Penjualan Produk Lewat Medsos Tembus Rp344 Triliun di AS

Jakarta, CNN Indonesia -- Penjualan produk melalui media sosial atau social commerce, seperti Facebook, Instagram, Line, dan WhatApp, menembus US$23,3 miliar setara Rp344,6 triliun (kurs Rp14.793 per dolar AS).Angka itu naik 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan terjadi di tengah pandemi virus corona (covid-19) ditopang oleh banyaknya pelaku usaha yang mulai merambah fitur penjualan lewat media sosial. Namun demikian, angka itu lebih rendah dari proyeksi eMarketeer yang sebelumnya menyebutkan angka penjualan produk social commerce sekitar US$21,3 miliar. Di sisi lain,  eMarketeer mengungkap penjualan social commerce akan terus tumbuh ketika jejaring sosial memperkenalkan fitur-fitur baru dan pembelian sosial mencapai massa kritis. Terutama, Facebook meluncurkan fitur Shops selama pandemi, sebuah fitur yang memungkinkan bisnis di Facebook dan Instagram untuk menambahkan tab belanja ke halaman mereka. Pinterest, Snapchat dan TikTok juga telah merilis produk iklan baru dan fitur belanja dalam satu tahun terakhir yang semakin mengintegrasikan e-commerce ke dalam platform ini. Dilansir dari Business Insider, pertumbuhan penjualan social commerce juga akan dibantu oleh bisnis kecil yang belum bergantung pada e-commerce sebelum pandemi. Alih-alih menggunakan platform e-commerce, saat ini bisnis kecil sedang berusaha untuk menjual produk lewat social commerce demi meningkatkan penjualan. Social commerce lebih mudah digunakan sebab menjual produk melalui media sosial yang telah lama digunakan daripada platform e-commerce. Di sisi lain, survei baru oleh Parcel Perform dan iPrice Group pada 2019 lalu menunjukkan pengiriman menjadi tantangan terbesar dalam penjualan digital.  Tantangan tersebut hadir di tengah pertumbuhan e-commerce Indonesia adalah yang paling kuat di Asia Tenggara, yaitu sebesar 10,3 persen selama lima tahun terakhir Sebanyak 36 persen konsumen menyatakan ketidakpuasan dalam pengalaman pengiriman e-commerce mereka. Survei dilakukan dengan melibatkan lebih dari 80 ribu  konsumen di Malaysia, Singapura, Indonesia, Vietnam, dan Thailand. Lebih dari 90 persen pelanggan mengajukan keluhan dan tanggapan negatif terkait keterlambatan pengiriman dan kurangnya komunikasi tentang status pengiriman. Salah satu contoh platform social commerce yang bisa digunakan di Indonesia adalah Avana yang memiliki berbagai fitur untuk membantu penjualan untuk menghindari kesulitan berjualan melalui media sosial. Kesulitan  yang ditemukan mengunggah foto dengan kualitas tinggi, membalas pesan pelanggan satu per satu, berinteraksi dengan pelanggan, mengonfirmasi pembayaran dan follow up status pembelian, dan kinerja lainnya. Head of Marketing Avana Queenseca menjelaskan perkembangan media sosial sangat cepat di era digital. Para penjual dapat mengubah media sosial menjadi alat transaksi yang dapat meningkatkan penjualan lebih banyak daripada hanya digunakan sebagai alat promosi saja.  Avana mencatat lebih dari 130 juta pelaku usaha di Indonesia telah memaksimalkan Facebook dan sebanyak 80 juta merek sudah mengoptimalkan bisnisnya di Instagram. Queenseca mengatakan Avana merupakan SaaS (Software as a Service) yang akan membantu pengusaha untuk menjalankan bisnis mereka di berbagai saluran, seperti Website dan media sosial Facebook, Instagram, WhatsApp, Line, hingga Telegram. Avana memiliki berbagai fitur seperti manajemen produk dan stok, kelola database pelanggan, laporan penjualan, pembuatan toko online, integrasi pesanan media sosial, hingga fitur manajemen reseller. "Brand tidak lagi kewalahan dan membatasi diri hanya pada sosial media karena limitasi sumber daya dan waktu, karena semuanya sudah bisa diurus melalui satu pintu" tutur Queenseca. Sejak 2016, Avana telah digunakan lebih dari 80 ribu merek di Asia Pasifik agar dapat memasarkan produk penjual secara global. (jnp/bir)[Gambas:Video CNN]

Penjualan Produk Lewat Medsos Tembus Rp344 Triliun di AS
Jakarta, CNN Indonesia --

Penjualan produk melalui media sosial atau social commerce, seperti Facebook, Instagram, Line, dan WhatApp, menembus US$23,3 miliar setara Rp344,6 triliun (kurs Rp14.793 per dolar AS).

Angka itu naik 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan terjadi di tengah pandemi virus corona (covid-19) ditopang oleh banyaknya pelaku usaha yang mulai merambah fitur penjualan lewat media sosial.

Namun demikian, angka itu lebih rendah dari proyeksi eMarketeer yang sebelumnya menyebutkan angka penjualan produk social commerce sekitar US$21,3 miliar.

Di sisi lain,  eMarketeer mengungkap penjualan social commerce akan terus tumbuh ketika jejaring sosial memperkenalkan fitur-fitur baru dan pembelian sosial mencapai massa kritis.

Terutama, Facebook meluncurkan fitur Shops selama pandemi, sebuah fitur yang memungkinkan bisnis di Facebook dan Instagram untuk menambahkan tab belanja ke halaman mereka.

Pinterest, Snapchat dan TikTok juga telah merilis produk iklan baru dan fitur belanja dalam satu tahun terakhir yang semakin mengintegrasikan e-commerce ke dalam platform ini.

Dilansir dari Business Insider, pertumbuhan penjualan social commerce juga akan dibantu oleh bisnis kecil yang belum bergantung pada e-commerce sebelum pandemi.

Alih-alih menggunakan platform e-commerce, saat ini bisnis kecil sedang berusaha untuk menjual produk lewat social commerce demi meningkatkan penjualan.

Social commerce lebih mudah digunakan sebab menjual produk melalui media sosial yang telah lama digunakan daripada platform e-commerce.

Di sisi lain, survei baru oleh Parcel Perform dan iPrice Group pada 2019 lalu menunjukkan pengiriman menjadi tantangan terbesar dalam penjualan digital. 

Tantangan tersebut hadir di tengah pertumbuhan e-commerce Indonesia adalah yang paling kuat di Asia Tenggara, yaitu sebesar 10,3 persen selama lima tahun terakhir

Sebanyak 36 persen konsumen menyatakan ketidakpuasan dalam pengalaman pengiriman e-commerce mereka. Survei dilakukan dengan melibatkan lebih dari 80 ribu  konsumen di Malaysia, Singapura, Indonesia, Vietnam, dan Thailand.

Lebih dari 90 persen pelanggan mengajukan keluhan dan tanggapan negatif terkait keterlambatan pengiriman dan kurangnya komunikasi tentang status pengiriman.

Salah satu contoh platform social commerce yang bisa digunakan di Indonesia adalah Avana yang memiliki berbagai fitur untuk membantu penjualan untuk menghindari kesulitan berjualan melalui media sosial.

Kesulitan  yang ditemukan mengunggah foto dengan kualitas tinggi, membalas pesan pelanggan satu per satu, berinteraksi dengan pelanggan, mengonfirmasi pembayaran dan follow up status pembelian, dan kinerja lainnya.

Head of Marketing Avana Queenseca menjelaskan perkembangan media sosial sangat cepat di era digital. Para penjual dapat mengubah media sosial menjadi alat transaksi yang dapat meningkatkan penjualan lebih banyak daripada hanya digunakan sebagai alat promosi saja. 

Avana mencatat lebih dari 130 juta pelaku usaha di Indonesia telah memaksimalkan Facebook dan sebanyak 80 juta merek sudah mengoptimalkan bisnisnya di Instagram.

Queenseca mengatakan Avana merupakan SaaS (Software as a Service) yang akan membantu pengusaha untuk menjalankan bisnis mereka di berbagai saluran, seperti Website dan media sosial Facebook, Instagram, WhatsApp, Line, hingga Telegram.

Avana memiliki berbagai fitur seperti manajemen produk dan stok, kelola database pelanggan, laporan penjualan, pembuatan toko online, integrasi pesanan media sosial, hingga fitur manajemen reseller.

"Brand tidak lagi kewalahan dan membatasi diri hanya pada sosial media karena limitasi sumber daya dan waktu, karena semuanya sudah bisa diurus melalui satu pintu" tutur Queenseca.

Sejak 2016, Avana telah digunakan lebih dari 80 ribu merek di Asia Pasifik agar dapat memasarkan produk penjual secara global.

(jnp/bir)

[Gambas:Video CNN]