Saham Ritel Ikut Terkena Aksi Jual, Dow Futures Melemah

Jakarta, CNBC Indonesia - Kontrak berjangka (futures) indeks bursa saham Amerika Serikat (AS) tertekan pada perdagangan Rabu (24/11/2021), di tengah kenaikan inflasi yang memicu aksi jual saham teknologi dan kini juga menerpa saham emiten peritel. Kontrak futures indeks Dow Jones Industrial Average turun 92 poin (-0,3%) dari nilai wajarnya. Kontrak serupa indeks S&P 500 dan Nasdaq terjerembab 0,2%. Saham Tesla di sesi pra-pembukaan melemah lagi setelah Elon Musk menjual kepemilikannya senilai US$ 1 miliar. Saham peritel tertekan menyusul rilis kinerja keuangan mereka per kuartal III-2021 yang buruk. Saham Gap anjlok 21% di sesi pra-pembukaan setelah nilai laba bersihnya ternyata nyaris separuh dari ekspektasi pasar. Kenaikan kasus Covid-19 di Eropa juga memicu kecemasan investor, terutama karena pemerintah Jerman menjajaki kemungkinan memberlakukan kembali pembatasan aktivitas masyarakat (lockdown). Data ekonomi yang diperhatikan adalah klaim tunjangan pengangguran mingguan, rilis Produk Domestik Bruto (PDB), dan inflasi acuan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yakni personal consumer index (PCE). The Fed juga akan merilis risalah rapat bulan lalu mereka. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik menjadi 1,65% hari ini, dari posisi pekan lalu 1,55%. Kenaikan imbal hasil mengindikasikan penurunan harga di pasar karena aksi jual. Inflasi tinggi membuat return obligasi sekarang menjadi tergerus. Secara bersamaan, biaya pendanaan (cost of fund) emiten obligasi-terutama di sektor teknologi yang rutin menerbitkan obligasi-membengkak karena pasar meminta kupon yang lebih tinggi untuk seri surat utang baru sehingga menggerus profitabilitas mereka. Akibatnya, kemarin indeks Nasdaq yang berisi saham unggulan teknologi anjlok 1,8%. Padahal, indeks Dow Jones masih menguat sementara indeks S&P 500 melemah tipis. Bursa AS akan ditutup pada Kamis untuk libur Thanksgiving dan sesi perdagangannya dipangkas pada Jumat. "Ini jelas kisah mengenai rotasi... dengan renominasi [Jerome] Powell pasar sekarang menilai ini sebagai kisah yang dibaca ulang, di mana risiko dan kekhawatiran terkait kenaikan infeksi Covid diabaikan ," tutur Rob Haworth, perencana investasi senior Bank Wealth Management, seperti dikutip CNBC International. TIM RISET CNBC INDONESIA [Gambas:Video CNBC] (ags/ags) Adblock test (Why?)

Saham Ritel Ikut Terkena Aksi Jual, Dow Futures Melemah
Jakarta, CNBC Indonesia - Kontrak berjangka (futures) indeks bursa saham Amerika Serikat (AS) tertekan pada perdagangan Rabu (24/11/2021), di tengah kenaikan inflasi yang memicu aksi jual saham teknologi dan kini juga menerpa saham emiten peritel. Kontrak futures indeks Dow Jones Industrial Average turun 92 poin (-0,3%) dari nilai wajarnya. Kontrak serupa indeks S&P 500 dan Nasdaq terjerembab 0,2%. Saham Tesla di sesi pra-pembukaan melemah lagi setelah Elon Musk menjual kepemilikannya senilai US$ 1 miliar. Saham peritel tertekan menyusul rilis kinerja keuangan mereka per kuartal III-2021 yang buruk. Saham Gap anjlok 21% di sesi pra-pembukaan setelah nilai laba bersihnya ternyata nyaris separuh dari ekspektasi pasar. Kenaikan kasus Covid-19 di Eropa juga memicu kecemasan investor, terutama karena pemerintah Jerman menjajaki kemungkinan memberlakukan kembali pembatasan aktivitas masyarakat (lockdown). Data ekonomi yang diperhatikan adalah klaim tunjangan pengangguran mingguan, rilis Produk Domestik Bruto (PDB), dan inflasi acuan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yakni personal consumer index (PCE). The Fed juga akan merilis risalah rapat bulan lalu mereka. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik menjadi 1,65% hari ini, dari posisi pekan lalu 1,55%. Kenaikan imbal hasil mengindikasikan penurunan harga di pasar karena aksi jual. Inflasi tinggi membuat return obligasi sekarang menjadi tergerus. Secara bersamaan, biaya pendanaan (cost of fund) emiten obligasi-terutama di sektor teknologi yang rutin menerbitkan obligasi-membengkak karena pasar meminta kupon yang lebih tinggi untuk seri surat utang baru sehingga menggerus profitabilitas mereka. Akibatnya, kemarin indeks Nasdaq yang berisi saham unggulan teknologi anjlok 1,8%. Padahal, indeks Dow Jones masih menguat sementara indeks S&P 500 melemah tipis. Bursa AS akan ditutup pada Kamis untuk libur Thanksgiving dan sesi perdagangannya dipangkas pada Jumat. "Ini jelas kisah mengenai rotasi... dengan renominasi [Jerome] Powell pasar sekarang menilai ini sebagai kisah yang dibaca ulang, di mana risiko dan kekhawatiran terkait kenaikan infeksi Covid diabaikan ," tutur Rob Haworth, perencana investasi senior Bank Wealth Management, seperti dikutip CNBC International. TIM RISET CNBC INDONESIA [Gambas:Video CNBC] (ags/ags) Adblock test (Why?)