Nelayan Handline Tulehu Terima Bantuan AP2HI dan MSC | TERASMALUKU.COM

TERASMALUKU.COM,AMBON, – Komunitas nelayan handline di Dusun Air Panas Tulehu, Kab. Maluku Tengah, Maluku menerima bantuan dari Asosiasi Perikanan Pole & Line dan Handline Indonesia (AP2HI) bersama dengan Marine Stewardship Council (MSC) Indonesia melalui program Community Fisheries Stewardship (CFS). Bantuan berupa beasiswa 46 tabungan anak nelayan sembako dan peralatan kebersihan. Bantuan ini sebagai salah satu bentuk dukungan terhadap nelayan tuna skala kecil yang terdampak covid-19. MSC dan AP2HI Indonesia melaksanakan program Community Fisheries Stewardship yang berfokus pada bantuan tabungan pendidikan kepada anak-anak nelayan, bahan pokok dan alat kebersihan untuk warga setempat. Bertepatan dengan kegiatan tersebut, Pemerintah Daerah menyerahkan 33 lisensi kapal berupa Bukti Pencatatan Kapal Perikanan (BPKP) kepada nelayan sebagai bentuk legalitas kapal. “Masa pandemi Covid-19 sejak Maret 2020, telah berdampak besar pada semua bidang usaha, termasuk bidang perikanan. Dampak negatif tersebut terasa tidak saja pada industri, namun dirasakan juga pada unit terkecil dari perikanan, yaitu nelayan skala kecil,” Board of  Director asosiasi perikanan pole and Line dan Handline (AP2HI) saat pembagian bantuan kemarin (26/8/2020). Turunnya produktifitas nelayan selama masa ini berdampak langsung pada hasil tangkapan. Padahal itu menjadi mata pencarian utama mereka. Di lain sisi peralatan yang digunakan nelayan terbilang angat minim, sederhana dan ramah lingkungan. Untuk itulah program CFS diadakan bagi nelayan skala kecil perikanan tuna dan rajungan di wilayah Provinsi Maluku dan Jawa Timur yang terdampak ekonominya secara global. Loading... “Dusun Air Panas Tulehu adalah salah satu desa nelayan tuna yang menyuplai ikannya ke salah satu perusahaan anggota AP2HI di Maluku. Nelayan disana hanya menggunakan kapal kecil ukuran <5 GT dan alat tangkap ramah lingkungan, yaitu pancing ulur, alat tangkap yang hanya menangkap satu ikan tuna dengan satu mata pancing (one by one tuna),” lanjutnya. Mereka melihat pandemi Covid-19 menambah beban nelayan tuna untuk mencari mata pencarian lainnya (berdasarkan wawancara yang sudah dilaksanakan sebelumnya. Pada masa paceklik mata pencarian nelayan adalah berkebun yang hasilnya dijual ke pasar dan sebagai ojek) di masa paceklik seperti sekarang ini karena keterbatasan interaksi dengan orang lain. Lagi, oleh sebab pandemik ini, harga ikan jadi murah karena masyarakat enggan membeli ikan di pasar sebagai bentuk pembatasan interaksi. Pada awalnya, kapal nelayan yang rata-rata berukuran <5 GT di Dusun Air Panas Tulehu ini belum memiliki lisensi (BPKP). Namun sejak tahun 2018, yaitu sejak AP2HI mulai mengaktifkan Program Perbaikan Perikanan (Fisheries Improvement Program) di wilayah Maluku, nelayan mulai menyadari pentingnya legalitas kapal dan BPKP. Dengan difasilitasi oleh AP2HI dan penyuluh perikanan setempat, berkas pendaftaran kapal mulai dikumpulkan dan disampaikan ke DKP Provinsi Maluku. Dan, pada pertengahan tahun 2020 ini, 33 BPKP kapal sudah selesai. Proses panjang, namun menghasilkan buah yang manis untuk nelayan Dusun Air Panas Tulehu. Seluruh pihak yang tergabung dalam program ini meyakini bahwa bantuan yang diberikan bisa meringankan beban nelayan tuna di Dusun Air Panas Tulehu dalam mengatasi permasalahan dampak pandemik Covid-19 ini, serta bisa merasakan manfaat dari Program Perbaikan Perikanan yang dijalankan selama ini. Dan semoga kegiatan ini bisa diadopsi di daerah lain untuk membantu masyarakat pesisir di area lainnya. (PRISKA BIRAHY)

Nelayan Handline Tulehu Terima Bantuan AP2HI dan MSC | TERASMALUKU.COM

TERASMALUKU.COM,AMBON, – Komunitas nelayan handline di Dusun Air Panas Tulehu, Kab. Maluku Tengah, Maluku menerima bantuan dari Asosiasi Perikanan Pole & Line dan Handline Indonesia (AP2HI) bersama dengan Marine Stewardship Council (MSC) Indonesia melalui program Community Fisheries Stewardship (CFS). Bantuan berupa beasiswa 46 tabungan anak nelayan sembako dan peralatan kebersihan.

Bantuan ini sebagai salah satu bentuk dukungan terhadap nelayan tuna skala kecil yang terdampak covid-19. MSC dan AP2HI Indonesia melaksanakan program Community Fisheries Stewardship yang berfokus pada bantuan tabungan pendidikan kepada anak-anak nelayan, bahan pokok dan alat kebersihan untuk warga setempat.

Bertepatan dengan kegiatan tersebut, Pemerintah Daerah menyerahkan 33 lisensi kapal berupa Bukti Pencatatan Kapal Perikanan (BPKP) kepada nelayan sebagai bentuk legalitas kapal.

“Masa pandemi Covid-19 sejak Maret 2020, telah berdampak besar pada semua bidang usaha, termasuk bidang perikanan. Dampak negatif tersebut terasa tidak saja pada industri, namun dirasakan juga pada unit terkecil dari perikanan, yaitu nelayan skala kecil,” Board of  Director asosiasi perikanan pole and Line dan Handline (AP2HI) saat pembagian bantuan kemarin (26/8/2020).

Turunnya produktifitas nelayan selama masa ini berdampak langsung pada hasil tangkapan. Padahal itu menjadi mata pencarian utama mereka. Di lain sisi peralatan yang digunakan nelayan terbilang angat minim, sederhana dan ramah lingkungan. Untuk itulah program CFS diadakan bagi nelayan skala kecil perikanan tuna dan rajungan di wilayah Provinsi Maluku dan Jawa Timur yang terdampak ekonominya secara global.

Loading...

“Dusun Air Panas Tulehu adalah salah satu desa nelayan tuna yang menyuplai ikannya ke salah satu perusahaan anggota AP2HI di Maluku. Nelayan disana hanya menggunakan kapal kecil ukuran <5 GT dan alat tangkap ramah lingkungan, yaitu pancing ulur, alat tangkap yang hanya menangkap satu ikan tuna dengan satu mata pancing (one by one tuna),” lanjutnya.

Mereka melihat pandemi Covid-19 menambah beban nelayan tuna untuk mencari mata pencarian lainnya (berdasarkan wawancara yang sudah dilaksanakan sebelumnya. Pada masa paceklik mata pencarian nelayan adalah berkebun yang hasilnya dijual ke pasar dan sebagai ojek) di masa paceklik seperti sekarang ini karena keterbatasan interaksi dengan orang lain. Lagi, oleh sebab pandemik ini, harga ikan jadi murah karena masyarakat enggan membeli ikan di pasar sebagai bentuk pembatasan interaksi.

Pada awalnya, kapal nelayan yang rata-rata berukuran <5 GT di Dusun Air Panas Tulehu ini belum memiliki lisensi (BPKP). Namun sejak tahun 2018, yaitu sejak AP2HI mulai mengaktifkan Program Perbaikan Perikanan (Fisheries Improvement Program) di wilayah Maluku, nelayan mulai menyadari pentingnya legalitas kapal dan BPKP.

Dengan difasilitasi oleh AP2HI dan penyuluh perikanan setempat, berkas pendaftaran kapal mulai dikumpulkan dan disampaikan ke DKP Provinsi Maluku. Dan, pada pertengahan tahun 2020 ini, 33 BPKP kapal sudah selesai. Proses panjang, namun menghasilkan buah yang manis untuk nelayan Dusun Air Panas Tulehu.

Seluruh pihak yang tergabung dalam program ini meyakini bahwa bantuan yang diberikan bisa meringankan beban nelayan tuna di Dusun Air Panas Tulehu dalam mengatasi permasalahan dampak pandemik Covid-19 ini, serta bisa merasakan manfaat dari Program Perbaikan Perikanan yang dijalankan selama ini. Dan semoga kegiatan ini bisa diadopsi di daerah lain untuk membantu masyarakat pesisir di area lainnya. (PRISKA BIRAHY)