Pidato Powell Tak Surutkan Kecemasan Resesi, Dow Dibuka Merah

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat (AS) kembali ambruk pada pembukaan perdagangan Rabu (22/6/2022), padahal mayoritas indeks sempat menguat kemarin. Dow Jones kehilangan 265 poin (-0,9%) di pembukaan dan selang 30 menit agak surut menjadi 206,63 poin (-0,68%) ke 30.323,62. Sementara itu, S&P 500 tertekan 16,74 poin (-0,44%) ke 3.748,05 dan Nasdaq surut 2,18 poin (-0,02%) ke 11.067,12. Pada Selasa (21/6), Dow Jones melesat 641 poin sedangkan S&P 500 terapresiasi 2,45% dan menjadi hari terbaiknya sejak 4 Mei. Sementara, Nasdaq lompat 2,51%, setelah mengalami koreksi selama 10 pekan. Tumbuhnya kekhawatiran bahwa ekonomi akan memasuki jurang ekonomi telah membebani pasar saham. Pekan lalu, bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) mengumumkan kenaikan suku bunga sebesar 75 basis poin (bp) dan menjadi kenaikan terbesar sejak 1994. Hal tersebut dilakukan untuk meredam inflasi yang telah melonjak ke posisi tertinggi sejak 40 tahun. Ketua The Fed Jerome Powell di hadapan kongres hari ini menyatakan pihaknya telah mengambil kebijakan yang diperlukan untuk menekan inflasi. namun, bank investasi Goldman Sachs yakin bahwa potensi resesi semakin mungkin terjadi di ekonomi AS. Alasan utamanya yaitu jalur pertumbuhan ekonomi lebih rendah dan mereka semakin khawatir bahwa The Fed akan terdorong untuk merespons inflasi jika harga energi naik lebih jauh. Bahkan, jika aktivitas ekonomi melambat tajam. Saham energi anjlok setelah harga minyak turun di tengah kekhawatiran bahwa pelemahan ekonomi global akan memangkas permintaan. Harga kontrak berjangka Brent anjlok 6% ke US$ 107,78/barel sementara West Texas Intermediate (WTI) drop 6,5% menjadi US$ 102,38/barel. Citigroup bertaruh bahwa peluang dunia mengalami resesi mencapai 50%, mengacu pada data bahwa konsumen mulai mengurangi belanja. "Pengalaman di masa lalu mengindikasikan bahwa disinflasi sering berujung pada tekanan pertumbuhan dan kami melihat agregat probabilitas resesi kini mendekati 50%," tulis perseroan, dikutip CNBC International. TIM RISET CNBC INDONESIA [Gambas:Video CNBC] Artikel Selanjutnya Dow Futures Tertahan Pasca Pengumuman Hasil Rapat The Fed (ags/ags) Adblock test (Why?)

Pidato Powell Tak Surutkan Kecemasan Resesi, Dow Dibuka Merah
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat (AS) kembali ambruk pada pembukaan perdagangan Rabu (22/6/2022), padahal mayoritas indeks sempat menguat kemarin. Dow Jones kehilangan 265 poin (-0,9%) di pembukaan dan selang 30 menit agak surut menjadi 206,63 poin (-0,68%) ke 30.323,62. Sementara itu, S&P 500 tertekan 16,74 poin (-0,44%) ke 3.748,05 dan Nasdaq surut 2,18 poin (-0,02%) ke 11.067,12. Pada Selasa (21/6), Dow Jones melesat 641 poin sedangkan S&P 500 terapresiasi 2,45% dan menjadi hari terbaiknya sejak 4 Mei. Sementara, Nasdaq lompat 2,51%, setelah mengalami koreksi selama 10 pekan. Tumbuhnya kekhawatiran bahwa ekonomi akan memasuki jurang ekonomi telah membebani pasar saham. Pekan lalu, bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) mengumumkan kenaikan suku bunga sebesar 75 basis poin (bp) dan menjadi kenaikan terbesar sejak 1994. Hal tersebut dilakukan untuk meredam inflasi yang telah melonjak ke posisi tertinggi sejak 40 tahun. Ketua The Fed Jerome Powell di hadapan kongres hari ini menyatakan pihaknya telah mengambil kebijakan yang diperlukan untuk menekan inflasi. namun, bank investasi Goldman Sachs yakin bahwa potensi resesi semakin mungkin terjadi di ekonomi AS. Alasan utamanya yaitu jalur pertumbuhan ekonomi lebih rendah dan mereka semakin khawatir bahwa The Fed akan terdorong untuk merespons inflasi jika harga energi naik lebih jauh. Bahkan, jika aktivitas ekonomi melambat tajam. Saham energi anjlok setelah harga minyak turun di tengah kekhawatiran bahwa pelemahan ekonomi global akan memangkas permintaan. Harga kontrak berjangka Brent anjlok 6% ke US$ 107,78/barel sementara West Texas Intermediate (WTI) drop 6,5% menjadi US$ 102,38/barel. Citigroup bertaruh bahwa peluang dunia mengalami resesi mencapai 50%, mengacu pada data bahwa konsumen mulai mengurangi belanja. "Pengalaman di masa lalu mengindikasikan bahwa disinflasi sering berujung pada tekanan pertumbuhan dan kami melihat agregat probabilitas resesi kini mendekati 50%," tulis perseroan, dikutip CNBC International. TIM RISET CNBC INDONESIA [Gambas:Video CNBC] Artikel Selanjutnya Dow Futures Tertahan Pasca Pengumuman Hasil Rapat The Fed (ags/ags) Adblock test (Why?)