Nilai Positif Dalam Penerapan Full Day School

Nilai Positif Dalam Penerapan Full Day School
From: Media Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Nilai Positif Dalam Penerapan Full Day School

Oleh

Tiara Tiani Putri

Fakultas Psikologi, Universitas Pembangunan Jaya

 

            Begitu banyak pihak yang menolak adanya penerapan full day school di SD, SMP, SMAK/SMK maupun swast karena berbagai alasan seperti akan berkurangnya waktu anak untuk menghabiskan waktu dengan keluarga, anak-anak dapat bosan dengan lingkungan sekolah, program full day school akan membuat anak stres karena belajar dari pagi sampai sore hari, dan masih banyak lagi pendapat negatif masyarakat tentang program full day school ini. Berdasarkan pendapat di atas masyarakat hanya melihat sisi negatifnya saja, tetapi seharusnya masyarakat melihat dari sisi positifnya juga. Jadi, sebenarnya penerapan program full day school ini memiliki sisi positif bagi anak seperti untuk membangun karakteristik anak dalam menanamkan nilai-nilai positif dan supaya waktu anak lebih bermanfaat dan terarah.

 

            Pada zaman sekarang, membentuk dan memperbaiki karakter seseorang bukanlah hal yang mudah, perlu peran penting dari berbagai pihak. Mendapatkan pendidikan karakter yang pertama didapat dalam keluarga dan selanjutnya didapat dari lingkungan sekolah. Dalam penerapakan full day school anak dapat membangun karakterisitik dalam menanamkan nilai-nilai positif untuk kehidupan sehari-hari, dengan upaya pembinaan untuk membentuk akidah dan akhlak anak selama di sekolah. Dengan penerapan full day school ini anak memang akan di sekolah seharian, tetapi tidak dituntut untuk belajar ilmu pengetahuan seharian penuh melainkan dengan program-program sekolah yang bermanfaat seperti ekstrakulikuler atau organisasi-organisasi yang diadakan di sekolah. Alih-alih mengurangi porsi belajar ilmu pengetahuan, atau mengusahakan agar orang tua dapat berperan aktif membantu meningkatkan pendidikan karakter anak, Muhadjir Effendy melontarkan gagasan yang akhirnya menyerahkan seluruh tanggung jawab akan pendidikan karakter kepada sekolah. Sekolah yang baik adalah yang siswanya mampu terdidik secara pengetahuan dan karakternya sehingga diperlukan waktu di sekolah yang lebih lama dengan melakukan hal-hal yang positif.

 

            Konsep full day school ini anak akan di sekolah dari pagi hingga sore hari, waktu sepanjang itu akan diisi dengan berbagai kegiatan yang positif sehingga waktu anak lebih bermanfaat dan terarah. Di satu sisi penerapan full day school ini juga dapat menguntungkan orang tua yang bekerja (parents-career) maupun single parent. Ketika si anak sudah pulang sekolah dan orang tuanya masih bekerja cenderung kurang pengawasan, bisa saja si anak tidak langsung pulang ke rumah, tetapi pergi ke tempat tongkrongan dan kemudian si anak diajarkan merokok, meminum alkohol, atau obat-obatan terlarang. Karena orang tua yang bekerja pasti akan kurang pengawasannya pada anak. Oleh karena itu, adanya full day school orang tua yang sedang bekerja tidak perlu repot-repot memikirkan anak mereka dan mengawasi setiap waktu. Seperti yang dikatakan Muhadjir Effendy melalui CNN Indonesia "Dengan sistem full day school ini secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi 'liar' di luar sekolah ketika orang tua mereka masih belum pulang dari kerja," kata beliau di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Minggu (7/8). Oleh karena itu, dengan anak menambah waktu anak di sekolah lebih lama dengan kegiatan yang beragam di sekolah akan membuat anak tidak ada waktu luang untuk melakukan hal-hal negatif dan tidak menguntungkan.

 

            Adanya rencana penerapan full day school di sekolah-sekolah menuai banyak sekali pro dan kontra masyarakat termasuk orang tua, banyak sekali hal-hal negatif tentang full day school seperti membuat anak stres dengan terus-terusan belajar di sekolah. Seperti yang dilansir dari Cosmogirl Indonesia, ada salah satu siswi yang berkomentar tentang program full day school ini yang bernama Shaima Hamzah “Gue nggak setuju dengan adanya peraturan pemerintah yang seperti ini. Karena full day school bisa meningkatkan stres kepada anak, kalau anak itu sudah stres maka tingkat kreatifitasnya dalam beraktifitas akan menurun. Ketika tingkat kreatifitas anak itu menurun, bangsa, Negara, bumi pertiwi ini nggak akan lagi punya kreatifitas yang bisa dibanggakan.” Menurut saya, program full day school ini memang betul anak akan seharian di sekolah untuk belajar dari pagi hingga sore hari, tetapi tidak semua waktu tersebut akan dipakai untuk belajar saja melainkan full day school akan mendidik anak dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat seperti meningkatkan agar anak-anak dapat mengembangkan diri melalui ekstrakulikuler. Dengan ekstrakulikuler tersebut anak dapat meningkatkan kreatifitasnya melalui bakat anak itu sendiri, seperti anak yang suka menggambar maka ia dapat mengembangkan bakatnya tersebut masuk ke ekstrakulikuler mading. Jadi, dalam full day school ini tidak hanya belajar melainkan anak dapat bermain, bergaul dengan teman sebaya, mengembangkan kreatifitasnya, dll.

            Jadi, begitu banyak masyarakat yang melihat sisi negatif nya saja dari program full day school. Seharusnya masyarakat dapat melihat sisi positifnya, seperti dapat membentuk karakter anak dengan melalui upaya pembinaan akidah, akhlak, dan menanamkan nilai-nilai positif. Dan waktu anak akan lebih bermanfaat dan terarah dengan melakukan kegiatan-kegiatan positif di sekolah, dengan begitu anak tidak akan menjadi “liar” diluar sekolah tanpa pengawasan orang tua. Begitu banyak manfaat yang dapat diperoleh dari program full day school, jadi program full day school ini tidak seburuk yang dibayangkan.

 

Daftar Rujukan

Arioka, N. W. W. (2018). Pro dan Kontra Wacana Full Day School. Jurnal Studi Kultural, (3) 1. 1-5. Diakses melalui https://www.neliti.com/id/publications/223827/pro-kontra-wacana-full-day-school

Christy, A. (2016). Simak Pendapat Para Siswa Mengenai Wacana Full Day School!. Diakses melalui http://www.cosmogirl.co.id/artikel/read/8799/Simak-Pendapat-Para-Siswa-Mengenai-Wacana-Full-Day-School

Rosmiyati, D. K. (2016). Pengamat Setuju Gagasan 'Full Day School' dengan Catatan. Diakses melalui https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160808150440-20-149926/pengamat-setuju-gagasan-full-day-school-dengan-catatan