Percaya Kunci Keselamatan

Ada sebuah pepatah yang kita kenal, bahkan mungkin sering kita ucapkan: “tak kenal, maka tak sayang”. Pepatah ini pada dasarnya merupakan sebuah penggambaran akan sebuah pola umum pada hubungan interaksi yang akan menciptakan suatu ikatan emosianal, spritual, bahkan sampai pada tingkatan yang paling kompleks dan tertinggi yaitu ikatan iman atau percaya pada diri dan jiwa manusia. Perjumpaan seorang pria dan wanita sebelum membentuk kehidupan keluarga, diawali rasa tertarik di antara keduanya yang tampak secara lahiriah pada diri pria atau wanita, seperti: cantik, manis, keibuan, ganteng, cakep, yang mengawali bangunan relasi antara kedua belah pihak dan berlanjut pada masa pacaran. Perasaan emosional itu terus terjalin dalam kehidupan waktu-waktu selanjutnya. Rasa ingin tahu antara kedua bela pihak terus meningkat dan sampailah pada sebuah titik yakni jatuh cinta dan puncaknya saling percaya, saling menyerahkan diri dan mengikrarkan cinta dan kesetiaan satu sama lain dalam sebuah perkawinan suci. Saling percaya menjadi basis dalam membangun kehidupan berkeluarga. Kepercayaan menjadi kata kunci dalam segala hal. Seseorang diberikan amanat untuk mengemban sebuah tugas dan tanggung jawab karena dipercaya bahwa yang diserahi tugas dan tanggung jawab akan mampu melaksanakannya dengan baik dan sukses. Dan sebaliknya kehilangan kepercayaan akan menjadi sebuah ancaman dan bahkan sebuah kejatuhan seseorang karena apapun yang ada padanya akan diambil semuanya. Dalam Yes 22:19 sangat tegas dikatakan bahwa seseorang yang tidak lagi dipercaya akan dicampakkan dari jabatan yang sedang diemban, “Aku akan melemparkan engkau dari jabatanmu, dan dari pangkatmu engkau akan dijatuhkan.”  Kehilangan kepercayaan dari orang yang memberikan amanat tentu saja mempunyai banyak alasan, antara lain karena melakukan pelanggaran-pelanggaran, tidak menepati janji, tidak setia dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab. Jawaban Petrus atas pertanyaan Yesus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”. Jawaban ini bukan sebuah pernyataan kebetulan yang dilontarkan oleh Petrus kepada Yesus, tetapi berdasarkan atas sebuah keyakinan mendalam bahwa Yesus adalah Mesias, seorang yang diurapi Allah.  Yesus sangat tahu tentang apa yang dikatakan Petrus atas diri-Nya bukan sebuah pernyataan “pemanis bibir” tetapi sebuah ungkapan mendalam dari hati Petrus tentang Yesus bahwa Yesus adalah utusan Allah yang diurapi Allah sendiri.  Yesus tahu bahwa Petrus benar-benar percaya akan kehadiran diri-Nya sebagai Mesias Anak Allah yang hidup.  Keyakinan Yesus kepada Petrus menjadi puncak penyerahan mandat dan mengangkat Petrus menjadi pemegang kunci kerajaan surga. “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci kerajaan surga. Apa, yang kau ikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.”  Penyerahan mandat dan pengangkatan Petrus menjadi pemegang kunci kerajaan surga didasari atas sebuah kepercayaan dari Yesus bahwa Petrus mampu mengemban misi untuk meneruskan karya-Nya di atas muka bumi.  Kepercayaan Petrus terus menjadi teladan bagi kita agar dalam kesulitan apapun yang kita alami saat ini seperti resesi ekonomi karena pandemi Covid-19 yang masih berlanjut atau masalah apapun yang kita hadapi dalam hidup, kita harus tetap percaya kepada Yesus bahwa pasti akan ada jalan keluar yang terbaik dan kita terus berusaha agar dunia diselamatkan. Semoga. Amin.

Percaya Kunci Keselamatan

Ada sebuah pepatah yang kita kenal, bahkan mungkin sering kita ucapkan: “tak kenal, maka tak sayang”. Pepatah ini pada dasarnya merupakan sebuah penggambaran akan sebuah pola umum pada hubungan interaksi yang akan menciptakan suatu ikatan emosianal, spritual, bahkan sampai pada tingkatan yang paling kompleks dan tertinggi yaitu ikatan iman atau percaya pada diri dan jiwa manusia.

Perjumpaan seorang pria dan wanita sebelum membentuk kehidupan keluarga, diawali rasa tertarik di antara keduanya yang tampak secara lahiriah pada diri pria atau wanita, seperti: cantik, manis, keibuan, ganteng, cakep, yang mengawali bangunan relasi antara kedua belah pihak dan berlanjut pada masa pacaran. Perasaan emosional itu terus terjalin dalam kehidupan waktu-waktu selanjutnya. Rasa ingin tahu antara kedua bela pihak terus meningkat dan sampailah pada sebuah titik yakni jatuh cinta dan puncaknya saling percaya, saling menyerahkan diri dan mengikrarkan cinta dan kesetiaan satu sama lain dalam sebuah perkawinan suci.

Saling percaya menjadi basis dalam membangun kehidupan berkeluarga. Kepercayaan menjadi kata kunci dalam segala hal. Seseorang diberikan amanat untuk mengemban sebuah tugas dan tanggung jawab karena dipercaya bahwa yang diserahi tugas dan tanggung jawab akan mampu melaksanakannya dengan baik dan sukses. Dan sebaliknya kehilangan kepercayaan akan menjadi sebuah ancaman dan bahkan sebuah kejatuhan seseorang karena apapun yang ada padanya akan diambil semuanya.

Dalam Yes 22:19 sangat tegas dikatakan bahwa seseorang yang tidak lagi dipercaya akan dicampakkan dari jabatan yang sedang diemban, “Aku akan melemparkan engkau dari jabatanmu, dan dari pangkatmu engkau akan dijatuhkan.” 

Kehilangan kepercayaan dari orang yang memberikan amanat tentu saja mempunyai banyak alasan, antara lain karena melakukan pelanggaran-pelanggaran, tidak menepati janji, tidak setia dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab.

Jawaban Petrus atas pertanyaan Yesus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”. Jawaban ini bukan sebuah pernyataan kebetulan yang dilontarkan oleh Petrus kepada Yesus, tetapi berdasarkan atas sebuah keyakinan mendalam bahwa Yesus adalah Mesias, seorang yang diurapi Allah. 

Yesus sangat tahu tentang apa yang dikatakan Petrus atas diri-Nya bukan sebuah pernyataan “pemanis bibir” tetapi sebuah ungkapan mendalam dari hati Petrus tentang Yesus bahwa Yesus adalah utusan Allah yang diurapi Allah sendiri.  Yesus tahu bahwa Petrus benar-benar percaya akan kehadiran diri-Nya sebagai Mesias Anak Allah yang hidup. 

Keyakinan Yesus kepada Petrus menjadi puncak penyerahan mandat dan mengangkat Petrus menjadi pemegang kunci kerajaan surga. “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci kerajaan surga. Apa, yang kau ikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” 

Penyerahan mandat dan pengangkatan Petrus menjadi pemegang kunci kerajaan surga didasari atas sebuah kepercayaan dari Yesus bahwa Petrus mampu mengemban misi untuk meneruskan karya-Nya di atas muka bumi. 

Kepercayaan Petrus terus menjadi teladan bagi kita agar dalam kesulitan apapun yang kita alami saat ini seperti resesi ekonomi karena pandemi Covid-19 yang masih berlanjut atau masalah apapun yang kita hadapi dalam hidup, kita harus tetap percaya kepada Yesus bahwa pasti akan ada jalan keluar yang terbaik dan kita terus berusaha agar dunia diselamatkan. Semoga. Amin.