Pengiriman Sukhoi ke RI Mandek, Dubes Rusia Tetap Optimistis

Jakarta: Pengiriman pesawat jet tempur Sukhoi buatan Rusia ke Indonesia masih belum juga terwujud. Padahal, kedua negara sudah sama-sama menyepakati perjanjian pembelian 11 unit Sukhoi pada Februari 2018. Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva mengaku tetap optimistis terkait perjanjian Sukhoi. Kendati begitu, ia juga menyadari bahwa isu Sukhoi ini berimbas pada hubungan bisnis antara Indonesia dan Rusia. "Pertama, saya masih optimistis perjanjian ini akan terwujud, karena menyangkut kepentingan kedua negara," ujar Dubes Lyudmila dalam konferensi virtual dari Kedutaan Besar Rusia di Jakarta, Rabu 26 Agustus 2020. Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini? Happy Inspire Confuse Sad "Tapi andaikata perjanjian ini tidak selesai, atau ditunda, atau terganggu oleh satu dan lain hal, saya rasa tidak akan berpengaruh banyak pada kerja sama bisnis kedua negara," sambungnya. Menurut Dubes Lyudmila, kerja sama antar Indonesia dan Rusia di berbagai bidang akan berlanjut seperti biasa. Ini dikarenakan mandeknya pengiriman Sukhoi diakibatkan masalah teknis, bukan akibat isu serius yang dapat memperburuk hubungan kedua negara. "Intinya saya masih optimistis," tutur Dubes Lyudmila. Sebelumnya, Wakil Duta Besar Rusia untuk Indonesia Oleg V. Kopylov mengatakan, perjanjian pembelian Sukhoi Su-35 oleh Indonesia tercantum dalam rangkaian dokumen kontrak yang cukup rumit. "Dalam kontrak itu ada banyak bab dan sub-kontrak. Ada soal imbal dagang, perjanjian transfer teknologi dan lain-lain. Ini adalah dokumen besar yang terdiri dari banyak hal," ujar Kopylov di kediaman misi diplomatik Rusia di Jakarta. "Tapi kami tegaskan bahwa sejak kontrak tersebut ditandatangani, kami terus berusaha menyelesaikan segala prosesnya," sambung dia. Mengenai imbal dagang, Rusia dan Indonesia mengakui hal tersebut merupakan salah satu kendala teknis penghambat pengiriman Sukhoi. Dalam kontrak pembelian ini, Indonesia membayar 50 persen dari total harga 11 unit Sukhoi dengan produk-produk dalam negeri. (WIL)

Pengiriman Sukhoi ke RI Mandek, Dubes Rusia Tetap Optimistis
Jakarta: Pengiriman pesawat jet tempur Sukhoi buatan Rusia ke Indonesia masih belum juga terwujud. Padahal, kedua negara sudah sama-sama menyepakati perjanjian pembelian 11 unit Sukhoi pada Februari 2018.
 
Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva mengaku tetap optimistis terkait perjanjian Sukhoi. Kendati begitu, ia juga menyadari bahwa isu Sukhoi ini berimbas pada hubungan bisnis antara Indonesia dan Rusia.
 
"Pertama, saya masih optimistis perjanjian ini akan terwujud, karena menyangkut kepentingan kedua negara," ujar Dubes Lyudmila dalam konferensi virtual dari Kedutaan Besar Rusia di Jakarta, Rabu 26 Agustus 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tapi andaikata perjanjian ini tidak selesai, atau ditunda, atau terganggu oleh satu dan lain hal, saya rasa tidak akan berpengaruh banyak pada kerja sama bisnis kedua negara," sambungnya.
 
Menurut Dubes Lyudmila, kerja sama antar Indonesia dan Rusia di berbagai bidang akan berlanjut seperti biasa. Ini dikarenakan mandeknya pengiriman Sukhoi diakibatkan masalah teknis, bukan akibat isu serius yang dapat memperburuk hubungan kedua negara.
 
"Intinya saya masih optimistis," tutur Dubes Lyudmila.
 
Sebelumnya, Wakil Duta Besar Rusia untuk Indonesia Oleg V. Kopylov mengatakan, perjanjian pembelian Sukhoi Su-35 oleh Indonesia tercantum dalam rangkaian dokumen kontrak yang cukup rumit.
 
"Dalam kontrak itu ada banyak bab dan sub-kontrak. Ada soal imbal dagang, perjanjian transfer teknologi dan lain-lain. Ini adalah dokumen besar yang terdiri dari banyak hal," ujar Kopylov di kediaman misi diplomatik Rusia di Jakarta.
 
"Tapi kami tegaskan bahwa sejak kontrak tersebut ditandatangani, kami terus berusaha menyelesaikan segala prosesnya," sambung dia.
 
Mengenai imbal dagang, Rusia dan Indonesia mengakui hal tersebut merupakan salah satu kendala teknis penghambat pengiriman Sukhoi. Dalam kontrak pembelian ini, Indonesia membayar 50 persen dari total harga 11 unit Sukhoi dengan produk-produk dalam negeri.
 
(WIL)