Penerapan Teori Juhani Pallasmaa

Penerapan Teori Juhani Pallasmaa
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Robert Venturi yang membuat sebuah bangunan dengan cara memasangkan suatu ornamen dan orang yang melihat akan langsung tau bahwa bangunan itu memiliki fungsi yang sama pada bentuknya, ini merupakan suatu kebohongan semata yang dimana bahwa bangunan aslinya merupakan hanya bentuk yang tidak lebih dari kotak maupun persegi panjang tetapi oleh Venturi di berikan suatu tempelan kepada bangunan tersebut dan memberikan kesan bangunan ini sangat indah tetapi bukan karna keaslian atau keindahan dari bangunan itu sendiri melainkan hanya sekedar aksesoris yang menutupi keindahan asli bangunan itu sendiri. (Zilliacus, 2016)

beberapa aksesoris ini merupakan sebuah bangunan yang tidak lebih dari persegi, agar menarik perhatian masa maka ditambahkan dengan beberapa tempelan agar pada saat mobil melaju dengan keadaan yang cepat dapat melihat sign yang tertera sangat besar dan jelas tersebut. Tapi dibalik sign tersebut dia telah menghilangkan keindahan dari bangunan itu sendiri, dia menutupinya dengan sebuah sign yang dimana membuat bangunan itu indah dengan suatu kebohongan.

Suatu kebohongan dalam mendesain sangat tidaklah saya sukai karna merusak keindahan dari apa yang sudah dibuat atau dirancang oleh seorang arsitek. Juhani Pallasma merupakan seorang arsitek yang mengambil aliran fenomologi, pada saat meracang Pallasma tidak pernah membohongi penikmat atau penggunanya dengan sign yang menutupi keindahan bangunan itu sendiri melaikan dia membuat suatu bangunan yang memainkan indra manusia, dengan contoh indra penglihatan yang dimana jika dia menggunakan batu bata maka tidak di tutupi dengan cat atau semen agar terjadinya suatu keingin tahuan dengan menyentuh batu bata tersebut. (Builder, 2015)

Pada buku yang dia karang, dia menuliskan tetang ke khawatirannya bagaimana suatu desain dapat menyentuh kita dengan secara fisik ataupun secara khayalan, yang dimana berhubungan tentang indra kita, dia juga beranggapan bahwa jika satu indra peraba bekerja maka yang lainnya akan bekerja dengan sendirinya, misalkan dengan melihat suatu tembok dengan bata asli dengan melihatnya saja indra peraba kita seakan – akan sedang merasakan permukaan dari bata tersebut. (Builder, 2015)

Setiap Pallasma merancang dia akan selalu bertujuan untuk mengimplementasikan goalsnya tersebut yaitu dengan melakukan pendekatan antara manusia dan bangunan, Architecture is the art of reconciliation between ourselves and the world, and this mediation takes place through the senses” (Pallasma, 2012). Suatu perasaan yang tercipta dari melihat atau mengalami suatu fenomena sangat ditunjukan dalam rancangan yang dibuat agar terpancingnya indra manusia dalam mengalam fenomena tersebut, dan juga menjadikannya suatu ingatan yang kuat. (Builder, 2015).

Manifesto yang menginspirasi saya dalam merancangan adalah manifesto dari Juhani Pallasma yaitu dengan mengalami suatu fenomena tertentu makan indra kita akan merasakan apa yang terjadi disekitar kita dan memberikan suatu perasaan ruang tertentu saat berada di dalamnya. (Builder, 2015). Manifesto ini berhubungan dengan teori dari tektonik yang dimana pada tektonik ini menggunakan material asli pada bangunan itu sendiri . Manifesto dari Pallasma memberikan makna bahwa suatu keindahan datang dari diri sendiri, jika kita menambahkan aksesoris kepada diri kita memang akan terlihat indah tetapi kita melupakan bahwa kita indah dari dalam, dan kita juga harus menunjukan inner beauty yang bangunan itu miliki dalam bidang arsitektur.