Peduli di tengah Pandemi

Pemirsa Mimbar Kristen di seluruh Indonesia. Refleksi minggu ini membahas Firman Tuhan sebagaimana terdapat dalam Markus 8:1-10 Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh." Murid-murid-Nya menjawab: "Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?" Yesus bertanya kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?" Jawab mereka: "Tujuh." Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan. Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul. Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang. Ia segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta. Demikian sabda Tuhan. Saudara-saudara yang diberkati oleh Tuhan Yesus Kristus. Di tengah-tengah situasi dan kondisi yang terjadi belakangan ini, di mana seluruh dunia dilanda pandemi Covid-19, semua lapisan masyarakat, semua kita merasakan akibat pandemi ini. Lalu apa reaksi gereja? Apa peran gereja dalam situasi yang terjadi sekarang ini? Kelaparan terjadi di mana-mana, PHK juga sudah terjadi. Saudara-saudara yang diberkati oleh Tuhan Yesus Kristus. Firman Tuhan yang kita baca dan renungkan pada saat ini mengajak kita untuk melihat kembali bagaimana Tuhan Yesus memiliki belas kasih kepada orang banyak, bagaimana Tuhan Yesus merasakan apa yang orang banyak ini rasakan. Mereka sungguh sangat haus, mereka sangat merasakan kekeringan rohani. Ketika Tuhan Yesus hadir di tengah-tengah mereka, mereka mengikuti Tuhan Yesus. Dikatakan, mereka sudah tiga hari bersama-sama dengan Tuhan Yesus lalu tanggung jawab siapakah misalnya mereka merasakan kehausan, kelaparan? Para murid seolah-olah melemparkan tanggungjawab itu, ya terserah mereka, kalau mereka masih ikut dengan perut lapar, silahkan mereka berjalan bersama dengan Guru. Saudara-saudara yang dikasihi dan diberkati oleh Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus tidak seperti itu. Ia sangat-sangat peduli kepada orang banyak ini. Sampai akhirnya Ia berkata kepada para murid: berapa roti yang ada padamu? Itu mengisyaraktkan bahwa para  murid harus peduli dengan keberadaan orang banyak ini, situasi dan kondisi harus mereka atasi. Saudara-saudara yang diberkati oleh Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus ketika melakukan banyak mujizat itu bukan karena Ia mengejar popularitas tetapi oleh karena tergerak belas kasihan saja. Jadi di sini mengajarkan kepada kita berbelas kasih satu dengan yang lain, saling memperhatikan, saling peduli satu dengan yang lain. Keadaan kita sekarang itu sangat-sangat memprihatinkan. Banyak orang membutuhkan makanan. Banyak orang kehilangan pekerjaan. Banyak orang tidak bisa menyekolahkan anak. Lalu di mana peran gereja? Peran gereja sangat jelas saudara-saudara, gereja harus peduli terhadap situasi. Gereja tidak bisa mengurung dirinya. Gereja harus berdampak seperti identitasnya. Tuhan Yesus sudah katakan, engkau adalah garam dan terang dunia, tidak bisa ditawar-tawar lagi. Identitas kita sudah jelas, bahwa kita harus berdampak dalam kehidupan kita ini. Saudara-saudara yang diberkati dan dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus. Semangat gotong royong itu harus kita munculkan, solidaritas sesama anak bangsa harus muncul dari dalam lubuk hati kita masing-masing. Bagaimana kita berbagi satu dengan yang lain, sudah ada makanan sudah cukup buat kita. Barangkali apabila kita melihat, memperhatikan kondisi kita masing-masing kalau masih ada yang bisa dibagi, mari kita berbagi satu dengan yang lain, jangan hidup untuk diri sendiri. Demikian juga atas hal-hal yang lain, yang kita bisa share satu dengan yang lain.  Saudara-saudara, kita harus berani seperti para murid ketika ditanya oleh Tuhan Yesus: berapa yang ada padamu? Tujuh di tangan para murid, itu mungkin tidak berarti apa-apa, tetapi tujuh roti di tangan Tuhan Yesus Kristus itu sungguh sangat bermakna. Tuhan Yesus bisa mengadakan mujizat, bisa menciptakan dari yang tidak ada  menjadi ada. Tuhan Yesus Memberkati Pdt. l Nyoman Agustinus, M.Th (Bishop  GKPB atau Gereja Kristen Protestan Bali)

Peduli di tengah Pandemi

Pemirsa Mimbar Kristen di seluruh Indonesia. Refleksi minggu ini membahas Firman Tuhan sebagaimana terdapat dalam Markus 8:1-10

Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh."

Murid-murid-Nya menjawab: "Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?" Yesus bertanya kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?" Jawab mereka: "Tujuh." Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak.

Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan. Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul. Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang. Ia segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta.

Demikian sabda Tuhan.

Saudara-saudara yang diberkati oleh Tuhan Yesus Kristus. Di tengah-tengah situasi dan kondisi yang terjadi belakangan ini, di mana seluruh dunia dilanda pandemi Covid-19, semua lapisan masyarakat, semua kita merasakan akibat pandemi ini. Lalu apa reaksi gereja? Apa peran gereja dalam situasi yang terjadi sekarang ini? Kelaparan terjadi di mana-mana, PHK juga sudah terjadi.

Saudara-saudara yang diberkati oleh Tuhan Yesus Kristus. Firman Tuhan yang kita baca dan renungkan pada saat ini mengajak kita untuk melihat kembali bagaimana Tuhan Yesus memiliki belas kasih kepada orang banyak, bagaimana Tuhan Yesus merasakan apa yang orang banyak ini rasakan.

Mereka sungguh sangat haus, mereka sangat merasakan kekeringan rohani. Ketika Tuhan Yesus hadir di tengah-tengah mereka, mereka mengikuti Tuhan Yesus.

Dikatakan, mereka sudah tiga hari bersama-sama dengan Tuhan Yesus lalu tanggung jawab siapakah misalnya mereka merasakan kehausan, kelaparan? Para murid seolah-olah melemparkan tanggungjawab itu, ya terserah mereka, kalau mereka masih ikut dengan perut lapar, silahkan mereka berjalan bersama dengan Guru.

Saudara-saudara yang dikasihi dan diberkati oleh Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus tidak seperti itu. Ia sangat-sangat peduli kepada orang banyak ini. Sampai akhirnya Ia berkata kepada para murid: berapa roti yang ada padamu? Itu mengisyaraktkan bahwa para  murid harus peduli dengan keberadaan orang banyak ini, situasi dan kondisi harus mereka atasi.

Saudara-saudara yang diberkati oleh Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus ketika melakukan banyak mujizat itu bukan karena Ia mengejar popularitas tetapi oleh karena tergerak belas kasihan saja. Jadi di sini mengajarkan kepada kita berbelas kasih satu dengan yang lain, saling memperhatikan, saling peduli satu dengan yang lain.

Keadaan kita sekarang itu sangat-sangat memprihatinkan. Banyak orang membutuhkan makanan. Banyak orang kehilangan pekerjaan. Banyak orang tidak bisa menyekolahkan anak.

Lalu di mana peran gereja? Peran gereja sangat jelas saudara-saudara, gereja harus peduli terhadap situasi. Gereja tidak bisa mengurung dirinya. Gereja harus berdampak seperti identitasnya. Tuhan Yesus sudah katakan, engkau adalah garam dan terang dunia, tidak bisa ditawar-tawar lagi. Identitas kita sudah jelas, bahwa kita harus berdampak dalam kehidupan kita ini.

Saudara-saudara yang diberkati dan dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus. Semangat gotong royong itu harus kita munculkan, solidaritas sesama anak bangsa harus muncul dari dalam lubuk hati kita masing-masing. Bagaimana kita berbagi satu dengan yang lain, sudah ada makanan sudah cukup buat kita. Barangkali apabila kita melihat, memperhatikan kondisi kita masing-masing kalau masih ada yang bisa dibagi, mari kita berbagi satu dengan yang lain, jangan hidup untuk diri sendiri. Demikian juga atas hal-hal yang lain, yang kita bisa share satu dengan yang lain. 

Saudara-saudara, kita harus berani seperti para murid ketika ditanya oleh Tuhan Yesus: berapa yang ada padamu? Tujuh di tangan para murid, itu mungkin tidak berarti apa-apa, tetapi tujuh roti di tangan Tuhan Yesus Kristus itu sungguh sangat bermakna. Tuhan Yesus bisa mengadakan mujizat, bisa menciptakan dari yang tidak ada  menjadi ada.

Tuhan Yesus Memberkati

Pdt. l Nyoman Agustinus, M.Th (Bishop  GKPB atau Gereja Kristen Protestan Bali)