Peran Orang Tua yang Bekerja untuk Mencegah Krisis Identitas Pada Anak - PKM Gagasan Futuristik

Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Pada saat ini banyak anak yang mengalami krisis identitas akibat dari ketidakhadiran orang tua dalam perkembangan anak. Pasalnya kehadiran orang tua di setiap perkembangan anak sangat dibutuhkan untuk membentuk perilaku dan peneguhan identitas di tahap selanjutnya. Penyebab utama gagalnya dalam pencarian jati dirinya pada anak berasal dari ketidakharmonisan hubungan antara orang tua, perceraian orang tua, dan penekanan orang tua terhadap anak. Ketika anak gagal dalam pencarian jati diri ia tidak dapat membuat keputusan serta dilanda kebingungan. Krisis identitas yang berkepanjangan selama masa remaja juga dapat menyebabkan remaja menjadi kehilangan arah. Dampaknya mereka akan memiliki kepribadian yang lemah dan pengetahuan yang kurang menimbulkan pandangan yang keliru akibatnya dapat membahayakan diri sendiri.

Seperti fenomena yang terjadi di Blitar, Jawa Timur. Seorang remaja SMP berinisal EP tewas bunuh diri. Diduga remaja SMP tersebut tidak diterima di SMA 1 Blitar karena sistem zonasi yang diterapkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Selain itu, Mendikbud menduga ada beberapa masalah yang menyertai seperti siswa tersebut tidak satu atap dengan orang tuanya. Oleh karena itu, untuk mencegah kejadian yang sama perlu adanya tanggung jawab dari sekolah. Lalu orang tua memiliki peran yang sama yaitu, mendidik dan membimbing anak-anaknya dengan baik dan benar serta, tidak mengambil keputusan sendiri untuk masa depannya. Maka dari itu, "Peran orang tua itu sangat penting. Pembinaan di rumah itu sangat penting, bahkan peran lingkungan, yakni peran alumni juga penting" (Staf Ahli Menteri Bidang Pendidikan Karakter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2019). Di samping itu, untuk mencegah terjadinya kasus kekerasan terhadap guru di lingkungan sekolah, seorang guru juga harus menunjukkan kewibawaannya agar tidak dianggap remeh oleh siswanya.

Adapula pesan yang disampaikan, "Untuk siswa SMP dan SD, saya mohon bimbingan dari sekolah dan dari orang tua harus betul-betul berjalan dengan baik. Jangan biarkan anak mengambil keputusan sendiri tanpa bimbingan, arahan dari sekolah dan orang tua" (Mendikbud, 2018). Salah satu hal yang perlu digaris bawahi dari fenomena tersebut adalah bagaimana orang tua bisa berperan menjadi teman baik untuk anak, bisa mendengar keluh kesah anak, dan bisa diajak berdiskusi. Selain itu, pola asuh orang tua juga sangat berpengaruh terhadap anak. Menurut Baumrind (dalam Papalia, Olds & Feldman, 2009), tipe pola asuh terbagi menjadi 3 yaitu otoriter, permisif dan otoritatif. Agar mencegah terjadinya krisis identitas pada anak, orang tua perlu menerapkan pola asuh otoritatif. Menurut Santrock (dalam Sumargi & Kristi, 2017), orang tua yang menerapkan pengasuhan otoritatif cenderung membuka jalur komunikasi dua arah dengan anak. Gaya pengasuhan ini berdampak pada kemandirian anak, rasa percaya diri, kontrol diri dan relasi sosial yang baik. Oleh karena remaja memiliki kebutuhan kemandirian (otonomi) yang besar dan pada saat yang sama, remaja perlu belajar untuk mengendalikan emosi dan perilakunya melalui batasan atau aturan, maka pengasuhan otoritatif yang bersifat hangat namun tegas dipandang paling ideal untuk diterapkan pada remaja (Santrock, 2012; Sumargi & Kristi, 2017). Itulah beberapa solusi yang pernah diterapkan untuk memperbaiki fenomena yang telah terjadi agar mencegah anak mengalami hal serupa yaitu krisis identitas.