Pemberdayaan Perempuan Uganda Lewat Tinju

Suatu malam, Hellen Baleke sedang berjalan di daerah kumuh Katanga, lingkungan Kampala-nya, ketika seorang pria muda mendekatinya dan mulai menyentuhnya. “Saya tidak suka anak laki-laki menyentuhku. Saya tahu jika dia melakukannya, hasil akhirnya adalah kehamilan dan HIV. Jadi ketika dia meraba-raba saya, saya ingin melawannya. Tetapi dia memukuli saya," kata Hellen Baleke, peraih medali perunggu tinju wanita Middleweight Afrika. Baleke pulang ke rumahnya dengan hidung berdarah. Dia tidak memberi tahu kejadian itu kepada ibunya atau bagaimana ia menyiasatinya. Baleke mulai menyelinap keluar rumah pagi-pagi untuk berlatih menjadi petinju. “Saya menunggunya dan ketika dia kembali, dia berkata, 'Mama, saya mengalahkan seorang gadis.' Dan saya bertanya, 'Apa?! Kamu membuat seorang gadis pingsan?! ”Saya berkata kepadanya,“Kamu akan dipukuli, tetapi jangan pulang sambil menangis. Mereka akan mengalahkanmu, itu akan terjadi padamu. 'Saya sama sekali tidak senang," kata Sarah Bagoole, ibu Baleke. Tetapi ibu Baleke menyemangati kegiatan tinju putrinya, sementara ia terus berlatih, bertanding, dan menang. Dalam pertandingan tinju Afrika di Rabat, Maroko bulan Agustus, ia memenangkan medali perunggu, menjadi petinju wanita pemenang medali pertama di Uganda dalam 18 tahun. Baleke juga melatih perempuan lain bertinju, seperti penata rambut Moureen Ajambo untuk membela diri dengan dan membantu perempuan muda agar tidak berkeliaran di jalanan. Para perempuan Uganda berpose di desa Wilpii, sub-county Paicho, distrik Gulu di Uganda Utara, 26 Maret 2018. (Foto: Thomson Reuters Foundation/Shanshan Chen) “Saya melihat begitu banyak gadis, mereka masih muda minum minuman keras, mereka hamil, beberapa terkena virus HIV yang menyebabkan AIDS. Mereka merawat anak atau diri mereka sendiri, menggunakan narkoba, mereka menjual semua hartanya untuk membeli narkoba. Itu menyakitkan saya," kata Moureen Ajambo, seorang penata rambut. Perkampungan kumuh di Kampala adalah rumah bagi 20 ribu warga miskin kota yang hidup dalam kondisi padat di mana perempuan sering menjadi korban kejahatan. Pelatih tinju di Rhino Boxing Club, Innocent Kapalata mengatakan semakin banyak perempuan muda bergabung dengan klub. “Kebanyakan dari mereka yang datang untuk melatih melakukannya untuk balas dendam. Tetapi saya berusaha keras untuk menyadarkannya, dengan mengatakan, kami tidak melatih petinju untuk membalas dendam tetapi untuk tetap bugar dan sehat. Hal lain yang saya katakan, tinju adalah bisnis. Anda bisa beruntung dan menghasilkan uang," kata Innocent Kapalata. Untuk membantu para perempuan mendapat uang paling cepat sehingga mereka bisa tetap bertinju, Baleke mendirikan sebuah lokakarya menjahit. Baik mengajarkan cara menusukkan jarum ke kain atau meninju lawan di atas ring, Baleke memberdayakan perempuan muda di daerah kumuh Katanga, Uganda. [ps/ii]

Pemberdayaan Perempuan Uganda Lewat Tinju

Suatu malam, Hellen Baleke sedang berjalan di daerah kumuh Katanga, lingkungan Kampala-nya, ketika seorang pria muda mendekatinya dan mulai menyentuhnya.

“Saya tidak suka anak laki-laki menyentuhku. Saya tahu jika dia melakukannya, hasil akhirnya adalah kehamilan dan HIV. Jadi ketika dia meraba-raba saya, saya ingin melawannya. Tetapi dia memukuli saya," kata Hellen Baleke, peraih medali perunggu tinju wanita Middleweight Afrika.

Baleke pulang ke rumahnya dengan hidung berdarah. Dia tidak memberi tahu kejadian itu kepada ibunya atau bagaimana ia menyiasatinya. Baleke mulai menyelinap keluar rumah pagi-pagi untuk berlatih menjadi petinju.

“Saya menunggunya dan ketika dia kembali, dia berkata, 'Mama, saya mengalahkan seorang gadis.' Dan saya bertanya, 'Apa?! Kamu membuat seorang gadis pingsan?! ”Saya berkata kepadanya,“Kamu akan dipukuli, tetapi jangan pulang sambil menangis. Mereka akan mengalahkanmu, itu akan terjadi padamu. 'Saya sama sekali tidak senang," kata Sarah Bagoole, ibu Baleke.

Tetapi ibu Baleke menyemangati kegiatan tinju putrinya, sementara ia terus berlatih, bertanding, dan menang. Dalam pertandingan tinju Afrika di Rabat, Maroko bulan Agustus, ia memenangkan medali perunggu, menjadi petinju wanita pemenang medali pertama di Uganda dalam 18 tahun.

Baleke juga melatih perempuan lain bertinju, seperti penata rambut Moureen Ajambo untuk membela diri dengan dan membantu perempuan muda agar tidak berkeliaran di jalanan.

Para perempuan Uganda berpose di desa Wilpii, sub-county Paicho, distrik Gulu di Uganda Utara, 26 Maret 2018. (Foto: Thomson Reuters Foundation/Shanshan Chen)
Para perempuan Uganda berpose di desa Wilpii, sub-county Paicho, distrik Gulu di Uganda Utara, 26 Maret 2018. (Foto: Thomson Reuters Foundation/Shanshan Chen)

“Saya melihat begitu banyak gadis, mereka masih muda minum minuman keras, mereka hamil, beberapa terkena virus HIV yang menyebabkan AIDS. Mereka merawat anak atau diri mereka sendiri, menggunakan narkoba, mereka menjual semua hartanya untuk membeli narkoba. Itu menyakitkan saya," kata Moureen Ajambo, seorang penata rambut.

Perkampungan kumuh di Kampala adalah rumah bagi 20 ribu warga miskin kota yang hidup dalam kondisi padat di mana perempuan sering menjadi korban kejahatan.

Pelatih tinju di Rhino Boxing Club, Innocent Kapalata mengatakan semakin banyak perempuan muda bergabung dengan klub.

“Kebanyakan dari mereka yang datang untuk melatih melakukannya untuk balas dendam. Tetapi saya berusaha keras untuk menyadarkannya, dengan mengatakan, kami tidak melatih petinju untuk membalas dendam tetapi untuk tetap bugar dan sehat. Hal lain yang saya katakan, tinju adalah bisnis. Anda bisa beruntung dan menghasilkan uang," kata Innocent Kapalata.

Untuk membantu para perempuan mendapat uang paling cepat sehingga mereka bisa tetap bertinju, Baleke mendirikan sebuah lokakarya menjahit.

Baik mengajarkan cara menusukkan jarum ke kain atau meninju lawan di atas ring, Baleke memberdayakan perempuan muda di daerah kumuh Katanga, Uganda. [ps/ii]