalu, jika herd immunity belum terbentuk, mobilitas tinggi dan kepatuhan protokol kesehatan cukup baik, hasilnya akan ada peningkatan jumlah kasus.Kemudian, skenario apabila herd immunity belum terbentuk, mobilitas tinggi dan kepatuhan protokol kesehatan rendah, ada potensi kenaikan sampai 260 ribu kasus. Lebih parahnya adalah herd immunity belum terbentuk, mobilitas tinggi, kepatuhan protokol kesehatan rendah, serta ada varian baru, diperkirakan kasus di Indonesia akan meningkat sebesar 408 ribu kasus.“Skenario lain dengan adanya peningkatan infektivitas virus, cakupan vaksinasi yang rendah, mobilitas yang tinggi dan kepatuhan prokes rendah, maka jumlah kasus aktif dapat meningkat mencapai 260 ribu sampai 408 ribu kasus,” ujarnya.Untuk itu, menurutnya yang harus dipercepat agar menghindari prediksi tersebut adalah percepatan vaksinasi, lalu juga mobilitas yang terkendali. Begitu juga untuk kepatuhan terhadap prokes di lapangan berjalan dengan baik.Adblock test (Why?)